Kolom
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Kita memasuki era di mana ada sebagian orang rela “beli teman” untuk menemani kehidupan mereka yang terasa sepi. Beli teman di sini artinya mengajak seseorang untuk menemaninya pergi ke suatu tempat, misalnya ke tempat wisata, warung makan atau kafe, atau hanya sekadar menemani jalan dan mengobrol saja. Perihal biaya semuanya sudah ditanggung oleh si “pembeli teman” tersebut.
Biasanya, seseorang yang terpaksa “beli teman” ini karena merasa hidupnya kesepian, tidak memiliki banyak teman atau sahabat yang cocok, atau bisa jadi pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan seperti sering dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Sehingga pada akhirnya ia menjadi sosok yang introvert atau menutup diri dari pergaulan. Ia begitu selektif memilih teman, dan ketika ada seseorang yang dianggap cocok, maka ia rela mengeluarkan sejumlah uang agar bisa ditemani jalan-jalan, makan, dan seterusnya.
Prinsip Saling Memberi dan Menerima
Jamaknya, dalam sebuah hubungan pertemanan, take and give atau saling memberi dan menerima adalah hal yang niscaya. Misalnya, hari ini kita yang nraktir teman, lalu giliran esok teman yang menraktir kita. Meski sejatinya tidak harus seperti itu juga, karena dalam ajaran agama, kita dianjurkan untuk banyak bersedekah, atau istilahnya: tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih mulia daripada meminta-minta.
Namun, agama juga mengajari kita untuk saling hadiah-menghadiahi kepada teman atau orang-orang terdekat kita. Artinya, saling memberi dan menerima itu merupakan hal yang sudah selayaknya kita amalkan, meski tidak ada perjanjian tertulis. Tentu sangat aneh, ketika ada dua orang yang sama-sama memiliki uang, tapi hanya salah satunya saja yang mengeluarkan uang ketika pergi bersama. Biasanya hubungan semacam ini tidak akan bertahan lama karena salah satu pihak merasa dirinya dimanfaatkan.
Akan tetapi, dalam istilah “beli teman”, prinsip saling memberi dan menerima itu sepertinya tidak berlaku. Artinya, ketika kita sedang membutuhkan seseorang untuk menemani kita, maka kita harus menyiapkan sejumlah uang untuk membiayai segala keperluan orang tersebut, misalnya memberikan fasilitas memadai selama bepergian bersama.
Jasa Teman Jalan
Selain fenomena “beli teman”, muncul fenomena lain yang sepintas memiliki kemiripan, yaitu jasa teman jalan. Di tengah gempuran arus teknologi dan beragam aplikasi yang memudahkan orang-orang melakukan beragam aktivitas, munculnya ‘jasa teman jalan’ ini tentu menarik, khususnya bagi mereka yang ingin bepergian ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi.
Jasa teman jalan menjadi alternatif yang sangat menarik karena memberikan sederet fasilitas, mulai dari menemani jalan-jalan di seputar kota tersebut, dan memberikan rekomendasi tempat-tempat menarik yang layak untuk dikunjungi. Soal tarif biasanya disesuaikan dengan berapa lama durasi menemani dan dan jumlah destinasi tempat yang dituju.
Tarif menemani jalan-jalan setengah hari tentu berbeda dengan tarif menemani seharian penuh. Perihal kendaraan yang digunakan, biasanya sudah disiapkan oleh pihak si pemilik jasa. Mau menggunakan roda dua atau roda empat. Semua tergantung dari kitanya, mau naik motor atau mobil.
Fenomena “jasa teman jalan” memang sangat unik dan menarik. Namun sayangnya ada sebagian orang yang menyalahgunakannya. Ada sebagian oknum nakal yang memanfaatkan momentum ini sebagai cara mudah untuk mencari uang dengan cara-cara cepat dan tidak halal.
Misalnya, selain membuka jasa teman jalan-jalan, ia juga membuka jasa terselubung, yakni menemani tidur. Atau dalam istilah lain prostitusi online tapi berkedok jasa teman jalan. Oknum-oknum inilah yang kemudian mencoreng nama baik para ‘jasa teman jalan’ yang benar-benar murni tanpa embel-embel ‘jualan diri’ secara terselubung.