Kolom

Pengalaman yang Tak Masuk CV: Mengapa Kerja Domestik Dianggap Tak Bernilai?

Pengalaman yang Tak Masuk CV: Mengapa Kerja Domestik Dianggap Tak Bernilai?
Ilustrasi perempuan wawancara kerja (magnific)

Kerja domestik sering dianggap sebagai aktivitas sehari-hari yang tidak membutuhkan keahlian khusus. Padahal, mengurus rumah tangga menuntut kemampuan mengatur waktu, mengelola keuangan, hingga menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga. Banyak dari kemampuan tersebut sebenarnya sangat dekat dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional.

Ironisnya, perempuan yang meninggalkan pekerjaan formal selama bertahun-tahun untuk mengurus rumah tangga sering kali dianggap memiliki career gap yang panjang.

Jeda tersebut diperlakukan seolah-olah menjadi ruang kosong dalam konteks profesional, padahal selama periode itu mereka tetap menjalankan berbagai tanggung jawab dan mengasah banyak kemampuan lewat pekerjaan domestik.

Tak heran, ketika hendak kembali ke dunia kerja, sebagian perempuan merasa harus membangun kariernya dari awal, seakan-akan tahun-tahun yang mereka habiskan untuk mengurus keluarga tidak pernah dihitung sebagai pengalaman.

Lantas, mengapa pengalaman mengurus rumah tangga seolah tidak cukup layak untuk disebut sebagai pengalaman kerja?

Kerja Tanpa Jabatan Bukan Berarti Tidak Punya Skill

Ada kebiasaan untuk menganggap pengalaman kerja hanya lahir dari ruang yang punya meja kantor dan slip gaji. Padahal, banyak kemampuan justru terbentuk dari rutinitas yang terus dilakukan, masalah yang harus diselesaikan, dan keputusan yang harus diambil berulang kali.

Mengurus rumah tangga, misalnya, membutuhkan kemampuan menentukan prioritas. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, pengeluaran yang perlu disesuaikan, jadwal yang harus diatur, dan berbagai masalah yang bisa muncul tanpa pemberitahuan. Memang tidak ada job description yang jelas, tetapi tuntutannya tetap ada dan hasilnya tetap harus beres.

Menariknya, kemampuan seperti ini akan terdengar jauh lebih profesional jika ditempatkan dalam konteks kantor. Misalnya, mengatur pengeluaran bisa disebut budget management. Menentukan mana yang harus didahulukan menjadi prioritization. Menyelesaikan persoalan yang muncul tiba-tiba terdengar seperti problem solving. Istilahnya berbeda, tetapi kemampuan dasarnya mirip.

Masalahnya, perempuan sendiri sering tidak terbiasa melihat aktivitas tersebut sebagai kompetensi. Karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari, semuanya terasa seperti hal biasa.

Ketika Pekerjaan Domestik Dianggap Sekadar Kewajiban

Pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai kewajiban, bukan pekerjaan. Karena dilakukan untuk keluarga dan tidak menghasilkan pendapatan secara langsung, aktivitas tersebut seolah tidak memiliki nilai ekonomi maupun profesional.

Cara pandang ini cukup berpengaruh terhadap bagaimana perempuan menilai dirinya sendiri. Mereka mungkin bisa menjelaskan dengan percaya diri bagaimana mengurus rumah selama bertahun-tahun, tetapi mendadak merasa tidak punya sesuatu untuk ditawarkan ketika harus mengisi kolom pengalaman di CV.

Padahal, mengurus keluarga juga membutuhkan konsistensi yang panjang. Pengalaman semacam ini memang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam angka pencapaian, tetapi bukan berarti tidak membentuk kemampuan.

Menurut saya, di sinilah definisi tentang “kerja” perlu diperluas. Pekerjaan tidak selalu harus memiliki atasan yang memberikan tugas atau perusahaan yang memberikan gaji. Ada pekerjaan yang berlangsung setiap hari, menopang kehidupan orang lain, dan tetap membutuhkan tenaga, waktu, serta kemampuan untuk menjalaninya.

Jangan Paksa Perempuan Membuktikan Diri dari Awal

Selama ini, perempuan yang memutuskan kembali bekerja memiliki beban “membuktikan diri” sekali lagi. Seolah-olah setelah lama mengurus keluarga, mereka harus meyakinkan perusahaan bahwa dirinya masih mampu, masih kompeten, dan masih pantas diberi kesempatan.

Padahal, tantangannya belum tentu terletak pada kemampuan perempuan itu sendiri. Proses rekrutmen sering kali terlalu cepat menganggap career gap sebagai tanda menurunnya kompetensi, tanpa melihat apa yang sebenarnya mereka jalani selama masa tersebut.

Akibatnya, CV lebih sering dibaca dari pengalaman yang terputus daripada kemampuan baru yang mungkin justru berkembang selama jeda karier.

Cara pandang seperti ini juga membuat perempuan berada dalam posisi yang serba salah. Mereka dituntut memiliki pengalaman, tetapi pengalaman yang diperoleh di luar pekerjaan formal tidak selalu dianggap sah. Mereka diminta percaya diri, tetapi lingkungan kerja lebih dulu membuat mereka mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Menurut saya, perempuan yang kembali bekerja tidak harus selalu dianggap sedang mengejar ketertinggalan. Memang, ada hal-hal yang mungkin perlu dipelajari lagi, tetapi bukan berarti waktu bertahun-tahun yang mereka habiskan untuk mengurus keluarga lantas tidak punya arti.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda