Kolom
Font Buku Terlalu Kecil, Buku Ajar Dirombak: Gaji Guru Kapan Menyusul?
Pemerintah berencana memperbarui buku pelajaran untuk jenjang SD hingga SMA dengan memperhatikan kualitas tampilan dan bahan yang digunakan. Salah satu bagian yang menjadi sorotan adalah ukuran tulisan yang dinilai terlalu kecil sehingga akan diperbesar agar lebih mudah dibaca.
Perbaikan ini diharapkan dapat membuat buku pelajaran lebih nyaman digunakan sekaligus meningkatkan kualitas bahan ajar yang diterima siswa.
Namun, perhatian pemerintah terhadap ukuran font buku juga memunculkan ironi. Tulisan yang terlalu kecil segera diperbesar agar lebih mudah dibaca, sementara gaji guru yang juga masih kecil belum mendapat perhatian yang sama.
Kontradiksi inilah yang kemudian ramai disoroti di media sosial dan memunculkan pertanyaan tentang prioritas pemerintah dalam membenahi pendidikan.
Menurut saya, perdebatan ini juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat pendidikan secara lebih kritis. Mereka tidak lagi hanya bertanya apakah sebuah kebijakan terdengar baik, tetapi juga mempertanyakan apakah kebijakan tersebut menjawab masalah yang lebih mendesak.
Di Balik Buku yang Bagus, Ada Sosok Guru yang Mengajar
Saya tidak menganggap perbaikan buku pelajaran sebagai kebijakan yang buruk. Siswa memang berhak mendapatkan buku yang nyaman dibaca dan layak digunakan. Jika buku mudah rusak atau tulisannya terlalu kecil, hal itu jadi alasan valid untuk memperbaikinya.
Tetapi, ada hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan, yaitu buku tidak mengajar dengan sendirinya. Ada guru yang menjelaskan materi, membantu siswa yang kesulitan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi di kelas. Oleh karena itu, memperbaiki buku saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah pendidikan.
Perhatian terhadap buku seharusnya berjalan beriringan dengan perhatian terhadap guru. Jika pemerintah ingin memperkuat pendidikan, yang dibenahi bukan hanya fasilitas yang digunakan siswa, tetapi juga kondisi orang-orang yang setiap hari berada di ruang kelas dan menjalankan proses belajar.
Font Diperbesar, Jangan Sampai Masalah Kesejahteraan Guru Dianggap Kecil
Di sinilah sindiran dari media sosial menurut saya menjadi menarik. Banyak warganet membandingkan perhatian pemerintah terhadap ukuran font buku dengan persoalan gaji dan kesejahteraan guru.
Ukuran huruf dapat diperbesar melalui keputusan desain. Buku bisa dicetak ulang dengan bahan yang lebih baik. Tampilan bisa dibuat lebih menarik. Semua itu merupakan perubahan yang konkret dan hasilnya dapat langsung dilihat.
Sebaliknya, memperbaiki kesejahteraan guru membutuhkan kebijakan yang lebih panjang dan kompleks. Ada masalah pendapatan, beban kerja, status kepegawaian, fasilitas, hingga penghargaan terhadap profesi guru yang tidak bisa selesai hanya dengan mengganti satu buku.
Kalau pembenahan pendidikan ingin benar-benar menyentuh akar masalah, guru tidak seharusnya ditempatkan sebagai prioritas yang bisa ditunda.
Pendidikan Tidak Cukup Diperbaiki dari Hal yang Terlihat
Saya khawatir pembaruan buku pelajaran dianggap sebagai tanda bahwa masalah pendidikan sudah banyak terselesaikan hanya karena perubahannya mudah terlihat.
Perubahan yang terlihat secara fisik memang lebih mudah dikenali. Buku baru, fasilitas yang diperbarui, atau teknologi yang ditambahkan bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang diperbaiki. Namun, pendidikan memiliki persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar apa yang tampak di depan mata.
Kualitas pembelajaran, ketimpangan fasilitas, beban kerja guru, hingga kesejahteraan tenaga pendidik juga ikut menentukan apakah pendidikan benar-benar berjalan dengan baik.
Di titik ini, sindiran tentang font buku menjadi relevan. Jika tulisan yang terlalu kecil bisa langsung dianggap sebagai persoalan dan segera diperbesar, mengapa masalah kesejahteraan guru yang juga masih kecil seolah sulit untuk diprioritaskan?