Kolom

Parenting di Era Digital: Ketika Gawai Menjadi Pengasuh Anak

Parenting di Era Digital: Ketika Gawai Menjadi Pengasuh Anak
Ilustrasi ibu dan anak bermain gadget (magnific/luarbiasa)

Pernahkah Anda memperhatikan apa yang terjadi ketika seorang anak mulai menangis atau merengek di tempat umum? Refleks pertama yang sering kita lihat dari orang tua bukanlah merangkul atau mengajak berbicara, melainkan menyodorkan sebuah ponsel agar anak tersebut diam.

Tanpa disadari, gawai seolah-olah mengambil alih peran orang tua sebagai pengasuh untuk menemani dan menenangkan anak.

Cara tersebut memang terlihat berhasil karena anak menjadi tenang dalam waktu singkat. Namun, anak yang berhenti menangis karena perhatiannya dialihkan belum tentu sama dengan anak yang mampu menenangkan dirinya sendiri. Di sinilah persoalan self-regulation menjadi penting.

Self-regulation merupakan kemampuan anak untuk mengenali, mengelola, dan mengendalikan emosi serta perilakunya ketika menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika mereka merasa bosan, marah, kecewa, atau harus menunggu sesuatu yang diinginkan. 

Kemampuan ini tidak muncul begitu saja, tetapi berkembang melalui berbagai pengalaman dan kesempatan yang diberikan kepada anak untuk menghadapi emosinya dengan pendampingan orang tua.

Rasa bosan, marah, kecewa, atau harus menunggu sebenarnya bukan pengalaman yang harus selalu dihindari oleh anak. Situasi-situasi tersebut justru dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menghadapi ketidaknyamanan. 

Ketika anak harus menunggu makanan, ia sedang belajar bahwa tidak semua keinginannya dapat terpenuhi saat itu juga. Ketika anak merasa bosan, ia dapat belajar mencari kegiatan lain tanpa selalu membutuhkan hiburan dari layar. 

Begitu pula saat anak marah atau kecewa, ia dapat perlahan belajar mengenali perasaan tersebut dan mencari cara untuk menenangkan dirinya. Pengalaman sederhana seperti inilah yang menjadi bagian dari proses perkembangan self-regulation

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, dan pendidik dalam membantu perkembangan regulasi emosi anak. Salah satunya dengan mengajak anak berbicara dan memberikan pengertian ketika anak menunjukkan emosi negatif. 

Peran tersebut menunjukkan bahwa ketika anak sedang marah atau kecewa, orang tua tidak hanya berusaha membuat emosi itu berhenti, tetapi juga dapat membantu anak memahami apa yang sedang mereka rasakan.

Jika setiap rasa tidak nyaman selalu diselesaikan dengan distraksi dari layar, kesempatan anak untuk melatih self-regulation dapat semakin tergerus. 

Anak mungkin tidak mendapatkan cukup ruang untuk belajar bahwa rasa bosan dapat dilewati, rasa kecewa dapat diterima, dan kemarahan dapat dikelola tanpa harus segera mencari sesuatu yang menghibur. Ia justru terbiasa dengan pola bahwa ketika muncul perasaan yang tidak menyenangkan, perasaan tersebut harus segera dihilangkan. 

Dalam jangka panjang, persoalannya bukan hanya tentang berapa lama anak menggunakan gawai, tetapi tentang bagaimana gawai mulai digunakan untuk mengatur kondisi emosional anak. 

Tentu saja, memberikan gawai kepada anak tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai orangtua yang buruk.

Di sinilah orang tua perlu membedakan antara menenangkan anak dan membantu anak belajar menenangkan dirinya sendiri. Keduanya terlihat serupa, tetapi memiliki dampak yang jauh berbeda. 

Orang tua mungkin perlu duduk bersama anak, mendengarkan keluhannya, membantu memberikan nama pada emosinya, menjelaskan mengapa ia merasa demikian, atau sekadar menemani sampai emosinya perlahan mereda. Cara tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan anak yang langsung diam, tetapi justru memberikan pengalaman yang dibutuhkan anak untuk belajar menghadapi emosinya. 

Ketika orang tua membantu anak memahami emosi negatif dan memberikan respons yang sesuai, anak mendapatkan kesempatan untuk belajar mengelola emosinya secara bertahap. 

Dengan demikian, pengasuhan bukan hanya tentang bagaimana orang tua menghentikan perilaku anak yang dianggap mengganggu, tetapi juga tentang bagaimana mereka membantu anak memahami alasan di balik perilaku dan perasaannya. 

Tantangan parenting di era digital bukanlah mengharamkan keberadaan gawai secara total, melainkan bagaimana memastikan bahwa teknologi tetap berada pada tempatnya dan gawai seharusnya menjadi alat yang digunakan ketika memang diperlukan, bukan menjadi pengasuh yang selalu hadir setiap kali anak merasa bosan, marah, kecewa, atau tidak nyaman. 

Anak tidak hanya membutuhkan sesuatu yang membuat mereka diam, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk belajar memahami dan mengelola perasaannya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda