Ulasan

We Free the Stars: Perjalanan Terakhir Mengembalikan Sihir ke Arawiya

We Free the Stars: Perjalanan Terakhir Mengembalikan Sihir ke Arawiya
We Free the Stars (Dok.Pribadi/Oktavia)

Setelah perjalanan panjang dalam We Hunt the Flame, kisah Zafira dan Nasir berlanjut melalui We Free the Stars, novel kedua sekaligus penutup duologi karya Hafsah Faizal. Jika buku pertama membawa pembaca memasuki dunia Arawiya dan memperkenalkan hutan terkutuk Sharr, sekuelnya bergerak lebih jauh dengan konflik yang semakin besar: mengembalikan sihir ke tanah Arawiya sekaligus menghadapi ancaman Singa Malam.

Dengan ketebalan 752 halaman, We Free the Stars memberikan ruang yang cukup besar untuk menyelesaikan berbagai konflik yang dibangun sejak buku pertama. Sebagai penutup duologi, novel ini tidak hanya berbicara tentang perang melawan Singa Malam, tetapi juga tentang pengorbanan, keberanian, keluarga, persahabatan, dan cinta.

Sinopsis Novel

Pertempuran memang telah berakhir dan hutan terkutuk telah musnah. Namun, kemenangan tersebut ternyata belum menjadi akhir dari persoalan. Zafira dan Nasir masih memiliki tugas yang harus diselesaikan. Mereka harus mengembalikan jantung Para Saudari Kuno ke menara di setiap khilafah agar sihir dapat kembali ke Arawiya. Persoalannya, mereka kekurangan sekutu, sementara ketakutan terhadap kembalinya Singa Malam mulai menyebar di seluruh kesultanan.

Konflik kemudian tidak hanya berlangsung di antara para tokoh dengan musuh dari luar. Nasir juga harus berhadapan dengan kekuatan yang mengalir dalam darahnya sendiri. Ia harus belajar mengendalikan sihir tersebut agar dapat menggunakannya sebagai senjata sekaligus perlindungan. Kemampuan itu menjadi semakin penting karena ancaman tidak hanya datang dari Singa Malam, tetapi juga dari ayahnya sendiri.

Di sisi lain, Zafira menghadapi bentuk kegelapan yang berbeda. Setelah semua pengalaman yang dilaluinya, ia harus berhadapan dengan suara dan kegelapan yang perlahan mengganggu pikirannya. Perjuangan Zafira menjadi konflik internal yang tidak kalah penting dibandingkan pertempuran fisik. Ia harus mengetahui batas antara kekuatan yang dapat dikendalikan dan sesuatu yang justru dapat menghancurkan dirinya.

Salah satu perubahan menarik dalam buku kedua adalah cakupan perjalanan yang semakin luas. Jika sebagian besar cerita dalam We Hunt the Flame berlangsung di Sharr, We Free the Stars membawa karakter-karakternya menjelajahi berbagai wilayah Arawiya. Pembaca akhirnya mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai khilafah-khilafah yang sebelumnya hanya diperkenalkan secara terbatas.

Kelebihan dan Kekurangan

World-building dalam sekuel ini memang tidak sebanyak buku pertama karena fondasi dunia Arawiya sudah dibangun sebelumnya. Fokus cerita lebih banyak bergeser kepada aksi, perkembangan karakter, dan penyelesaian konflik. Namun, kesempatan untuk melihat kehidupan dan karakteristik berbagai wilayah membuat Arawiya terasa lebih luas dan beragam.

Dari sisi penulisan, Hafsah Faizal tetap mempertahankan bahasa yang puitis dan atmosferis. Deskripsi, metafora, serta dialog menjadi bagian penting dalam membangun suasana. Beberapa bagian bahkan terasa begitu kuat secara bahasa sehingga pembaca dapat terdorong untuk berhenti sejenak dan menikmati kalimatnya, bukan hanya mengikuti perkembangan plot.

Romansa antara Zafira dan Nasir juga menjadi salah satu bagian yang banyak dinantikan. Hubungan mereka berkembang secara perlahan dari ketegangan dan ketidakpercayaan menuju perasaan yang semakin dalam. Pola enemies to lovers dan slow burn romance tersebut berjalan beriringan dengan konflik utama, sehingga hubungan keduanya tidak berdiri sendiri sebagai kisah cinta.

Meski demikian, perkembangan cerita pada bagian awal dapat terasa cukup lambat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan para karakter untuk memulihkan diri setelah konflik sebelumnya sekaligus mempersiapkan perjalanan berikutnya. Setelah memasuki bagian yang lebih intens, ritmenya kemudian meningkat dan membawa pembaca ke berbagai pertempuran serta pengungkapan penting.

Perjalanan Zafira dan Nasir bukan sekadar usaha menyelamatkan Arawiya. Mereka juga harus berhadapan dengan luka, ketakutan, serta kekuatan dalam diri sendiri. Untuk mengembalikan sihir ke tanah yang telah lama kehilangan cahayanya, mereka harus bersiap kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di situlah We Free the Stars menemukan inti ceritanya: bahwa tidak semua kemenangan datang tanpa harga.

Identitas Buku

  • Judul: We Free the Stars
  • Penulis: Hafsah Faizal
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia 
  • Tanggal Terbit : 30 Juli 2024
  • Tebal: 752 halaman
  • ISBN: 9786231340900
  • Genre: Fantasi, Young Adult, Romantis 
  • Seri: We Hunt the Flame #2

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda