Kolom

Mendidik Disiplin atau Mengulang Budaya Perpelocoan?

Mendidik Disiplin atau Mengulang Budaya Perpelocoan?
Ilustrasi jalan jongkok (pixabay/MabelAmber)

Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan oleh video mahasiswa baru Universitas Negeri Padang (UNP) yang diminta berjalan jongkok karena terlambat mengikuti rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Potongan video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk pendisiplinan yang wajar, sementara yang lain menilai bahwa cara seperti itu sudah tidak lagi relevan diterapkan di lingkungan pendidikan tinggi.

Perdebatan mengenai metode pendisiplinan mahasiswa sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap tahun, kegiatan orientasi mahasiswa selalu menyisakan pertanyaan tentang batas antara pembinaan dan perpeloncoan

Meski bentuknya berbeda-beda, pola yang muncul sering kali serupa, yaitu adanya hukuman atau perlakuan tertentu yang dianggap sebagai cara untuk membentuk karakter dan kedisiplinan mahasiswa baru.

Kampus tentu memiliki hak untuk menegakkan aturan dan menanamkan kedisiplinan kepada mahasiswa. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah hukuman seperti berjalan jongkok masih memiliki nilai pendidikan yang relevan pada masa sekarang, atau justru hanya menjadi bentuk lain dari budaya perpeloncoan yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah benar-benar dievaluasi.

Ketika Disiplin Diukur dari Hukuman

Tidak ada yang salah dengan upaya menanamkan disiplin kepada mahasiswa baru. Kampus membutuhkan mahasiswa yang mampu menghargai waktu, mematuhi aturan, dan bertanggung jawab terhadap setiap kewajibannya. 

Kedisiplinan bahkan menjadi salah satu modal penting yang akan berguna tidak hanya selama masa kuliah, tetapi juga ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial yang lebih luas.

Masalahnya, kedisiplinan tidak hanya ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga oleh cara yang digunakan untuk mencapainya. Hukuman berjalan jongkok mungkin dapat membuat mahasiswa jera untuk datang terlambat, tetapi belum tentu membuat mereka memahami mengapa ketepatan waktu itu penting.Yang tercipta sering kali hanyalah rasa takut terhadap hukuman, bukan kesadaran terhadap nilai yang ingin ditanamkan.

Pendekatan seperti ini berangkat dari asumsi bahwa seseorang akan menjadi disiplin jika diberi konsekuensi yang bersifat memalukan atau melelahkan secara fisik. 

Padahal, perkembangan dunia pendidikan menunjukkan bahwa pembentukan karakter yang efektif justru lahir dari pemahaman, refleksi, dan kesadaran individu terhadap tanggung jawabnya. Ketika mahasiswa hanya diperintahkan menerima hukuman tanpa diajak memahami alasan di balik aturan tersebut, maka proses pendidikan kehilangan salah satu esensinya, yaitu membentuk cara berpikir yang kritis dan dewasa.

Warisan Perpeloncoan yang Masih Bertahan

Salah satu alasan mengapa praktik seperti ini masih terus muncul adalah karena adanya anggapan bahwa senior atau penyelenggara hanya meneruskan tradisi yang pernah mereka alami sebelumnya. Banyak orang beranggapan bahwa jika mereka dahulu mampu melewati proses yang sama, maka generasi berikutnya juga harus mengalaminya.

Cara berpikir semacam ini sebenarnya cukup bermasalah. Tidak semua tradisi layak dipertahankan hanya karena sudah berlangsung lama. 

Dalam banyak aspek kehidupan, masyarakat terus melakukan evaluasi terhadap kebiasaan lama yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Hal yang sama seharusnya berlaku dalam kegiatan orientasi mahasiswa.

Perpeloncoan modern sering kali tidak lagi hadir dalam bentuk kekerasan yang ekstrem seperti pada masa lalu. Namun, esensinya tetap dapat terlihat ketika terdapat relasi yang menempatkan mahasiswa baru sebagai pihak yang harus menerima perlakuan tertentu demi membuktikan kepatuhan mereka kepada sistem atau senior yang lebih dahulu berada di kampus. 

Bentuknya mungkin terlihat lebih ringan, tetapi logika yang digunakan masih serupa, yaitu bahwa rasa malu atau ketidaknyamanan dianggap sebagai alat untuk mendidik.

Padahal, mahasiswa baru datang ke kampus bukan untuk diuji ketahanannya terhadap hukuman-hukuman simbolik. Mereka datang untuk mengenal lingkungan akademik yang seharusnya menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan diri secara intelektual maupun personal.

Pendidikan Harus Bergerak Maju

Ironisnya, banyak kampus saat ini aktif mengkampanyekan nilai-nilai seperti anti perundungan, penghormatan terhadap martabat manusia, kesehatan mental, serta pembangunan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Namun, pada saat yang sama, masih ada praktik yang menggunakan rasa malu sebagai instrumen pembinaan.

Kontradiksi ini menunjukkan bahwa sebagian institusi pendidikan masih belum sepenuhnya meninggalkan pola pembinaan lama. Padahal, pendidikan tinggi seharusnya menjadi pelopor perubahan sosial, bukan justru menjadi ruang yang mempertahankan metode yang efektivitasnya semakin dipertanyakan.

Jika tujuan utamanya adalah mengurangi keterlambatan, terdapat banyak cara yang lebih relevan untuk diterapkan. Mahasiswa yang terlambat dapat diberikan tugas refleksi, tanggung jawab tambahan dalam kegiatan, atau bentuk konsekuensi lain yang memiliki hubungan langsung dengan perilaku yang ingin diperbaiki.

Perdebatan antara mahasiswa baru yang diminta berjalan jongkok tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah tindakan tersebut termasuk perpeloncoan atau bukan. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mengevaluasi apakah metode seperti itu masih layak dipertahankan dalam dunia pendidikan saat ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda