Kolom

GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?

GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
Para pengunjung memadati GIIAS 2025 yang digelar di ICE BSD. [Antara/Muhammad Iqbal]

Ada satu pemandangan yang selalu menarik ketika pameran otomotif seperti GIIAS berlangsung: mobil baru dipajang mengilap, antrean pembeli mengular, sejumlah model bahkan langsung mendapat banyak peminat. Dari pemandangan semacam itu, kita sering tergoda menarik kesimpulan bahwa ekonomi baik-baik saja. Buktinya, orang masih mampu membeli mobil.

Tapi, tunggu sebentar. Kalau ada satu kelompok masyarakat yang mampu membawa pulang mobil baru dengan mudah, sementara kelompok lain sedang sibuk menghitung apakah penghasilan bulan ini cukup untuk membayar kebutuhan pokok, apa sebenarnya yang sedang kita lihat? Kemakmuran yang merata atau ketimpangan daya beli?

Ini dua hal yang berbeda. Penjualan mobil, terutama kendaraan dengan harga ratusan juta rupiah, memang menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang memiliki daya beli kuat. Bahkan ketika kondisi ekonomi sedang penuh tekanan, konsumsi kelompok berpendapatan tinggi bisa tetap berjalan. Mereka memiliki tabungan, aset, akses kredit, atau sumber pendapatan yang membuat kemampuan konsumsinya jauh lebih tahan terhadap guncangan.

Masalahnya, keberadaan kelompok tersebut tidak otomatis menggambarkan kondisi seluruh masyarakat. Bayangkan sebuah ruangan yang diisi sepuluh orang. Sembilan orang memiliki uang Rp10.000, sementara satu orang memiliki Rp1 juta. Rata-ratanya terlihat cukup bagus. Tetapi ketika sembilan orang tersebut mengatakan mereka kesulitan membeli makan, mengatakan “ekonomi baik-baik saja karena rata-rata uang di ruangan ini tinggi” jelas menyesatkan.

Inilah pentingnya melihat distribusi, bukan hanya angka agregat. Indonesia bisa mencatat pertumbuhan ekonomi positif, tetapi pertumbuhan tersebut tetap menyisakan pertanyaan: siapa yang menikmati pertumbuhan itu dan seberapa besar bagian yang mereka dapatkan?

Ramainya pameran otomotif justru menarik karena dapat memperlihatkan bahwa konsumsi kelas atas tetap memiliki ruang. Namun, pada saat yang sama, masyarakat berpendapatan rendah dan sebagian kelas menengah menghadapi persoalan yang berbeda: harga kebutuhan, biaya pendidikan, perumahan, transportasi, cicilan, hingga ketidakpastian pekerjaan.

Jadi, ketika seseorang berkata, “Ekonomi kan baik-baik saja. Lihat, mobil baru tetap laku,” respons yang lebih tepat mungkin adalah: ya, sebagian orang memang masih sangat mampu membeli mobil. Tetapi itu tidak menjawab bagaimana kondisi jutaan orang lainnya. Bahkan, secara paradoks, fenomena tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan ketimpangan.

Sebab persoalannya bukan orang kaya membeli mobil. Orang yang memiliki uang tentu berhak membelanjakan uangnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika kemampuan ekonomi antara kelompok masyarakat menjadi semakin berjauhan, sementara indikator kesejahteraan yang digunakan untuk membaca kondisi nasional terlalu sering disederhanakan menjadi satu angka.

Ketimpangan juga tidak selalu terlihat dalam bentuk ekstrem seperti seseorang memiliki pesawat pribadi sementara tetangganya tidak punya makanan. Ia bisa muncul dalam bentuk yang jauh lebih sehari-hari. Satu keluarga bisa mengganti mobil setiap beberapa tahun. Keluarga lain harus menunda mengganti sepeda motor meskipun kendaraannya sudah sering rusak. Satu orang bisa membayar uang muka rumah dari tabungan. Orang lain bahkan kesulitan mengumpulkan uang untuk biaya kontrakan bulan berikutnya.

Keduanya hidup di negara yang sama, menghadapi harga yang sama, tetapi memiliki pengalaman ekonomi yang sama sekali berbeda. Karena itu, membaca kesehatan ekonomi hanya dari pusat perbelanjaan yang ramai, restoran penuh, konser sold out, atau mobil yang laris adalah cara melihat ekonomi melalui lubang kunci.

Kita perlu melihat indikator lain: pendapatan riil, upah, kualitas pekerjaan, pengangguran, kemiskinan, konsumsi rumah tangga, kemampuan menabung, kepemilikan aset, dan terutama distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi penting. Tetapi pertumbuhan bukan tujuan akhir jika hasilnya hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Dan di sinilah ironi pameran otomotif menjadi menarik. Mobil-mobil yang laris bukan bukti bahwa semua orang sedang baik-baik saja. Bisa jadi, ia justru menunjukkan bahwa sebagian orang masih punya uang yang sangat banyak untuk dibelanjakan ketika sebagian lainnya sedang berjuang keras mempertahankan standar hidupnya. Jadi, kalau ada yang menggunakan ramainya GIIAS sebagai bukti ekonomi sedang baik-baik saja, mungkin jawabannya bukan “salah”.

Tetapi juga belum tentu benar. Sebab ekonomi yang tumbuh tidak selalu berarti kesejahteraan yang merata. Dan kemewahan yang terlihat di satu sudut masyarakat tidak boleh digunakan untuk menutupi kesulitan yang terjadi di sudut lainnya. Bukti ekonomi baik-baik saja? Belum tentu. Bukti bahwa daya beli masyarakat sangat timpang? Nah, itu pertanyaan yang jauh lebih menarik.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda