Kolom

Sarjana Beban Industri: Sampai Kapan Lulusan Diminta "Langsung Jadi"?

Sarjana Beban Industri: Sampai Kapan Lulusan Diminta "Langsung Jadi"?
Ilustrasi rekrutmen dan seleksi kerja industri (Sumber: Pexels/Kindel Media)

Laporan terbaru LPEM FEB UI yang mencatat tingginya angka pengangguran sarjana—seperti Manajemen (10,3%), Hukum (9,0%), hingga Ekonomi (8,7%)—seolah kembali menyudutkan mahasiswa. Setiap kali angka pengangguran berpendidikan tinggi membengkak, pola respons publik kita selalu sama: menyalahkan ruang kuliah yang dianggap kurang aplikatif atau menuding sarjana kita kurang adaptif.

Namun, ada satu pihak yang kerap meloloskan diri dari sorotan publik dalam debat panjang ini: korporasi dan dunia industri.

Ekspektasi Tidak Masuk Akal terhadap Lulusan Baru

Di pasar kerja hari ini, iklan lowongan untuk posisi entry-level sering kali menuntut kualifikasi yang kontradiktif: berusia maksimal 22 tahun, tetapi berpengalaman kerja minimal dua hingga tiga tahun di bidang spesifik. Industri seolah-olah menolak kenyataan dasar bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah membangun fondasi nalar, cara berpikir kritis, serta kerangka keilmuan mendasar—bukan mencetak buruh spesifik yang bisa langsung ditempel ke mesin produksi korporasi tanpa pelatihan awal.

Sikap industri yang enggan berinvestasi pada pelatihan dasar (entry-level training) menciptakan lingkaran setan. Mereka menuntut sarjana "siap pakai" (job-ready), namun pada saat yang sama menutup pintu magang berkualitas berbayar atau memangkas anggaran pelatihan internal (Management Trainee) demi efisiensi jangka pendek. Akhirnya, beban adaptasi kompetensi ditumpahkan seluruhnya ke pundak lulusan muda yang baru memegang ijazah.

Berhentikan Sikap Menuntut, Mulai Pembinaan

Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang. Industri tidak boleh lagi berposisi semata-mata sebagai "pembeli" atau "penerima hasil" yang hanya mau mengambil keuntungan dari tenaga kerja matang. Sektor swasta dan dunia usaha wajib mengambil peran sebagai mitra pembina (co-educator) dalam ekosistem ketenagakerjaan nasional.

Mengubah mentalitas industri dari konsumen pasif menjadi mitra aktif bukan berarti memberatkan dunia usaha tanpa kompensasi. Di sinilah peran kunci pemerintah untuk merancang insentif ekonomi yang lebih berani dan tepat sasaran.

Insentif Pajak Sebagai Kunci Perubahan Behavioral

Pemerintah memang telah memiliki regulasi Super Tax Deduction (pengurangan pajak super) untuk kegiatan vokasi dan pelatihan kerja. Namun, penerapannya perlu diperluas dan dipertajam secara agresif.

Pemerintah dapat memberikan pemotongan pajak yang jauh lebih masif bagi perusahaan yang mau membuka program Management Trainee (MT) terstruktur atau magang berbayar dengan kuota khusus dari lima besar jurusan berangka pengangguran tertinggi. Jika korporasi mendapatkan insentif finansial yang nyata saat berinvestasi membangun kapasitas manusia di awal karier, narasi "lulusan tidak siap pakai" akan bergeser menjadi peluang investasi SDM yang menguntungkan kedua belah pihak.

Bukan Lagi Soal Siapa Menyalahkan Siapa

Menumpuk seluruh beban penyelarasan kerja pada perguruan tinggi dan mahasiswa adalah langkah yang tidak adil sekaligus tidak efektif. Kampus bertugas mencetak kapasitas berpikir, sedangkan industri bertugas menyelaraskan kapasitas tersebut menjadi keterampilan praktis lapangan.

Pertanyaan reflektifnya kini kembali kepada kita: apakah kita akan terus membiarkan sarjana-sarjana muda kita berjuang sendirian memenuhi standar industri yang berubah serba cepat, atau akankah kita mendesak dunia usaha untuk ikut memikul tanggung jawab mencetak generasi kerja masa depan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda