Kolom
Pramuka Masa Kini, Masih Relevankah Morse ketika Semua Ada di Google?
Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul di kepala anak muda ketika mengikuti kegiatan Pramuka hari ini: “buat apa masih belajar Morse kalau semua informasi bisa dicari di Google?” Untuk mengetahui arti sebuah simbol, kita tinggal membuka mesin pencari. Untuk belajar mengirim pesan, ada WhatsApp. Untuk berkomunikasi dengan orang jauh, ada video call. Bahkan untuk mempelajari Morse pun kita tidak perlu menghafalnya karena internet bisa menerjemahkan titik dan garis dalam hitungan detik.
Pertanyaan itu masuk akal. Kalau Morse dilihat semata-mata sebagai teknologi komunikasi, memang sulit mengatakan bahwa ia masih menjadi pilihan paling efisien. Namun, menurut saya, di sinilah kita sering keliru memahami pendidikan Pramuka. Tidak semua keterampilan dipelajari karena kelak akan menjadi alat yang paling sering kita gunakan. Sebagian keterampilan dipelajari karena proses mempelajarinya membentuk kemampuan tertentu dalam diri kita.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sendiri sampai sekarang masih menempatkan Morse sebagai bagian dari keterampilan kepramukaan. Dalam Panduan Penyelesaian Syarat Kecakapan Umum Penggalang, anggota Pramuka diarahkan mengenal berbagai sandi, Morse, dan semaphore, termasuk memahami perbedaan keduanya serta sikap yang benar ketika mengirim dan menerima berita. Bahkan dalam kegiatan kepramukaan nasional, Morse dan semaphore masih digunakan sebagai bagian dari scouting skills.
Artinya, Morse belum sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Tetapi menurut saya, alasan mempertahankannya juga tidak harus berhenti pada argumen, "Siapa tahu suatu hari internet mati." Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu.
Morse mengajarkan kita bahwa simbol dapat menjadi bahasa. Titik dan garis yang kelihatannya sederhana dapat berubah menjadi huruf, kata, kemudian menjadi sebuah pesan. Untuk menguasainya, kita harus mengenali pola, mengingat simbol, mendengarkan dengan teliti, kemudian menerjemahkannya menjadi makna. Kesalahan kecil dalam menerima atau mengirim simbol pun dapat mengubah pesan yang disampaikan.
Menariknya, penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Human Neuroscience pada 2017 menggunakan pembelajaran Morse sebagai model untuk mempelajari proses belajar yang berkaitan dengan neuroplastisitas. Peneliti menemukan perubahan mikrostruktur pada bagian white matter otak yang berkaitan dengan kemampuan memproses dan mempelajari Morse. Penelitian tersebut memang tidak membuktikan bahwa belajar Morse membuat seseorang menjadi lebih pintar, tetapi menunjukkan bahwa mempelajari Morse melibatkan proses pembelajaran yang kompleks, termasuk kemampuan bahasa dan pemrosesan informasi.
Hal serupa juga terlihat dalam pendidikan kepanduan di negara lain. Scouting America masih memasukkan Morse ke dalam Signs, Signals, and Codes Merit Badge. Anak tidak sekadar diminta menghafal Morse, tetapi juga mempelajari mengapa manusia membutuhkan berbagai sistem tanda dan komunikasi, termasuk penggunaannya dalam situasi darurat.
Jadi, mungkin pertanyaannya memang perlu dibalik. Bukan "Apakah Morse masih lebih berguna daripada Google?", karena tentu saja Google jauh lebih praktis untuk mencari informasi sehari-hari. Pertanyaannya adalah "Apakah semua keterampilan yang menjadi tidak praktis harus berhenti diajarkan?" Saya rasa tidak juga.
Sama seperti kita tetap belajar membaca peta meskipun ada Google Maps, atau belajar berhitung meskipun kalkulator tersedia di setiap ponsel, belajar Morse memberikan pengalaman untuk memahami bagaimana informasi bekerja sebelum semuanya diserahkan kepada mesin. Kita belajar mengingat, membaca tanda, mengenali pola, dan memastikan pesan yang kita kirim benar-benar diterima dengan tepat.
Pramuka pun sebenarnya tidak sedang bermusuhan dengan teknologi. Gerakan kepanduan dunia memiliki Jamboree on the Air dan Jamboree on the Internet, yang justru menggunakan radio dan internet untuk menghubungkan Pramuka dari berbagai negara. Teknologi baru dan keterampilan lama bisa berjalan berdampingan.
Karena itu, di tengah zaman TikTok dan Google, saya tidak melihat Morse sebagai sesuatu yang harus dipertahankan hanya karena nostalgia. Morse masih layak dipelajari bukan karena ia merupakan teknologi terbaik, melainkan karena proses mempelajarinya mengajarkan kita sesuatu yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh tombol pencarian: membaca tanda, memahami makna, dan menyampaikan pesan dengan tepat.
Mungkin yang perlu dipertahankan dari Morse bukan titik dan garisnya. Melainkan kebiasaan untuk berhenti sejenak, memahami tanda, lalu berpikir sebelum percaya dan menyampaikan sesuatu.