Kolom
Program Tanpa Kompromi: MBG Selalu Punya Alasan untuk Berjalan
Kabut asap kembali menjadi masalah di Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sekolah mungkin harus libur karena kabut asap, tetapi program Makan Bergizi Gratis (MBG) rupanya belum tentu ikut libur.
Viralnya potongan video rapat Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah memicu sorotan karena Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo menyebut peliburan sekolah akibat kabut asap dapat membuat dapur-dapur MBG dan kantin sekolah ikut “mati”.
Pernyataan itu sontak dipertanyakan warganet. Di tengah kondisi udara yang membahayakan siswa, mengapa masih sempat-sempatnya memikirkan keberlangsungan dapur MBG?
Meski Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo telah mengklarifikasi bahwa keselamatan siswa tetap menjadi prioritas dan rapat tersebut membahas banyak opsi, termasuk pembelajaran jarak jauh, polemiknya tetap menyisakan pertanyaan.
Ini bukan pertama kalinya MBG tetap berjalan di tengah kondisi yang sebenarnya bisa jadi alasan untuk berhenti sebentar. Dulu, distribusi MBG ramai diperdebatkan karena tetap “dipaksakan” berjalan selama bulan puasa. Sekarang, hal serupa kembali terjadi di tengah bencana kabut asap. Keadaannya berbeda, tetapi MBG tetap dicari cara supaya bisa terus jalan.
Program Besar dengan Sistem yang Rapuh
MBG seolah dirancang dengan anggapan bahwa semuanya akan selalu berjalan normal. Namun, masalahnya, kondisi di lapangan tidak selalu bisa ditebak. Begitu satu hal terganggu, bagian lainnya jadi ikut berantakan.
Selain kasus Karhutla, di tengah gempa NTT pun pembahasan soal MBG tetap muncul. Setelah gempa M7,7 mengguncang NTT dan sejumlah sekolah diliburkan karena rusak, pemerintah membahas pemanfaatan 71 dapur MBG untuk membantu memenuhi kebutuhan makanan para pengungsi.
Dari sini sebenarnya terlihat bahwa MBG tidak harus selalu berjalan dengan cara yang sama. Yang penting bukan bagaimana program ini terus berjalan persis seperti biasa, tetapi bagaimana manfaatnya tetap sampai kepada orang yang memang membutuhkan.
Masalahnya, semakin luas program ini bergerak, semakin banyak juga hal yang harus diperhatikan. Jangan sampai semua keadaan akhirnya dijadikan alasan untuk membuat MBG tetap berputar, tanpa benar-benar melihat apakah cara tersebut masih masuk akal.
Program pemerintah seharusnya mengikuti kebutuhan masyarakat, bukan memaksa masyarakat mengikuti jalannya program.
Kalau MBG Berhenti Sebentar, Memangnya Kenapa?
Di tengah kabut asap, meliburkan siswa karena udara berbahaya seharusnya bukan keputusan yang rumit. Tapi begitu sekolah berhenti, yang dipikirkan justru nasib dapur MBG.
Saya berpikit, kok jadi seperti ada yang lebih panik kehilangan aktivitas dapur daripada memikirkan anak-anak yang harus menghirup asap? Wajar kalau publik kemudian curiga, sebenarnya yang sedang dipertahankan ini kepentingan anak atau roda programnya?
Apalagi MBG bukan sekadar urusan nasi, lauk, dan kotak makanan. Di belakangnya ada dapur, pemasok bahan makanan, tenaga kerja, distribusi, dan tentu saja uang yang terus berputar selama program berjalan.
Jadi, jangan heran kalau muncul celetukan sinis, jangan-jangan yang keberatan dapurnya libur bukan karena takut anak tidak makan, tetapi karena banyak kepentingan ikut berhenti kalau dapurnya ikut berhenti.
Kalau sehari-dua hari saja program berhenti sudah dianggap masalah besar, publik tentu berhak bertanya siapa sebenarnya yang paling dirugikan.
Kalau memang anak-anak adalah alasan utama MBG dibuat, mestinya kepentingan mereka juga yang paling mudah dijadikan alasan untuk berhenti sementara.
Dalam kondisi darurat, seharusnya keselamatan penerima manfaat lebih dulu dipikirkan, sementara urusan dapur dan target program bisa menyesuaikan. Kalau urutannya malah terbalik, wajar kalau muncul prasangka macam-macam.
Jangan-jangan memang bukan anak-anak yang tidak boleh kehilangan MBG. Ada yang takut kehilangan proyeknya.