Kolom

Gelar Sarjana Bukan Tiket Emas: Kenapa Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?

Gelar Sarjana Bukan Tiket Emas: Kenapa Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?
Ilustrasi close-up sebuah papan tanda dari kardus dan surat kabar yang menggambarkan kondisi pengangguran. (Pexels/Ron Lach)

Ada masa ketika gelar sarjana terasa seperti tiket keluar dari segala kecemasan. Empat tahun kuliah, skripsi, sidang, wisuda, lalu bayangan setelah itu amatlah sederhana: mendapatkan pekerjaan. Kenyataannya, setelah toga dilepas, yang datang justru email penolakan, lowongan dengan syarat pengalaman bertahun-tahun, dan setumpuk pertanyaan dari keluarga, “Sudah dapat kerja belum?” Kalau kamu sedang berada di fase itu, percayalah, kamu tidak sendirian.

Saya pernah berada di posisi tersebut. Setelah lulus pada Februari lalu, saya baru mendapatkan pekerjaan pada Agustus. Enam bulan bukan waktu yang sebentar ketika setiap pagi dimulai dengan membuka portal lowongan, mengirim lamaran, menunggu kabar, lalu kembali melihat tulisan “kandidat belum sesuai”. Saya bahkan sempat menjadi freelancer buruh tulisan karena kebutuhan hidup harus tetap berjalan, sementara gelar sarjana saja ternyata tidak bisa membayar makan dan kos.

Namun, semakin lama saya berada di situasi tersebut, semakin saya memiliki kegelisahan tentang apakah benar semua pengangguran fresh graduate adalah sepenuhnya kesalahan individu? 

Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,85 persen. Dari keseluruhan pengangguran tersebut, 15,35 persen merupakan lulusan Diploma IV/Universitas. Angka itu memang tidak berarti seluruhnya adalah fresh graduate. Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa gelar perguruan tinggi jelas bukan jaminan seseorang otomatis terserap pasar kerja.

Bahkan, laporan World Bank tentang Graduate Employment and Unemployment memberikan catatan yang menarik. Pengangguran lulusan tidak bisa begitu saja dijelaskan sebagai akibat skill mismatch. Menurut analisis tersebut, pertumbuhan jumlah lulusan yang lebih cepat dibanding pertumbuhan permintaan tenaga kerja berpendidikan tinggi serta proses pencarian pekerjaan setelah lulus merupakan faktor penting. Skill mismatch tetap berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

Penelitian Daniel Jesayanto Jaya yang terbit di Labour and Industry pada 2026 bahkan melihat persoalan ini melalui teori segmentasi pasar kerja. Ia menyebut pengangguran anak muda dan lulusan di Indonesia sebagai persoalan struktural yang berkaitan dengan lemahnya penyerapan tenaga kerja, tingginya segmentasi dan informalitas, serta koordinasi yang belum optimal antara negara, perusahaan, dan institusi pendidikan.

Jadi, ketika fresh graduate tidak kunjung bekerja, mungkin persoalannya memang sebagian ada pada diri kita. Bisa jadi pengalaman kurang, kemampuan perlu ditingkatkan, atau strategi mencari kerja belum tepat. Tetapi mengatakan, “Kamu menganggur karena tidak punya skill,” jelas terlalu menyederhanakan persoalan yang jauh lebih rumit dan lebih kompleks.

Menurut catatan World Bank pada 2022, sebanyak 22,3 persen pemuda Indonesia berada dalam kondisi NEET (Not in Education, Employment, or Training). Istilah ini merujuk pada kelompok usia 15–24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan keterampilan. Sementara tingkat pengangguran pemuda mencapai 14,1 persen dan tingkat pekerjaan informal pemuda mencapai 89,1 persen. 

Artinya, problem anak muda bukan hanya soal memiliki pekerjaan atau tidak. Ada pula persoalan pekerjaan informal, pekerjaan yang tidak sesuai pendidikan, serta sulitnya transisi dari bangku pendidikan menuju pasar kerja.

Lebih menyakitkan lagi, masa menganggur dapat meninggalkan bekas. Dalam Indonesia Economic Prospects, World Bank mencatat lulusan muda yang memasuki pasar kerja pada periode pandemi memperoleh pendapatan rata-rata sekitar 19 persen lebih rendah dibanding mereka yang lulus setahun sebelumnya. Krisis pada awal karier dapat mempengaruhi perjalanan seseorang jauh setelah krisis berakhir.

Maka, untuk kamu yang sekarang masih mengirim lamaran, mengikuti wawancara, mengambil pekerjaan sementara, atau bahkan belum tahu harus berjalan ke mana, jangan buru-buru menganggap dirimu gagal. Perbaiki apa yang memang bisa diperbaiki, tetapi jangan mengambil seluruh kesalahan sistem ke dalam kepalamu sendiri.

Gelar sarjana memang bukan tiket emas menuju pekerjaan. Pasar kerja punya logikanya sendiri, ekonomi bergerak dengan caranya sendiri, dan kesempatan tidak selalu datang kepada mereka yang sudah bekerja paling keras.

Saya pernah menganggur enam bulan. Mungkin kamu sedang mengalaminya lebih lama. Kita tidak berada dalam kondisi yang sama persis, tetapi setidaknya ada satu hal yang bisa kita sepakati: kita tidak sendirian.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda