Kolom
Bayar Tinggal Scan, Cashless Jadi Kebiasaan yang Sulit Ditinggalkan Gen Z
Pernahkah Sobat Yoursay pergi ke suatu tempat tanpa membawa uang tunai sama sekali?
Bagi banyak Gen Z, ini bakalan relate banget sih. Saya rasa sudah bukan hal baru lagi bagi anak muda zaman sekarang kalau ke mana-mana hanya perlu HP, saldo di rekening, dan kuota internet aja. Asalkan tiga hal itu aman, banyak kebutuhan bisa dibayar. Dompet pun udah berubah fungsi, cuma jadi pajangan atau isi tas biar nggak terlalu kosong.
Sebagai bagian dari generasi yang sama, saya pun ikut merasakan perubahan ini. Adanya fitur transaksi digital, seperti: QRIS, e-wallet, hingga m-banking memang sangat memudahkan transaksi untuk berbagai keperluan. Mulai dari belanja, kuota internet, pulsa, token listrik, delivery makanan, ojek online, kafe, hingga warung pinggir jalan atau pedagang kaki lima sekalipun sudah banyak yang menggunakan fitur tersebut.
Dalam satu kesempatan, saya juga pernah hanya membawa uang tunai yang sangat terbatas di dompet. Mungkin cuma cukup buat bayar parkir aja. Haha. Di saat yang sama, sebenarnya saya tidak merencanakan banyak hal. Sekadar jalan-jalan di taman, lanjut diskusi bareng teman-teman organisasi, dan langsung pulang. Namun, ternyata diskusi dibatalkan. Bukannya pulang, saya malah melipir ke outlet mie pedas yang cukup terkenal dan kebetulan tidak terlalu jauh dari lokasi saya waktu itu. Tentu saja, saya bertransaksi pakai QRIS, kemudian makan dengan tenang.
Momen semacam itu bukan sekali saja terjadi di hidup saya, bahkan bisa dikatakan cukup sering. Kalimat "nggak papa, bisa bayar pakai QRIS" pun seolah jadi tameng bagi saya untuk bisa tetap melakukan pembelian meski uang tunai di dompet terbatas atau tidak ada sama sekali.
Sebelum kenal dengan transaksi digital ini, dulu ketika tiba di kasir, tapi uang nggak cukup, saya memilih membatalkan pembelian untuk beberapa barang yang sifatnya nggak begitu darurat. Namun, sekarang berbeda. Kalau uang di dompet kurang, kalimat pertama yang muncul adalah pertanyaan "bisa pakai QRIS, Kak?"
Pengalaman serupa mungkin juga cukup familiar bagi anak muda di luar sana. Terlalu sering bertransaksi secara digital, cashless kini bukan lagi sekadar pilihan bagi banyak anak muda. Bagi mereka, pembayaran non-tunai sudah jadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Memang, nggak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Sebab keberadaan opsi tersebut pun membuat transaksi semakin cepat dan praktis.
Namun, kemudahan ini ternyata bukan hanya mengubah cara kita bertransaksi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ikut mempengaruhi keputusan kita untuk membeli. Sampai sini, muncul satu pertanyaan yang mungkin bisa menjadi renungan kita: ketika hampir semua transaksi bisa dilakukan hanya dengan beberapa ketukan di layar, apakah kita masih memiliki “rem” yang sama dalam mengontrol pengeluaran?
Tidak bisa kita pungkiri, kemudahan yang kita nikmati terkadang juga membawa sisi lain yang sering kita abaikan. Seperti halnya transaksi digital yang sedang kita bahas sekarang. Selain memudahkan pembayaran, fitur tersebut juga berpotensi membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uang. Ketiadaan uang secara fisik yang tampak berkurang membuat pengeluaran tak begitu terasa. Meski di layar, angka tetap berkurang.
Masalah lainnya juga muncul ketika ada sebagian orang yang kurang siap dengan perubahan ini. Bisa menggunakan HP untuk bertransaksi, tak membuat kita lantas terbebas begitu saja dari persoalan lain. Misalnya ketika HP mendadak mati, baterai habis, internet bermasalah, atau saat merchant yang kita kunjungi hanya menerima uang tunai. Kalau sudah begitu, apa nggak langsung kelimpungan cari solusi?
Saya akui, cashless memang bukan sesuatu yang buruk. Namun, dalam setiap perubahan yang terjadi tentu perlu diikuti dengan kesiapan kita dalam menggunakannya. Mungkin sebelum pergi ke suatu tempat, kita bisa mencari tahu terlebih dahulu tentang pilihan pembayaran yang tersedia di sana. Kemudian yang tidak kalah penting, kita perlu memastikan baterai HP sudah terisi dan kuota internet aman.
Sebagai penutup, saya kembali menegaskan bahwa artikel ini tidak saya tulis untuk menolak sistem pembayaran non-tunai. Bagi saya, cashless membawa dampak yang cukup baik dan memberikan banyak kemudahan. Namun, yang mungkin perlu menjadi perhatian kita adalah jangan sampai kemudahan membayar membuat kita lupa untuk mengontrol cara membelanjakan uang.