Kolom

Ekonomi di Era Algoritma: Ketika Semua Profesi Harus Punya Exposure

Ekonomi di Era Algoritma: Ketika Semua Profesi Harus Punya Exposure
Ilustrasi seseorang membuat konten (magnific)

Dulu, rasanya orang bisa dengan mudah dikenal karena memang jago dengan pekerjaannya. Dokter dikenal karena keahliannya, penulis karena tulisannya, dan koki karena masakannya. Pedagang pun cukup memikirkan bagaimana membuat dagangannya enak dan membuat pelanggan mau datang lagi.

Media sosial memang bisa membantu memperkenalkan pekerjaan, tetapi keberadaannya tidak terasa seperti sesuatu yang harus dipikirkan setiap hari. Namun, belakangan, rasanya keadaan mulai bergeser. Punya usaha saja belum cukup kalau tidak dibarengi dengan konten.

Zaman sekarang, punya skill perlu ditunjukkan lewat personal branding. Bahkan orang-orang yang bekerja di bidang yang sangat spesifik pun seolah perlu memikirkan bagaimana caranya agar keterampilan mereka bisa ditemukan di media sosial. Mungkin ini salah satu konsekuensi dari ekonomi di era algoritma. Perhatian menjadi sesuatu yang punya nilai, dan media sosial menjadi tempat untuk memperebutkannya. Lantas, bagaimana nasib orang-orang yang punya kemampuan, tetapi tidak ingin menjadikan dirinya sebagai konten?

Kemajuan Digital Mengubah Cara Kita Bekerja

Ada perubahan dalam cara sebuah pekerjaan mendapatkan nilai di ruang digital. Kualitas tetap penting, tetapi punya skill mumpuni belum tentu membuat seseorang mudah ditemukan. Tidak bisa dimungkiri, mereka yang lebih sering muncul di internet punya peluang lebih besar untuk dikenal, dipercaya, lalu dipilih. Dari sini, exposure perlahan berubah menjadi bagian dari modal untuk bekerja.

Perhatian sendiri jumlahnya terbatas. Semua orang berebut tempat di linimasa yang sama, sementara algoritma ikut menentukan siapa dan apa yang mendapatkan ruang lebih besar di hadapan kita. Tidak heran kalau kemampuan menarik perhatian akhirnya punya nilai tersendiri, bahkan bagi profesi yang sebelumnya tidak punya hubungan dengan dunia hiburan. Misalnya, dokter membuat konten edukasi atau pemilik usaha membuat konten dagangannya media sosial. Hal itu dilakukan bukan karena semuanya ingin menjadi influencer, tetapi karena begitulah cara pasar digital bekerja sekarang.

Tuntutan untuk Terus Membangun Citra

Dari sini, masalahnya mulai bergeser dari sekadar penggunaan media sosial menjadi sesuatu yang lebih personal. Kita tidak hanya dituntut memasarkan barang, jasa, atau karya, tetapi juga diri sendiri. Kepribadian, cara bicara, penampilan, pengalaman, sampai cerita kehidupan bisa ikut dikemas sebagai bagian dari identitas profesional atau personal branding. Akhirnya, reputasi yang dulu dibangun lewat karya, pengalaman, dan relasi profesional kini juga dibentuk dari apa yang kita tampilkan di internet setiap hari.

Masalahnya, membangun citra diri di media sosial berarti ada tuntutan untuk terus muncul, terus aktif, dan terus punya sesuatu untuk dibagikan. Dari sini muncul rasa lelah yang sering luput dibicarakan. Hidup yang seharusnya menjadi ruang untuk diri sendiri perlahan menjadi konsumsi publik.

Privasi sebagai Privilege di Tengah Budaya Exposure

Tidak semua orang ingin dikenal luas, dan menurut saya keinginan untuk tetap privat seharusnya tetap punya tempat. Ada orang yang ingin karyanya diapresiasi tanpa wajahnya ikut dikenal. Ada yang ingin pelanggan datang karena kualitas produknya, bukan karena kehidupan pribadinya menarik untuk diikuti.

Ironisnya, memilih untuk tidak banyak muncul di media sosial justru bisa membuat seseorang terlihat tertinggal. Mereka yang rutin membuat konten lebih mudah ditemukan dan perlahan dianggap lebih kredibel, sementara orang yang memilih menjaga jarak dari media sosial harus menghadapi anggapan bahwa dirinya kurang aktif atau kurang mampu menawarkan sesuatu.

Padahal, kualitas kerja tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa sering seseorang muncul di media sosial. Kemampuan untuk terus membangun eksistensi digital juga tidak dimiliki semua orang. Membuat konten membutuhkan perangkat, kemampuan, ide, sekaligus tenaga yang tidak selalu mudah disediakan. Oleh karena itu, tuntutan untuk terus terlihat sebenarnya tidak berdampak sama bagi semua orang.

Bagi sebagian orang, media sosial bisa menjadi sarana untuk membuka peluang. Namun bagi yang lain, tuntutan tersebut justru menambah satu pekerjaan baru, yaitu mengurus bagaimana dirinya tetap terlihat di tengah persaingan algoritma.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda