Kolom
Rakyat Jaga Rakyat: Ketika Solidaritas Lebih Cepat Datang daripada Negara
Demonstrasi sering kali hanya terlihat dari sisi paling bisingnya. Kamera mengarah kepada massa yang berteriak, pagar yang didorong, spanduk yang dibentangkan, atau benturan yang terjadi di tengah jalan. Padahal, ada cerita lain yang berjalan jauh lebih sunyi. Di belakang barisan demonstran, ada orang-orang yang memastikan mereka tidak kehausan, tidak kelaparan, dan tetap bisa bertahan di tengah panjangnya aksi.
Pada demonstrasi 27 Agustus 2026, wajah solidaritas itu terlihat dari keterlibatan warga, pedagang kecil dan pengemudi ojek online yang membantu membawa makanan serta air minum menuju lokasi aksi hingga menyediakannya secara gratis. Sejumlah pengemudi ojek online bahkan rela kehilangan kesempatan mendapatkan penghasilan karena memilih menggunakan tenaga dan waktunya untuk membantu peserta demonstrasi.
Pemandangan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai catatan kecil di tengah berita demonstrasi. Justru di sanalah terdapat pertanyaan yang lebih besar tentang masyarakat dan negara mengapa ketika rakyat sedang menyuarakan keresahan, rakyat pula yang bergerak menjaga kebutuhan rakyat lainnya?
Ketika Solidaritas Menjadi Logistik Perjuangan
Demonstrasi tidak pernah hanya membutuhkan keberanian untuk berdiri di jalan. Ada kebutuhan yang sangat sederhana tetapi menentukan air minum, makanan, transportasi, pertolongan, dan orang-orang yang bersedia mengantarkan semua itu ke lokasi.
Dalam aksi 27 Agustus, sejumlah pengemudi ojol terlihat mengangkut kotak-kotak berisi air mineral menuju lokasi demonstrasi. Mereka harus berjalan kaki setelah menghadapi blokade di sekitar kawasan aksi. Salah seorang pengemudi bahkan mengatakan penghasilannya hari itu bukan prioritas hingga rela membagikan sate gratis kepada para mahasiswa di jalanan. Yang lebih penting adalah membantu menyampaikan suara masyarakat.
Ada ironi yang menarik di sini. Pengemudi ojol merupakan kelompok pekerja yang penghasilannya sangat bergantung pada aktivitas harian. Satu hari tanpa order berarti ada pemasukan yang hilang. Namun, sebagian dari mereka memilih mengorbankan kesempatan tersebut untuk sesuatu yang tidak langsung memberikan keuntungan ekonomi.
Itulah solidaritas dalam bentuk paling sederhana, yaitu memberikan apa yang dimiliki ketika tidak memiliki banyak pilihan lain untuk diberikan. Bahkan dalam beberapa video viral juga menunjukkan kemurahan hati hingga seorang pengemudi mengatakan, “Cuma ini yang saya punya.” Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.
Tidak semua orang mampu menyumbang uang. Tidak semua orang bisa berdiri berjam-jam di depan gedung parlemen. Namun, seseorang tetap bisa memberikan tenaga.
Pada titik ini, solidaritas tidak lagi sekadar pelengkap demonstrasi. Ia menjadi semacam infrastruktur sosial yang memungkinkan sebuah gerakan bertahan.
Rakyat Tidak Hanya Berdemo, Mereka Saling Menjaga
Hal yang menarik dari solidaritas dalam aksi bukan hanya siapa yang berada di garis depan, tetapi juga siapa yang bekerja di belakangnya. Ketika sebagian orang menyampaikan tuntutan, sebagian lainnya memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Inilah sisi demonstrasi yang sering hilang dari pemberitaan. Kita terbiasa melihat aksi melalui angka massa, tuntutan, orasi, kericuhan, atau respons aparat. Padahal, sebuah gerakan masyarakat juga dibangun oleh kerja-kerja yang tidak spektakuler, membagikan makanan, mengantar air, mengumpulkan bantuan, mengatur distribusi, dan menjaga orang lain agar tetap mampu bertahan.
Di sinilah konsep “rakyat jaga rakyat” menjadi relevan. Ia tidak harus dimaknai sebagai perlawanan terhadap negara. Lebih jauh, ia menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk membangun mekanisme pertolongan ketika menghadapi situasi yang mereka anggap penting.
Namun, justru karena itu, muncul pertanyaan kritis yang tidak boleh dihindari apakah solidaritas masyarakat sedang menunjukkan kekuatan warga negara, atau justru memperlihatkan adanya ruang yang gagal diisi oleh negara?
Pertanyaan tersebut penting karena negara demokratis bukan hanya negara yang mampu menjaga ketertiban. Negara juga memiliki kewajiban mendengar aspirasi, membuka ruang dialog, dan memastikan warga dapat menyampaikan pendapat secara aman.
Dalam aksi 27 Agustus, aparat terlihat melakukan pengamanan dan memblokade sejumlah ruas jalan. Pada saat yang sama, demonstran juga menghadapi situasi tegang di sekitar Gedung DPR.
Pengamanan tentu diperlukan ketika terdapat potensi kekerasan. Tetapi demokrasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana menjaga demonstrasi tetap terkendali.
Jangan Sampai Negara Hanya Hadir Ketika Jalanan Memanas
Ada paradoks dalam demonstrasi hari ini. Ketika massa berkumpul, negara terlihat hadir melalui aparat keamanan. Barikade berdiri, akses jalan diatur, patroli dilakukan, dan potensi kericuhan diawasi. Tetapi setelah suara massa mereda, lalu siapa yang membawa tuntutan itu ke ruang kebijakan?
Di sinilah demokrasi diuji. Rakyat tidak seharusnya harus turun ke jalan berulang kali hanya agar masalah mereka masuk ke agenda pemerintah. Demonstrasi memang merupakan hak dalam kehidupan demokratis, tetapi idealnya demonstrasi menjadi bagian dari komunikasi politik, bukan satu-satunya cara masyarakat merasa dapat didengar.
Menariknya, tuntutan dalam aksi 27 Agustus sendiri tidak hanya mengenai RUU Perampasan Aset. Ada kritik terhadap MBG, Koperasi Desa Merah Putih, harga kebutuhan pokok, BBM, pendidikan, pajak, upah, hingga penanganan bencana.
Keragaman isu tersebut menunjukkan bahwa solidaritas yang terlihat di jalan bukan muncul dari ruang kosong. Ada keresahan yang berbeda-beda, tetapi bertemu dalam satu ruang publik. Karena itu, kisah ojol, warga, relawan, dan mereka yang menyumbangkan logistik seharusnya tidak hanya dipandang sebagai cerita mengharukan. Ini adalah pengingat bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk saling menopang ketika menghadapi persoalan bersama.
Namun, solidaritas rakyat tidak boleh menjadi alasan negara untuk mengurangi tanggung jawabnya. Rakyat membantu rakyat karena mereka peduli. Negara hadir karena itu adalah kewajibannya. Keduanya bukan hal yang sama, yang pertama lahir dari empati. Yang kedua lahir dari tanggung jawab publik.
Maka, di tengah riuh demonstrasi 27 Agustus, mungkin ada satu suara yang justru paling penting untuk didengar, bukan hanya suara orang yang berteriak di depan pagar DPR, melainkan suara mereka yang diam-diam membawa air, makanan, waktu, tenaga, dan kepedulian. Mereka menunjukkan bahwa ketika rakyat merasa satu sama lain perlu dijaga, solidaritas dapat bergerak sangat cepat.