Kolom
Suara Rakyat Lima Tahun Sekali, setelah Itu Siapa yang Berkuasa?
Dari video Pandji Pragiwaksono hingga pengakuan blak-blakan Bambang Pacul, ada satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari. Sebenarnya suara rakyat bekerja sejauh apa dalam sistem politik kita?
Pertanyaan ini bukan semata-mata soal siapa yang benar atau siapa yang salah. Ini soal bagaimana demokrasi seharusnya bekerja setelah bilik suara ditinggalkan.
Setiap lima tahun, rakyat datang ke TPS dengan posisi yang tampak sangat berkuasa. Kita memilih presiden, anggota legislatif, kepala daerah. Suara kita dihitung satu per satu. Kampanye berbicara tentang kepentingan rakyat, kesejahteraan, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dan masa depan.
Namun setelah pemilu selesai, muncul kegelisahan yang sama. Apakah rakyat masih menjadi pusat pengambilan keputusan?
Dalam praktik politik Indonesia, anggota legislatif tidak hanya berhadapan dengan konstituen. Mereka juga berada dalam struktur partai politik. Ada garis komando, keputusan fraksi, kepentingan koalisi, dan kalkulasi politik yang sering kali jauh lebih rumit daripada sekadar apa yang diinginkan rakyat.
Di sinilah demokrasi menghadapi paradoks.
Rakyat memilih wakilnya, tetapi wakil tersebut juga harus mempertimbangkan keputusan partainya. Akibatnya, kepentingan publik bisa saja berhadapan dengan kepentingan organisasi politik. Dan ketika kepentingan itu bertabrakan, siapa yang sebenarnya paling menentukan arah suara seorang wakil rakyat?
Pernyataan Bambang Pacul yang ramai diperbincangkan menjadi relevan bukan karena satu kalimatnya semata, melainkan karena ia membuka percakapan tentang realitas hubungan antara anggota parlemen dan struktur partai. Jika seorang legislator merasa tidak memiliki keleluasaan untuk mengambil keputusan tanpa persetujuan pimpinan partai, maka persoalannya bukan lagi sekadar individu.
Itu adalah persoalan desain kekuasaan.
Demokrasi tidak cukup hanya menyediakan mekanisme pemilu. Demokrasi juga membutuhkan mekanisme pertanggungjawaban di antara dua pemilu. Rakyat tidak seharusnya hanya menjadi penting ketika surat suara dibutuhkan.
Lebih ironis lagi ketika pembicaraan tentang kinerja lembaga legislatif selalu berujung pada persoalan remunerasi. Gaji dan berbagai fasilitas anggota DPR memang kerap menjadi sasaran kritik publik, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi. Tetapi memperdebatkan besar kecilnya gaji sebenarnya bukan inti persoalan.
Hal yang lebih penting adalah apa yang diperoleh masyarakat sebagai imbal balik dari seluruh biaya politik dan anggaran negara tersebut?
Seorang pejabat publik tentu berhak mendapatkan kompensasi yang layak. Namun kompensasi itu harus berbanding lurus dengan tanggung jawab, integritas, produktivitas, dan hasil kerja. Ketika masyarakat melihat kemiskinan, pengangguran, biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok, hingga persoalan pelayanan publik, wajar apabila mereka menuntut lembaga negara menunjukkan kinerja yang dapat diukur.
Jangan sampai ukuran keberhasilan politik hanya berhenti pada berapa banyak rapat yang dilakukan, berapa banyak perjalanan dinas, atau seberapa sering seseorang tampil di depan kamera.
Ukuran akhirnya harus sederhana. Apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?
Di titik ini, kritik publik seharusnya tidak berhenti sebagai kemarahan. Kita perlu mendorong transparansi, membuka data kinerja legislator, memperkuat mekanisme evaluasi publik, dan memastikan bahwa keputusan politik dapat ditelusuri: siapa yang mengusulkan, siapa yang mendukung, siapa yang menolak, dan apa alasannya.
Sebab rakyat bukan sekadar angka dalam perolehan suara.
Mereka adalah orang-orang yang membayar pajak, bekerja dari pagi hingga malam, menghidupi keluarga, dan ikut membiayai negara melalui setiap transaksi yang mereka lakukan.
Demokrasi yang sehat justru dimulai setelah pemilu selesai.
Dan jika suara rakyat hanya didengar ketika kotak suara dibuka, sementara setelah itu keputusan lebih banyak ditentukan oleh kepentingan elite, maka yang perlu kita pertanyakan bukan sekadar gaji DPR.
Yang harus diperiksa adalah siapa sebenarnya yang sedang dilayani oleh kekuasaan.