Kolom

Filosofi SpongeBob Jadi Ubur-Ubur dan Ilusi Kabur dari Burnout

Filosofi SpongeBob Jadi Ubur-Ubur dan Ilusi Kabur dari Burnout
Spongebob dan Ubur-Ubur (Encyclopedia SpongeBobia)

Beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja menonton ulang SpongeBob SquarePants. Awalnya biasa saja. Saya hanya ingin melihat kembali kartun yang dulu sering saya tonton ketika masih kecil. Namun, ketika sampai pada episode “Nature Pants”, saya justru berhenti dan berpikir, “Sebentar, kok episode ini sekarang terasa menarik?”

Dulu, ketika masih kecil, keinginan SpongeBob untuk meninggalkan Krusty Krab dan hidup bersama ubur-ubur terasa konyol. Ya memang begitulah SpongeBob. Karakternya absurd, tingkahnya berlebihan, dan hampir semua masalah selalu dibungkus dengan humor. Tetapi setelah dewasa dan sedikit banyak belajar memahami bagaimana kehidupan sosial bekerja, episode itu justru terasa seperti sesuatu yang sangat serius. 

Di balik kelucuannya, ada pertanyaan tentang pekerjaan, kebebasan, kelelahan, bahkan keinginan manusia untuk melarikan diri dari kehidupan yang sedang dijalaninya.

SpongeBob dan Kelelahan Kehidupan Industrial

Nature Pants merupakan bagian dari musim pertama SpongeBob SquarePants. Dalam episode ini, SpongeBob mulai merasa tertarik pada kehidupan bersama ubur-ubur di Jellyfish Fields. Ia kemudian meninggalkan Krusty Krab, melepas kehidupannya sebagai pekerja, dan memutuskan hidup di alam bersama ubur-ubur. 

Paramount+ sendiri menggambarkan episode tersebut sebagai cerita ketika SpongeBob meninggalkan kehidupan industrial dan mencoba hidup di alam.

Yang menarik, SpongeBob sebenarnya bukan pekerja yang membenci pekerjaannya. Ia justru dikenal sangat mencintai pekerjaannya di Krusty Krab. Karena itu, keputusan meninggalkannya terasa seperti sebuah perubahan ekstrem. Seolah-olah ada titik ketika pekerjaan yang sebelumnya membuatnya bahagia mulai terasa tidak cukup untuk memenuhi seluruh kehidupannya.

Di sinilah konsep alienation atau keterasingan kerja dari Karl Marx menjadi menarik. Dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, Marx menjelaskan bagaimana kerja dalam kondisi tertentu dapat menjadi sesuatu yang terasing dari manusia. Pekerjaan tidak lagi menjadi aktivitas yang membuat manusia merealisasikan dirinya, tetapi justru menjadi sesuatu yang terasa berada di luar dirinya.

Tentu, saya tidak sedang mengatakan bahwa Stephen Hillenburg membuat Nature Pants secara sengaja untuk menjelaskan teori Marx. Tidak ada bukti untuk menyimpulkan itu. Tetapi membaca SpongeBob melalui konsep tersebut membuat episode ini menjadi jauh lebih menarik. Bahkan sejumlah penelitian akademik memang telah membaca hubungan kerja di SpongeBob SquarePants melalui perspektif Marx, terutama hubungan Mr. Krabs dengan SpongeBob dan Squidward.

Ketika Alam Terlihat Seperti Jalan Keluar

Lalu datanglah bagian yang menurut saya paling menarik. SpongeBob tidak hanya ingin berhenti bekerja. Ia ingin meninggalkan seluruh tatanan kehidupan yang membuatnya lelah. Krusty Krab ditinggalkan, celananya dilepas, dan Jellyfish Fields dibayangkan sebagai tempat kebebasan. Bukankah fantasi seperti itu terasa familiar? 

Ketika pekerjaan terasa melelahkan, kita sering membayangkan kehidupan yang sama sekali berbeda. Tidak ada alarm pagi, tidak ada atasan, tidak ada target, tidak ada deadline. Tinggal pergi ke tempat yang jauh, hidup sederhana, lalu semuanya akan terasa lebih baik. SpongeBob melakukan persis seperti itu.

Di sini gagasan Jean-Jacques Rousseau menjadi menarik untuk digunakan. Rousseau memang banyak mengkritik bagaimana kehidupan sosial membuat manusia kehilangan kebebasan alamiahnya. Namun, sebagaimana dijelaskan Stanford Encyclopedia of Philosophy dalam pembahasannya mengenai Rousseau, pemikiran tersebut tidak sesederhana ajakan untuk meninggalkan masyarakat dan “kembali ke alam”.

SpongeBob justru melakukan penyederhanaan yang sangat manusiawi, kalau masyarakat membuatku lelah, berarti alam pasti akan membuatku bahagia. Masalahnya, alam ternyata tidak akan pernah bisa membaca kehidupan kita. Alam sebagaimana alam, ia akan tetap brutal dan netral, tidak indah seperti apa yang kita bayangkan.

Ternyata Kabur dari Dunia Tidak Menyelesaikan Masalah

Setelah tinggal di Jellyfish Fields, fantasi SpongeBob perlahan runtuh. Ia menghadapi malam yang dingin, kesulitan mendapatkan makanan, sengatan ubur-ubur, hingga berbagai kondisi yang tidak pernah masuk ke dalam bayangannya ketika masih bekerja di Krusty Krab. Bahkan Patrick dan teman-temannya akhirnya memburunya karena mengira SpongeBob telah berubah menjadi ubur-ubur.

Di titik ini, Nature Pants seperti sedang menertawakan satu ilusi bahwa meninggalkan satu kehidupan otomatis berarti menemukan kehidupan yang lebih baik. Padahal belum tentu.

SpongeBob tidak sebenarnya sedang mencari alam. Ia sedang mencari kebebasan. Jellyfish Fields hanya menjadi simbol dari kebebasan yang ia bayangkan. Begitu berada di sana, ia menemukan bahwa kebebasan absolut juga mempunyai konsekuensi. Tidak ada pekerjaan berarti tidak ada penghasilan. Tidak ada rumah berarti tidak ada tempat berlindung. Tidak ada masyarakat berarti tidak ada struktur sosial yang selama ini diam-diam menopang kehidupan kita.

Dan akhirnya SpongeBob kembali

Menurut saya, ini bukan berarti episode tersebut sedang mengatakan bahwa kita harus selalu bertahan dalam pekerjaan apa pun yang membuat kita menderita. Sama sekali bukan. Kita tetap boleh resign, mencari pekerjaan baru, mengambil jeda, atau meninggalkan lingkungan yang memang merusak diri kita. Persoalannya adalah ketika kita mengira bahwa melarikan diri dari seluruh kehidupan sosial merupakan solusi universal dan absolut atas kelelahan.

Penelitian mengenai pemulihan dari pekerjaan dalam Nature Reviews Psychology juga menunjukkan bahwa pemulihan dari pekerjaan merupakan bagian penting dari kesejahteraan. Waktu di luar pekerjaan dapat membantu seseorang melepaskan diri secara psikologis dari tuntutan pekerjaan dan memulihkan energi.

Jadi, mungkin yang kita perlukan bukan selalu meninggalkan dunia, melainkan belajar memiliki jarak yang sehat dari pekerjaan dan tuntutan kehidupan.

Kita Tidak Harus Menjadi Ubur-Ubur seperti Spongebob

Mungkin inilah alasan mengapa Nature Pants terasa jauh lebih filosofis ketika ditonton setelah dewasa. Sebagai anak-anak, kita melihat SpongeBob sebagai karakter konyol yang ingin menjadi ubur-ubur. Setelah dewasa, kita justru bisa melihat seseorang yang sedang kelelahan, kemudian membayangkan bahwa kehidupan di tempat lain pasti lebih baik. Kita mungkin tidak pergi ke Jellyfish Fields seperti SpongeBob, tetapi bentuk fantasinya ada di sekitar kita setiap hari.

Kita ingin resign dan membayangkan hidup pasti lebih bahagia. Kita ingin pindah kota dan mengira semua masalah akan tertinggal. Kita ingin menghilang dari media sosial, dari pekerjaan, dari pertemanan, bahkan dari kehidupan sosial, lalu berharap kepala kita akan otomatis menjadi tenang.

Padahal, terkadang yang kita perlukan hanya cara baru untuk menjalani kehidupan yang sekarang.

Mungkin kita memang sedang lelah secara industrial. Kita bekerja, mengejar uang, mengejar karier, memenuhi tuntutan sosial, dan mencoba terlihat baik-baik saja ketika sebenarnya pundak terasa semakin berat. Tetapi kalau kemudian kita menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah mengasingkan diri sepenuhnya dari kehidupan sosial, mungkin kita sedang mengulangi kesalahan SpongeBob.

Sebab pada akhirnya, SpongeBob kembali bukan karena dunia tiba-tiba menjadi sempurna. Ia kembali karena menyadari bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana memilih antara Krusty Krab atau Jellyfish Fields.

Dan mungkin itu pesan paling dewasa yang bisa kita ambil dari kartun yang dulu hanya kita tonton sambil tertawa, kita boleh lelah, kita boleh berhenti sebentar, tetapi kita tidak harus melarikan diri dari kehidupan untuk menemukan alasan agar tetap menjalaninya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda