Kolom
Sempat Dianggap Tokoh Mitos, Ini Alasan Ratu Kalinyamat Justru Ditakuti Penjajah Portugis
Bayangkan jika salah satu pemimpin militer terbesar dalam sejarah Indonesia justru sempat dianggap tokoh mitos. Itulah yang dialami Ratu Kalinyamat.
Selama bertahun-tahun, nama penguasa Jepara abad ke-16 ini kerap tenggelam di balik cerita rakyat, legenda, bahkan kisah-kisah yang sulit diverifikasi. Akibatnya, usulan agar ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional beberapa kali kandas. Sebagian pihak masih meragukan apakah Ratu Kalinyamat benar-benar tokoh sejarah atau sekadar figur dalam babad.
Baru pada 10 November 2023, negara akhirnya mengakui jasa-jasanya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional. Pengakuan itu bukan muncul karena romantisme sejarah, melainkan setelah berbagai penelitian berhasil memperkuat bukti dari sumber-sumber primer, termasuk kronik Portugis yang selama berabad-abad tersimpan di Eropa.
Ironisnya, justru musuhnya yang menjadi saksi paling kuat.
Dalam karya Da Asia, sejarawan Portugis Diogo do Couto menyebut Ratu Kalinyamat sebagai "Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica" yang artinya Ratu Jepara, perempuan yang kaya dan sangat berkuasa.
Portugis bahkan menjulukinya De Kranige Dame, perempuan yang gagah berani. Sulit membayangkan penjajah memberikan penghormatan seperti itu kepada lawannya apabila ia bukan ancaman yang nyata.
Ancaman itu mencapai puncaknya pada 1574.
Saat Portugis sedang menikmati kejayaan sebagai penguasa Selat Malaka, Ratu Kalinyamat mengirim ekspedisi luar biasa besar: sekitar 300 kapal dengan 15.000 prajurit, termasuk puluhan kapal besar berbobot ratusan ton. Untuk ukuran abad ke-16, ini merupakan salah satu armada terbesar yang pernah diluncurkan oleh kerajaan di Asia Tenggara.
Yang menarik, Ratu Kalinyamat tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata.
Ia memahami sesuatu yang kini menjadi prinsip dasar strategi militer modern, logistik menentukan kemenangan.
Berbagai catatan menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Portugis juga dilakukan dengan mengganggu jalur pasokan menuju Malaka. Ketika suplai pangan dan kebutuhan perang terganggu, benteng yang kuat sekalipun akan kehilangan daya tahannya. Dengan kata lain, Ratu Kalinyamat telah menerapkan konsep perang ekonomi jauh sebelum istilah itu dikenal dalam teori militer modern.
Kemampuan diplomasinya juga tidak kalah mengesankan.
Jepara menjalin kerja sama dengan Aceh, Johor, dan Hitu di Maluku untuk menghadapi musuh yang sama, yaitu Portugis. Memang, tidak tepat menyebutnya sebagai ASEAN pertama, karena konteks zamannya berbeda. Namun, aliansi tersebut menunjukkan bahwa para penguasa Nusantara telah memahami pentingnya membangun koalisi regional dalam menghadapi kekuatan asing. Gagasan tentang keamanan bersama ternyata telah dipraktikkan jauh sebelum lahirnya organisasi-organisasi modern.
Di luar medan perang, Ratu Kalinyamat juga membangun Jepara sebagai pusat perdagangan dan maritim. Pada masanya, Jepara berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting di pantai utara Jawa. Seni ukir Mantingan, perkembangan batik Jepara, hingga aktivitas perdagangan internasional menunjukkan bahwa kekuatan maritim tidak hanya dibangun dengan kapal perang, tetapi juga dengan ekonomi dan kebudayaan.
Sayangnya, perjalanan sejarah Nusantara setelah abad ke-16 tidak selalu berpihak pada tradisi maritim. Sejumlah sejarawan mencatat bahwa pada masa berikutnya, terutama ketika Mataram berorientasi pada kekuasaan agraris di pedalaman, kekuatan maritim pesisir utara Jawa mengalami kemunduran.
Di masa kolonial VOC, galangan kapal pribumi dan pelayaran lokal juga semakin dibatasi demi menjaga dominasi perdagangan Belanda. Proses ini berlangsung bertahap dan dipengaruhi banyak faktor politik serta ekonomi, sehingga tidak dapat disederhanakan hanya pada satu tokoh atau satu kebijakan.
Karena itulah, pengakuan terhadap Ratu Kalinyamat memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pemberian gelar.
Ia mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh raja-raja di daratan, tetapi juga oleh pemimpin-pemimpin maritim yang pernah membuat kekuatan kolonial Eropa berhitung. Ia juga menunjukkan bahwa meluruskan sejarah membutuhkan kerja akademik yang panjang: membaca naskah kuno, menelusuri arsip lintas negara, membandingkan sumber primer dan sekunder, hingga mengoreksi narasi yang selama ini diterima begitu saja.
Ratu Kalinyamat akhirnya memang memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Namun, mungkin penghargaan terbesar justru datang dari sejarah itu sendiri. Sebab tidak semua tokoh mampu membuat musuhnya menuliskan rasa hormat dalam catatan resmi.
Dan tidak semua pemimpin perempuan abad ke-16 mampu memimpin armada yang membuat salah satu imperium maritim terbesar dunia saat itu memandang Jepara sebagai ancaman yang nyata.