Kolom
81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia
Dulu, hidup terasa seperti sebuah tangga yang sudah dibuatkan jalurnya. Sekolah, kuliah, mencari pekerjaan, membangun karier, menikah, memiliki rumah, lalu mempersiapkan masa tua. Semuanya terlihat seperti urutan yang harus dilewati satu per satu.
Namun, semakin dewasa, tangga itu justru terasa semakin panjang. Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang bagaimana mencapai anak tangga berikutnya, melainkan untuk apa semua ini dilakukan?
Pertanyaan semacam itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian anak muda Indonesia, pertanyaan tersebut bisa menjadi sesuatu yang berat. Di tengah tekanan media sosial, persaingan pekerjaan, biaya hidup, tuntutan keluarga, hingga keinginan untuk terlihat berhasil, hidup terkadang terasa seperti perlombaan yang tidak pernah memiliki garis akhir.
Pada 81 tahun kemerdekaan Indonesia, persoalan tentang kemerdekaan rasanya tidak hanya berbicara mengenai sejarah bangsa. Ada bentuk kemerdekaan lain yang perlu dibicarakan yakni kemerdekaan untuk mengenali diri sendiri dan menentukan kehidupan yang memiliki makna.
Pemahaman ikigai seperti diterjemahkan sebagai alasan untuk hidup atau sesuatu yang membuat kehidupan terasa layak dijalani. Konsep ini tidak harus selalu berhubungan dengan pekerjaan, jabatan, atau jumlah penghasilan. Dalam pemahaman yang lebih luas, ikigai dapat ditemukan dari sesuatu yang memberikan makna dalam keseharian.
Tidak semua orang memiliki kesempatan ekonomi yang sama. Tidak semua orang bisa memilih pekerjaan berdasarkan passion. Bahkan, bagi sebagian keluarga, pekerjaan pertama-tama adalah tentang bertahan hidup.
Karena itu, Ikigai tidak seharusnya menjadi rumus baru untuk menyalahkan seseorang yang belum menemukan pekerjaan impiannya. Justru sebaliknya, ikigai bisa menjadi ruang untuk memahami bahwa makna hidup dapat ditemukan bahkan ketika keadaan belum ideal.
Mencari ikigai di tengah realitas Indonesia tentu tidak harus menyalin cara Jepang dalam memahami Ikigai. Kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan struktur pekerjaan Indonesia berbeda. Jika seseorang harus memilih antara pekerjaan yang sesuai passion dan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk membayar kebutuhan keluarga, jawabannya tentu tidak selalu sederhana. Karena itu, Ikigai versi Indonesia perlu lebih manusiawi.
Bukan empat lingkaran sempurna yang memaksa seseorang menemukan sekaligus apa yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan dunia, dan menghasilkan uang. Mungkin Ikigai dapat dimulai dari tiga pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Apa yang membuat hidup terasa berarti? Siapa yang bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan kita? Hal kecil apa yang masih ingin dilakukan meskipun tidak ada yang memberikan tepuk tangan? Pertanyaan tersebut menggeser Ikigai dari sekadar pencarian karier menjadi pencarian kontribusi.
Menariknya, contoh penerapan konsep ini sudah mulai terlihat di Indonesia. Pada Oktober 2025, lima mahasiswa IPB University menjalankan program pengabdian di Panti Asuhan Bukit Karmel, Bogor. Ikigai dipadukan dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu remaja membangun self-esteem dan menemukan arah hidup.
Kegiatannya tidak dibuat seperti seminar yang kaku. Ada cinematherapy, board game, dan escape room yang dilakukan selama 12 pertemuan. Di sini, Ikigai berubah menjadi sesuatu yang lebih konkret.
Bukan sekadar bertanya, “Apa tujuan hidup saya?”, tetapi membantu seseorang mengenali dirinya, melihat kemampuannya, memahami lingkungan, lalu menemukan kemungkinan bahwa dirinya tetap memiliki nilai bagi orang lain.
Kemerdekaan yang tidak selalu berupa kebebasan. Saat ini 81 tahun Indonesia merdeka memberikan ruang untuk melihat kembali arti kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kemerdekaan juga dapat berarti memiliki keberanian untuk menentukan apa yang dianggap penting.
Tidak harus mengikuti standar orang lain. Tidak harus selalu terlihat sukses. Tidak harus memiliki jawaban ketika usia baru menginjak 20 atau 30 tahun. Sebab, menemukan ikigai bukan perlombaan. Ia lebih mirip perjalanan panjang untuk memahami diri sendiri sambil melihat dunia di sekitar.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan tentang Ikigai bukan lagi “Apa pekerjaan impian yang akan membuat hidup bahagia?” Pertanyaannya bisa dibuat lebih sederhana dengan pertanyaan layaknya apa yang bisa dilakukan hari ini agar keberadaan ini sedikit lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain?
Jika satu anak muda menemukan jawabannya melalui pendidikan, yang lain melalui lingkungan, seni, keluarga, pekerjaan, komunitas, atau sekadar membantu seseorang melewati hari yang berat, semuanya tetap memiliki nilai. Sebab, pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, mungkin ada satu bentuk kemerdekaan yang masih perlu diperjuangkan bersama yaitu kemerdekaan untuk hidup dengan makna, tanpa harus merasa tertinggal hanya karena jalan hidup berbeda.
Menurut saya ikigai bukanlah jawaban akhir. Ia adalah kompas kecil yang membantu seseorang tetap berjalan ketika belum mengetahui dengan pasti ke mana tujuan akhirnya.