Ulasan
Ulasan Artificial City: Mengurai Obsesi Kelas Elite terhadap Kekuasaan
Kemewahan sering kali membuat kehidupan kaum elite terlihat sempurna. Namun, Artificial City justru memperlihatkan sisi lain dari dunia tersebut. Drama ini menunjukkan bahwa posisi tinggi tidak selalu menghadirkan ketenangan, sebab selalu ada kepentingan yang harus dipertahankan dan kekuasaan yang ingin direbut.
Drama rilisan 2021 ini membawa penonton masuk ke dalam kehidupan keluarga konglomerat yang dipenuhi konflik, rahasia, dan permainan kepentingan. Di balik hubungan keluarga yang tampak dekat, terdapat pertarungan untuk menentukan siapa yang berhak berada di posisi paling tinggi.
Lantas, seberapa kuat Artificial City mengolah obsesi terhadap kekuasaan menjadi konflik yang menarik untuk diikuti? Simak ulasan lengkapnya.
Sinopsis Singkat Artificial City
Artificial City mengikuti kehidupan Yoon Jae Hee (Soo Ae), menantu kedua keluarga konglomerat yang mengelola Sungjin Group. Bekerja di galeri seni Space Jin, ia menjalani pernikahan dengan Jung Joon Hyeok (Kim Kang Woo), putra yang lahir di luar pernikahan dari keluarga tersebut.
Usut punya usut, pernikahan itu bukan sekadar urusan rumah tangga karena Jae Hee memiliki ambisi besar untuk membawa suaminya menjadi Presiden Korea Selatan.
Untuk mewujudkan ambisinya, Jae Hee bekerja sama dengan calon Jaksa Agung Korea Selatan dan mulai berhadapan dengan keluarga suaminya sendiri. Dari sinilah konflik berkembang menjadi perang kepentingan yang melibatkan keluarga, bisnis, politik, hingga berbagai rahasia yang selama ini disembunyikan.
Artificial City cukup berhasil memanfaatkan kehidupan kelas atas sebagai bagian penting dari ceritanya. Rumah mewah, galeri seni, pakaian mahal, hingga lingkungan keluarga konglomerat memberikan kesan bahwa semua karakter hidup dalam dunia yang nyaris sempurna.
Visualnya pun mendukung atmosfer tersebut. Penggambaran kehidupan elite dibuat elegan dan berkelas, tetapi nuansanya tetap terasa dingin dan gelap. Kontras antara tampilan yang indah dan konflik yang penuh manipulasi membuat dunia Artificial City terasa cukup khas.
Akting Kuat Menjadi Penggerak Cerita
Salah satu daya tarik Artificial City adalah kualitas akting para pemainnya. Soo Ae tampil meyakinkan sebagai sosok yang dingin, penuh perhitungan, tetapi memiliki sisi rapuh. Karakter seperti ini sebenarnya cukup mudah jatuh menjadi sosok antagonis yang datar, tetapi pembawaannya membuat ambisi tersebut terasa lebih manusiawi.
Hal yang menarik, drama ini juga tidak buru-buru menempatkan penonton pada posisi untuk membela salah satu karakter. Oleh karena itu, konflik yang muncul terasa lebih kompleks daripada sekadar pertarungan antara pihak baik dan pihak jahat.
Kim Kang Woo juga memberikan warna tersendiri dalam dinamika keluarga tersebut. Hubungan antar karakter tidak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga lewat ekspresi dan gestur yang membuat ketegangan terasa meski dalam adegan yang minim aksi.
Alur Berlarut di Balik Premis yang Kuat
Meski punya premis yang kuat, Artificial City bukan drama yang sempurna. Dengan total 20 episode, cerita membutuhkan waktu cukup panjang untuk membawa konflik menuju titik-titik penting. Di beberapa bagian, perkembangan cerita terasa berbelit sehingga ketegangan yang sebelumnya sudah dibangun perlahan menurun.
Buat saya, hal ini cukup disayangkan karena sebenarnya ada banyak materi menarik yang bisa dikembangkan. Namun, penyajiannya yang terlalu berlarut membuat beberapa konflik kehilangan daya kejutnya.
Meski begitu, Artificial City tetap punya daya tarik bagi penonton yang menyukai drama penuh intrik. Kalau kamu menikmati cerita yang mengajak melihat sisi gelap ambisi dan kehidupan elite, drama ini masih cukup menarik untuk masuk daftar tontonan.