Kolom
Fenomena Solo-Maxxing, Menjadi Lajang Bukan Lagi Sebuah Kegagalan
"Sudah punya pacar belum?"Pertanyaan ini mungkin terdengar biasa, terutama ketika muncul saat berkumpul bersama keluarga atau bertemu teman lama. Namun, semakin sering pertanyaan tersebut diberikan kepada seseorang yang masih lajang, semakin terasa bahwa memiliki pasangan seolah menjadi bagian dari pencapaian hidup yang harus segera dicapai.
Ketika sudah memiliki pacar, pertanyaan berikutnya berubah menjadi "kapan menikah?", seakan-akan kehidupan memiliki urutan yang harus diikuti agar seseorang dianggap berhasil.
Pandangan tersebut membuat kehidupan seolah memiliki urutan yang harus diikuti, mulai dari sekolah, kuliah, bekerja, memiliki pasangan, hingga menikah. Ketika seseorang tidak mengikuti urutan tersebut, terutama dalam urusan percintaan, muncul anggapan bahwa hidupnya gagal. Padahal, tidak semua orang memiliki tujuan, prioritas dan waktu yang sama dalam menjalani kehidupan.
Mengenal Solo-Maxxing
Perubahan cara pandang terhadap kehidupan lajang kemudian terlihat melalui fenomena solo-maxxing. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menikmati dan memaksimalkan kehidupan ketika sedang lajang, bukan sekadar menganggap masa single sebagai fase menunggu sampai menemukan pasangan.
Psychology Today menjelaskan bahwa tren ini berkembang di kalangan Gen Z dan milenial, salah satunya dipengaruhi kejenuhan terhadap aplikasi kencan, meningkatnya biaya berkencan, serta keinginan untuk mendapatkan ketenangan dan kemandirian.
Dalam kehidupan sehari-hari, solo-maxxing dapat terlihat dari hal-hal sederhana seperti pergi ke bioskop sendirian, makan di tempat yang disukai tanpa menunggu pasangan, menekuni hobi, berlibur bersama teman, hingga lebih fokus pada pendidikan, pekerjaan, dan kondisi keuangan.
Kesendirian yang sebelumnya sering dianggap identik dengan kesepian mulai dilihat sebagai kesempatan untuk menentukan bagaimana seseorang ingin menggunakan waktunya.
Kenapa Menjadi Single Sering Dianggap Gagal?
Persoalannya, masyarakat masih sering menempatkan hubungan romantis sebagai salah satu tanda keberhasilan seseorang. Memiliki pasangan dapat dianggap sebagai bukti bahwa seseorang menarik, disukai, atau telah menemukan arah hidup, sedangkan menjadi single terlalu lama sering dikaitkan dengan berbagai kekurangan.
Pertanyaan seperti "terlalu pilih-pilih?" atau "kapan punya pasangan?" mungkin terdengar sebagai candaan, tetapi jika terus diulang dapat membuat seseorang merasa bahwa status lajang adalah sesuatu yang harus diperbaiki. Padahal, memiliki pasangan tidak otomatis membuat seseorang bahagia, sementara menjadi single juga tidak berarti seseorang kesepian.
Psychology Today mencatat bahwa salah satu manfaat yang sering dikaitkan dengan solo-maxxing adalah kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih stabil, mulai dari pertemanan, karier, kondisi finansial, hingga kemandirian. Bahkan, survei terhadap 14.380 orang dewasa yang menunjukkan bahwa hampir separuh responden berusia 18–34 tahun merasa kehidupan single lebih damai dibandingkan ketika berada dalam hubungan.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas hidup seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan status hubungannya.
Single Bukan Berarti Menolak Hubungan
Meski begitu, solo-maxxing juga tidak berarti bahwa menjadi single selalu lebih baik daripada memiliki pasangan.
Menikmati waktu sendiri karena ingin fokus pada diri sendiri, mengembangkan diri, finansial, karier, atau mengejar hal yang dianggap penting tentu berbeda dengan memilih sendiri karena takut terluka atau tidak ingin menghadapi masalah dalam sebuah hubungan.
Hal yang perlu dilihat justru bukan apakah seseorang memilih untuk single atau memiliki pasangan, tetapi apakah pilihan tersebut memang berasal dari dirinya sendiri.
Jangan sampai seseorang memaksakan diri untuk berpacaran hanya karena merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya sudah memiliki pasangan. Begitu juga sebaliknya, jangan sampai seseorang memilih sendiri hanya karena mengikuti tren atau ingin terlihat mandiri.
Mungkin sudah waktunya pertanyaan "kapan punya pacar?" tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus selalu ditanyakan. Setiap orang memiliki waktu dan jalan hidup yang berbeda.
Menjadi lajang bukan berarti seseorang gagal dalam hidup, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani hidupnya dengan pilihan yang membuat dirinya merasa nyaman dan berkembang.