Kolom
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
"Mohon maaf, Anda belum diterima di perusahaan kami. Terima kasih atas antusiasme Anda dalam melamar. Sampai bertemu di kesempatan berikutnya." Begitu isi pesan notifikasi yang saya terima di suatu pagi, beberapa bulan sebelum ulang tahun ke-23, ketika saya bangun dengan perasaan kacau balau. Mungkin ini sudah yang kesepuluh dari lamaran kerja yang saya kirim ke berbagai perusahaan. Saya membuka Instagram, dan di sana ada kabar bahwa seseorang yang dulu dekat sekali dengan saya sudah punya pacar baru. Cantik sekali. Sementara saya terkapar di kasur yang mungkin sudah bosan melihat saya bengong menatap langit-langit kamar selama hampir tiga bulan.
Waktu itu saya merasa hidup di umur 23 akan berat sekali. Saya bahkan tidak ingin mendekati bulan kelahiran saya, Oktober, karena setiap usia bertambah, saya pikir rintangan hidup akan makin besar. Beberapa bulan kemudian, banyak hal berubah. Hari ini saya bekerja dan punya kesibukan. Pagi saya tidak lagi dihabiskan menatap langit-langit, tapi mengejar jadwal. Orang yang melihat saya mungkin mengira semuanya sudah beres. Nyatanya belum sepenuhnya. Di sela pekerjaan dan tenggat, perasaan lama itu sering mampir lagi: merasa tertinggal dari teman-teman yang tampak sudah melangkah jauh, dan merasa sepi justru di tengah kesibukan.
Maka pada 3 Oktober, ketika notifikasi "selamat ulang tahun" muncul di kalender ponsel, saya menerimanya dengan perasaan campur aduk. Tapi hari itu saya antusias, karena saya akan mengunjungi Coffee and Conversation with Satoshi Yagisawa di Indonesia International Book Fair 2026.
Jujur, saya datang tanpa pernah membaca bukunya. Saya hanya tahu Days at the Morisaki Bookshop dikenal sebagai novel self healing. Sabtu sore itu, saya duduk di antara para pembaca dengan segelas kopi. Orang-orang di sekeliling membawa buku yang halamannya sudah menumpuk penanda warna-warni karena sering dibaca. Saya melirik tangan kosong saya dan sempat berpikir, bahkan di sini pun saya tertinggal.
Lalu Yagisawa mulai bercerita, dan perlahan perasaan itu mencair. Ia bilang sejak dulu ia suka sekali datang ke Kissaten, kedai kopi tradisional Jepang. Dari kesukaan itu ia ingin menulis cerita tentang kedai kopi. Menurutnya, hampir semua ceritanya memang tentang tempat berada, yaitu tempat para tokohnya merasa punya tempat.
Sesudah acara, saya mencari tahu isi novel debutnya. Ceritanya tentang Takako, perempuan 25 tahun yang patah hati dan hidupnya ikut berantakan. Ia menumpang tinggal di loteng toko buku bekas milik pamannya, Satoru, di Jinbocho, distrik toko buku bekas di Tokyo. Ia tidak langsung bangkit. Awalnya ia lebih banyak murung dan menutup diri, dikelilingi buku tua dan paman yang tidak sibuk menceramahi. Pelan-pelan, hidupnya bergerak lagi. Edisi bahasa Inggrisnya bahkan masuk nominasi Debut Fiction di British Book Awards 2024.
Membaca itu, saya seperti melihat diri sendiri beberapa bulan lalu. Takako 25, saya 23. Kami sama-sama pernah merasa hidup berhenti sementara dunia terus berjalan. Yang paling saya ingat adalah harapan Yagisawa untuk kafe ciptaannya. Ia ingin kafe itu menjadi tempat yang tidak menuntut kita menjadi apa-apa. Alasannya, kita hidup di zaman ketika semua orang mencari jawaban instan, berusaha selalu positif, dan berjuang menang dalam persaingan. Saya mengangguk pelan.
Sepuluh email penolakan itu terasa seperti kalah dalam perlombaan yang tidak pernah saya daftarkan diri. Ia juga bercerita tentang sosok pemilik kedai dalam novelnya. Menurutnya, ia bukan orang yang mengajari atau memaksakan sesuatu. Ia hanya ada di sana dan mendengarkan, dan kita semua membutuhkan orang seperti itu. Saya terdiam. Selama tiga bulan menatap langit-langit, saya tidak butuh nasihat. Semua nasihat sudah saya hafal. Yang saya butuhkan hanya seseorang yang mau duduk dan mendengarkan.
Lalu ia membahas rasa sakit. Menurutnya, sakit dan kehilangan bukan sesuatu yang harus diselesaikan, melainkan sesuatu yang kita jalani bersama, karena itu bagian dari hidup. Saya hampir tertawa getir. Selama ini saya memperlakukan patah hati dan penolakan seperti tugas yang harus dituntaskan agar terlihat baik-baik saja. Ternyata mereka boleh tinggal dulu.
Bagian yang paling mengena adalah perbedaan sendirian dan kesepian. Sendirian, kata Yagisawa, adalah waktu yang kita ambil untuk membaca atau merefleksikan diri, dan itu penting. Kesepian lain lagi. Menurutnya, kesepian adalah saat kita sebenarnya ingin ditolong tetapi tidak ada yang mau menolong, sehingga kita bisa merasa kesepian justru di tengah keramaian. Saya langsung paham. Kini saya punya pekerjaan, rekan kerja, dan jadwal yang padat, tapi rasa sepi itu tetap bisa datang. Selama ini saya mengira kesepian hilang kalau hidup sudah sibuk dan berjalan. Ternyata tidak harus begitu, dan itu bukan berarti ada yang salah dengan saya.
Soal memulai lagi, Yagisawa bercerita bahwa ide Morisaki muncul begitu saja di kepalanya saat ia sedang berjalan-jalan. Karena itu, katanya, penting menjaga momen-momen seperti itu. Saya menangkapnya begini: awal yang baru tidak selalu lahir dari rencana besar. Kadang ia hanya berupa bangun dari kasur, keluar rumah, lalu duduk di tengah orang-orang dengan segelas kopi.
Dari situ saya pulang dengan beberapa hal yang ingin saya katakan, kepada diri saya dan kepada siapa pun yang sedang membaca. Tidak apa-apa kalau kamu merasa tertinggal dari orang lain. Teman-temanmu yang sudah bekerja, bertunangan, atau pindah kota tidak sedang menyalipmu. Hidup bukan jalan tol dengan garis finis. Tidak apa-apa juga kalau kamu merasa sepi, bahkan setelah semuanya terlihat sudah beres. Rasa sepi bukan tanda kamu gagal. Ia tanda kamu manusia yang ingin dimengerti. Dan tidak apa-apa kalau kamu harus memulai lagi, entah untuk keberapa kalinya, dengan langkah sekecil apa pun.
Beberapa bulan lalu saya terkapar di kasur dengan penolakan kesepuluh di layar. Hari ini saya duduk di hadapan panggung dengan kopi bersama orang-orang yang tidak saya kenal, dan itu cukup untuk membuat saya percaya bahwa awal yang baru memang bisa datang pelan-pelan. Saya belum sepenuhnya baik-baik saja, dan ternyata itu boleh.