Kolom
Saat Satu Pohon di Papua Ditebang, Satu Kata Ikut Hilang
Saya sebenarnya sudah cukup lama duduk di Ruang Tembawang ketika seorang lelaki di samping saya tiba-tiba mengajak kami berpikir tentang negara. Bukan negara yang selama ini kita kenal, katanya. Ia sedang membayangkan apakah mungkin kita memikirkan bentuk negara dengan cara yang sama sekali berbeda, setelah melihat begitu banyak persoalan masyarakat adat yang seperti tidak pernah selesai.
Ada satu kalimatnya yang sampai sekarang justru tidak bisa saya lupakan dari seseorang bernama Tori Kalami dari Komunitas Hukum Adat Suku Moi, Sorong, Papua. Pernyataan itu disampaikannya dalam diskusi panel tentang transisi energi berkeadilan dan kedaulatan pangan di People’s Conservation Summit 2026.
“Ketika satu pohon endemik hilang dari hutan kami akibat penggusuran tambang atau sawit, maka terdapat satu kosakata dalam bahasa daerah kami yang ikut hilang selamanya dari peradaban manusia.” Tori kemudian memberi contoh kayu besi, ketika pohonnya punah, kata untuk menyebut pohon itu juga dapat lenyap dari ingatan kolektif.
Awalnya saya kira kalimat itu hanyalah kalimat puitis dari seorang manusia yang sedang kesal melihat hutannya rusak. Tetapi semakin dipikirkan, ternyata persoalannya jauh lebih serius. Sebab, siapa bilang hutan hanya berisi pohon saja?
Bagi orang kota, pohon barangkali cuma pohon. Ia berdiri, berdaun, lalu sesekali menjadi tempat parkir motor karena lahan parkir kurang. Tetapi bagi masyarakat yang kehidupannya dibangun bersama hutan, satu tumbuhan bisa menyimpan makanan, obat, pengetahuan, cerita, ritual, bahkan sebuah nama sakral.
Penelitian Maria Arina Luardini yang diterbitkan dalam “Language Sciences” pada 2019 menemukan hal menarik pada masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Mereka mendokumentasikan 36 nama tumbuhan obat yang bukan sekadar nama. Sebagian penamaannya berkaitan dengan warna, bentuk, tempat tumbuh, bahkan karakter ekologis tumbuhan tersebut.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kedekatan bahasa Dayak Ngaju dengan lingkungan membuat kerusakan lingkungan sekaligus mengancam leksikon yang berkaitan dengan tumbuhan.
Jadi, ketika sebuah tumbuhan menghilang, persoalannya bukan semata-mata kehilangan satu spesies belaka. Bisa jadi yang ikut menghilang adalah pengetahuan mengenai bagaimana tumbuhan itu digunakan, siapa yang boleh mengambilnya, kapan ia dipanen, untuk penyakit apa ia dipakai, atau cerita apa yang menyertainya.
Di sinilah gagasan tentang biocultural diversity menjadi penting. Antropolog Luisa Maffi menjelaskan bahwa keanekaragaman biologis, budaya, dan bahasa memiliki hubungan yang erat. Ketiganya adalah bagian dari keberagaman kehidupan yang saling berkelindan. Karena itu, tekanan terhadap satu bentuk keberagaman dapat ikut mengancam bentuk keberagaman lainnya.
Papua memberi kita gambaran betapa besar dunia yang sedang dipertaruhkan. Badan Bahasa pernah mencatat terdapat 428 bahasa daerah di Tanah Papua. Sebagian berada dalam kondisi rentan hingga terancam punah.
Penelitian tentang Papua Nugini bahkan menemukan hubungan yang lebih terang. Studi terhadap 6.190 pelajar yang menggunakan 392 bahasa Indigenous menunjukkan bahwa menurunnya kemampuan berbahasa Indigenous berjalan bersama menurunnya pengetahuan tradisional mengenai tumbuhan dan satwa. Pengetahuan tentang alam ternyata tidak berdiri di luar bahasa. Ia ikut hidup di dalamnya.
Maka saya mulai memahami maksud Tori. Ia barangkali tidak sedang membuat rumus matematika bahwa satu pohon pasti memiliki satu kata, lalu ketika pohon tumbang, kata itu langsung masuk liang lahat. Bahasa tidak bekerja sesederhana itu.
Yang ia bicarakan adalah relasi. Manusia mengenali tempat karena ia hidup di sana. Ia memberi nama kepada apa yang ditemuinya, membuat aturan mengenai apa yang boleh diambil, menyusun ritual, menurunkan cerita, lalu mengajarkan semuanya kepada anak-anaknya. Lama-kelamaan, alam menjadi bagian dari cara manusia memahami dirinya sendiri.
Karena itu, ketika hutan digusur untuk tambang, perkebunan, jalan, atau proyek pembangunan, yang hilang sebenarnya bisa jauh lebih banyak daripada luas tutupan hutan dalam angka statistik. Yang terputus adalah hubungan manusia dengan tempatnya.
Di forum yang sama, Afrida Erna Ngato dari masyarakat adat Pagu, Halmahera Utara, mengatakan bahwa ketika hubungan masyarakat dengan tanah terputus, yang hilang bukan hanya kehidupan material, tetapi juga identitas budaya.
Mungkin selama ini kita terlalu pandai menghitung kehilangan hutan dalam hektar. Kita menghitung pohon dalam batang, karbon dalam ton, dan kompensasi dalam rupiah. Tetapi bagaimana kalau ada kehilangan yang tidak masuk dalam tabel mana pun?
Satu cerita yang tidak lagi diceritakan, satu ritual yang tidak lagi dilakukan, satu pengetahuan yang tidak lagi diwariskan. Dan mungkin, satu kata yang perlahan terlupakan makna sakralitasnya sebab tidak pernah di sebutkan lagi dalam percakapan keseharian.
Barangkali itulah sebabnya menjaga hutan tidak pernah sesederhana menjaga pohon. Kita sedang menjaga kemungkinan agar manusia masih mempunyai tempat untuk mengingat siapa dirinya.