Kolom
Harga Pertamax Turun Rp300, Mengapa Harga BBM Bisa Fluktuatif?
Harga Pertamax kembali alami perubahan. Bulan Agustus 2026 ini, tercatat harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Jakarta dan sejumlah wilayah Jawa turun Rp300 per liter, dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter.
Penyesuaian ini terjadi setelah harga Pertamax sebelumnya melonjak Rp3.950 per liter pada Juni, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250. Dengan kata lain, harga yang turun Rp300 itu masih jauh dibawah kenaikan yang terjadi dua bulan sebelumnya.
Dalam rilisan resmi Pertamina Patra Niaga menyebut bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan tren harga rata-rata minyak dunia dan nilai tukar rupiah, sekaligus mengikuti ketentuan serta arahan pemerintah. Penurunan tersebut juga tidak berlaku pada BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang harganya tetap.
Lantas, mengapa harga BBM bisa fluktuatif seperti itu? Jawabannya untuk BBM umum atau nonsubsidi, pemerintah telah menetapkan kerangka perhitungan harga melalui regulasi. Peraturan Menteri ESDM Nomor 20 Tahun 2021 menjelaskan bahwa harga jual eceran BBM umum dihitung berdasarkan harga dasar, kemudian ditambah pajak dan margin badan usaha. Harga dasar sendiri mencakup biaya perolehan, distribusi, penyimpanan, dan margin.
Artinya, ketika harga minyak dunia berubah, biaya yang menjadi dasar harga BBM juga dapat ikut berubah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berpengaruh karena minyak merupakan komoditas yang diperdagangkan secara internasional. Pemerintah sendiri masih menggunakan mekanisme evaluasi dan formula harga dalam pengaturan BBM tersebut.
Pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir memang cukup ekstrem. International Energy Agency (IEA) mencatat harga minyak mentah melonjak tajam setelah gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Harga minyak kemudian kembali turun ketika arus pengiriman mulai pulih.
IEA juga menegaskan bahwa perubahan harga minyak mentah tidak selalu diteruskan dengan besaran yang sama kepada konsumen karena harga BBM di tingkat ritel juga dipengaruhi kondisi pasar domestik, pengolahan minyak, dan kebijakan pemerintah.
World Bank mencatat hal serupa. Dalam Commodity Markets Outlook April 2026, harga energi global diperkirakan meningkat 24 persen sepanjang tahun akibat gangguan pasokan energi di tengah konflik Timur Tengah. Harga Brent bahkan sempat bergerak dari sekitar US$72 per barel pada akhir Februari menjadi sekitar US$118 per barel pada akhir Maret sebelum kembali mengalami penurunan.
Di Indonesia, dampaknya kemudian masuk ke harga energi nonsubsidi. Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026 mencatat bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur ikut mendorong kenaikan kelompok harga yang diatur pemerintah, seiring tingginya harga energi global.
Jadi, penurunan Pertamax Rp300 per liter bukan berarti harga BBM tiba-tiba menjadi murah kembali. Harga tersebut merupakan hasil dari dinamika yang lebih panjang: harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan dan distribusi, formula pemerintah, hingga keputusan badan usaha.
Bagi konsumen, perubahan harga BBM mungkin hanya terlihat dari angka di papan SPBU. Namun di belakang angka Rp15.950 itu ada pasar minyak global yang bergerak setiap hari, nilai tukar yang berubah, serta kebijakan energi yang menentukan seberapa besar perubahan tersebut akhirnya sampai ke kantong masyarakat.