Kolom
Kayu Terus Tergerus, Hutan Kehilangan Penyimpanan Karbon Alami
Kayu pepohonan selalu di keruk, pasti kita sering melihat truk membawa kayu melewati pemukiman. Padahal sebelum menjadi meja, rumah, kertas, atau produk industri lainnya, kayu itu pernah menjadi bagian dari sebuah pohon yang tumbuh bertahun-tahun. Di balik harga jualnya, ada perjalanan panjang sebuah ekosistem yang bisa menyerap karbon alami.
Sebelum ditebang, pohon bukan sekadar batang yang memiliki nilai ekonomi. Ia menjadi bagian dari hutan yang menyimpan karbon, menjaga tanah dan air, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai satwa. Sangat disayangkan ketika kayu terus dikeruk dari hutan, pertanyaannya bukan hanya berapa rupiah yang dihasilkan, tetapi apa yang ikut hilang setelah pohon tersebut ditebang?
Kayu memang dibutuhkan. Industri mebel, konstruksi, pulp, kertas, hingga berbagai produk turunan membutuhkan bahan baku dari sektor kehutanan. Pemanfaatan kayu juga memiliki nilai ekonomi dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
Masalahnya muncul ketika harga kayu dihitung dengan jelas, sedangkan nilai ekologis hutan sering tidak terlihat dalam transaksi. Satu pohon dapat dihitung berdasarkan harga kayunya. Namun, bagaimana menghitung karbon yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam biomassa pohon? Bagaimana menghitung air yang dijaga kawasan hutan, tanah yang dilindungi, atau habitat satwa yang bergantung pada pepohonan?
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa hutan tidak bisa diperlakukan hanya sebagai gudang kayu. Hutan adalah ekosistem penyimpanan karbon alami. Ketika tutupannya berkurang, fungsi ekologis tersebut ikut menghadapi tekanan.
Data Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan sekitar 300 ribu hektare hutan alam pada 2025, yang dikaitkan dengan sekitar 220 juta ton emisi CO. Dalam periode 2002–2025, Indonesia juga kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan primer basah.
Sementara itu, sepanjang 2001–2025, Indonesia kehilangan sekitar 33 juta hektare tutupan pohon. Angka-angka tersebut memang tidak boleh langsung diartikan bahwa seluruh kehilangan tutupan hutan disebabkan oleh industri kayu. Deforestasi dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kebakaran, perubahan penggunaan lahan, pembukaan kawasan, dan aktivitas manusia lainnya.
Namun, ada satu hal yang sulit diabaikan. Semakin banyak tutupan hutan yang hilang, semakin besar tantangan untuk mempertahankan fungsi ekologisnya. Pohon menyerap dan menyimpan karbon. Hutan juga membantu mengatur tata air, menjaga tanah, dan menyediakan ruang hidup bagi satwa.
Ketika pohon ditebang dan kawasan kemudian berubah fungsi, manfaat ekologis tersebut dapat ikut berubah. Kita sering melihat kayu gelondongan berada di atas truk dan melintas di jalan raya. Yang jarang terlihat adalah cerita sebelum kayu tersebut sampai di sana.
Ada kawasan hutan tempat pohon tumbuh. Ada tanah tempat akar mencengkeram. Ada satwa yang mungkin menggunakan kawasan tersebut sebagai habitat. Ada karbon yang tersimpan dalam ekosistem. Ketika tutupan hutan berkurang, persoalannya menjadi lebih panjang.
Apalagi jika kawasan tersebut kemudian terbakar. Api tidak hanya menghancurkan vegetasi. Kebakaran dapat mengganggu habitat satwa, merusak tanah, menurunkan kualitas udara, sekaligus melepaskan karbon ke atmosfer.
Pada akhirnya, kehilangan hutan bukan hanya cerita tentang pohon yang ditebang. Ini juga cerita tentang fungsi ekologis yang perlahan menghilang.
Kita perlu sadar peran penting hutan primer dan hutan basah dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kayu yang tumbuh di dalamnya bukan hanya bahan baku yang memiliki nilai ekonomi, tetapi bagian dari kawasan yang menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Pohon-pohon di hutan primer tumbuh dalam ekosistem yang relatif masih alami, sehingga keberadaannya mendukung penyimpanan karbon, menjaga tata air, melindungi tanah, dan menyediakan habitat bagi berbagai satwa.
Indonesia juga memiliki kawasan hutan primer basah yang menjadi bagian penting dari kekayaan ekologisnya. Ketika pohon ditebang dan tutupan hutan berkurang, karbon yang sebelumnya tersimpan dapat ikut terdampak, terutama jika kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi atau kebakaran.
Akibatnya, kayu harus diperiksa sebelum menjadi gelondongan. Kita perlu mempertimbangkan asal-usul pohon, kondisi hutan tempat pohon tumbuh, dan dampak penebangan terhadap ekosistem, karena setiap pohon terhubung ke rantai kehidupan yang saling bergantung, kehilangan tutupan meningkatkan risiko kehilangan fungsi alami hutan sebagai penyimpan karbon. Akibatnya, kehilangan tutupan memengaruhi tidak hanya karbon tetapi juga air, tanah, dan makhluk hidup yang hidup di dalamnya.
Indonesia sebenarnya memiliki instrumen untuk memastikan kayu yang beredar memiliki asal-usul yang jelas. Pada 2026, Kementerian Kehutanan memperkuat Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK+) untuk meningkatkan ketertelusuran kayu dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut mencakup aspek legalitas, kelestarian, dan transparansi rantai pasok.
Sistem Informasi Legalitas dan Kelestarian juga mengatur verifikasi kayu yang berasal dari hutan negara maupun hutan hak, mulai dari asal-usul, izin, pengangkutan, pengolahan, hingga perdagangan.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah aturan tersedia. Pertanyaan berikutnya adalah apakah aturan tersebut benar-benar berjalan di lapangan.
Pengawasan menjadi penting agar legalitas tidak berhenti sebagai dokumen administratif dan pengelolaan hutan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
Kita tidak harus berhenti menggunakan kayu. Industri membutuhkan bahan baku dan masyarakat juga membutuhkan produk berbasis kayu, yang sebenarnya harus dipikirkan bagaimana pemanfaatan tersebut tetap menjaga fungsi ekologis hutan.
Ketika kita melihat kayu gelondongan melintas di jalan, mungkin kita tidak perlu hanya bertanya, “Berapa harga kayu ini?” Ada pertanyaan yang jauh lebih penting dari mana kayu itu berasal? Apakah legal? Bagaimana hutannya dikelola? Siapa yang memperoleh manfaat? Dan siapa yang menanggung dampak ekologisnya?
Kayu memang memiliki harga. Tetapi hutan memiliki nilai yang jauh lebih besar. Ia menyimpan karbon, menjaga air dan tanah, menyediakan habitat, serta menopang kehidupan manusia dan satwa.
Karena itu, ketika kayu terus terkeruk, yang harus kita khawatirkan bukan hanya berkurangnya pohon. Kita juga sedang mempertaruhkan salah satu ekosistem penyimpanan karbon alami yang paling penting.
Pada akhirnya, menjaga hutan bukan berarti melarang manusia memanfaatkan kayu. Menjaga hutan berarti memastikan bahwa ketika satu pohon diambil, masa depan ekosistemnya tidak ikut hilang.