Kolom

Tepung Singkong untuk Atasi Karhutla, Water Cannon untuk Redam Suara Rakyat

Tepung Singkong untuk Atasi Karhutla, Water Cannon untuk Redam Suara Rakyat
Mobil water canon [Suara.com/Alfian Winanto]

Saat membuka media sosial baru-baru ini, saya disuguhi dua pemandangan yang cukup kontras. Ada berita soal pemerintah membicarakan ubi bombing alias penggunaan tepung singkong untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sementara itu, di tempat lain, water cannon digunakan untuk menghadapi massa dalam aksi demonstrasi di depan DPR, hari ini, Kamis (27/8/2026).

Keduanya sama-sama punya urusan dengan sesuatu yang perlu “dipadamkan”. Bedanya, satu adalah api yang benar-benar membakar hutan, sementara yang lain "api semangat" rakyat yang sedang menyampaikan tuntutan.

Demonstrasi memang perlu dijaga agar tetap tertib dan tidak berubah menjadi kerusuhan. Namun, pemandangan water cannon berhadapan dengan massa hari ini terasa ironis jika disandingkan dengan gagasan ubi bombing tempo hari.

Demo Kok Jadi Identik dengan Ancaman?

Saya paham kenapa demonstrasi perlu diamankan. Tidak ada yang ingin aksi berujung ricuh, apalagi sampai merusak fasilitas umum atau melukai orang. Aparat tentu punya tugas untuk menjaga agar semuanya tetap terkendali.

Tapi yang bikin saya agak mengernyit adalah betapa cepatnya demonstrasi dibicarakan dalam bahasa keamanan. Begitu ada aksi, yang muncul kemudian rantis, water cannon, barikade, personel dalam jumlah besar, dan berbagai perlengkapan pengamanan.

Seolah-olah sebelum mendengar apa yang mau disampaikan, kita sudah lebih dulu sibuk memikirkan bagaimana cara menghadapi orang-orangnya.

Padahal, tuntutan yang dibawa dalam aksi hari ini juga sangat mewakili keresahan publik. Ada desakan agar RUU Perampasan Aset segera disahkan dan tuntutan pemberantasan korupsi yang lebih tegas. Ada pula massa dari berbagai kelompok yang ikut menyuarakan kepentingannya masing-masing.

Mungkin memang lebih mudah mengurus kerumunan daripada mengurus alasan di balik kerumunan itu. Mengatur barisan orang jelas ada prosedurnya. Tinggal pasang pagar, siapkan personel dengan jumlah banyak, selesai. Sementara mendengarkan tuntutan, membahasnya, lalu benar-benar menindaklanjutinya? Nah, ini yang biasanya jauh lebih ribet.

Water Cannon Sudah Siap, Tuntutannya Kapan Dijawab?

Hal yang menarik dari aksi hari ini justru bukan cuma soal massa dan aparat yang berhadap-hadapan. Di tengah demonstrasi, ada tuntutan yang sebenarnya cukup spesifik, yakni RUU Perampasan Aset segera disahkan dan pemberantasan korupsi diperkuat. Bahkan ada tuntutan hukuman mati bagi koruptor.

Jadi, setelah water cannon dan berbagai peralatan disiapkan, yang akan diselesaikan sebenarnya demonstrasinya atau tuntutannya?

Kalau tujuannya hanya membuat massa bubar, pekerjaan aparat memang relatif jelas. Massa mundur, jalan kembali kosong, lalu situasi dinyatakan kondusif. Beres. Tetapi kalau yang hendak dibereskan adalah keresahan di balik demonstrasi, tentu tidak sesederhana itu.

Lagi pula, RUU Perampasan Aset bukan isu yang baru muncul hari ini karena orang-orang sedang turun ke jalan. Tuntutan soal pemberantasan korupsi juga sudah berkali-kali disuarakan.

Jadi, agak ironis kalau yang sibuk diurus justru bagaimana massa menghadapi aparat, sementara alasan kenapa rakyat masih harus turun ke jalan terus-terusan seolah tidak terlalu dipikirkan.

Tepung Singkong Saja Dicari, Masa Solusi Demo Tidak?

Mungkin ini yang paling menggelitik dari dua berita yang muncul berdekatan. Untuk karhutla, pemerintah sampai membicarakan ubi bombing dalam rapat khusus. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan untuk memproduksinya secara massal, padahal belum tentu berhasil dan masih perlu diuji.

Sementara itu, untuk menghadapi demo hari ini, sumber daya yang disiapkan terlihat jauh lebih konkret. Water cannon sudah ada, rantis ikut berjajar, aparat berjaga di berbagai titik. Rasanya pemerintah tidak pernah kehabisan cara untuk memastikan demonstrasi tetap terkendali.

Karhutla saja dicari alternatifnya. Padahal, kalau sekadar memadamkan api, bukankah air sudah ada sejak dulu? Giliran masyarakat yang mulai "panas", kenapa yang buru-buru dicari justru cara untuk mendinginkannya?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda