Kolom

Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?

Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?
Ilustrasi tekanan saat bekerja (Pexels/Kampus Production)

Di era modern, kesuksesan karier sering dipandang sebagai tolok ukur utama keberhasilan hidup. Gelar pendidikan, jabatan, kenaikan gaji, hingga pencapaian profesional menjadi simbol yang terus dikejar. Di sisi lain, semakin banyak orang mulai menyadari pentingnya kesehatan mental sebagai fondasi untuk menjalani hidup yang berkualitas. Persoalannya, kedua hal ini sering diposisikan seolah-olah saling bertentangan: jika ingin karier melesat, seseorang harus siap mengorbankan kesehatan mental; sementara jika ingin menjaga kesehatan mental, ia dianggap kurang ambisius atau tidak siap bersaing.

Narasi semacam ini semakin menguat di tengah budaya kerja yang serba cepat, kompetitif, dan menuntut produktivitas tanpa henti. Banyak orang akhirnya merasa terjebak dalam dilema: bertahan demi karier dengan risiko kelelahan psikologis, atau memilih menjaga diri tetapi khawatir kehilangan kesempatan berkembang.

Padahal, benarkah karier dan kesehatan mental memang tidak bisa berjalan berdampingan?

Ketika Kesuksesan Diukur dari Produktivitas

Dalam psikologi organisasi, produktivitas memang menjadi salah satu indikator penting dalam dunia kerja. Namun, dalam praktiknya, produktivitas sering kali mengalami pergeseran makna. Bekerja keras bukan lagi sekadar memenuhi tanggung jawab, melainkan menjadi identitas seseorang. Semakin sibuk, semakin dianggap berhasil.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep hustle culture, yaitu budaya yang mengagungkan kerja tanpa henti sebagai jalan menuju kesuksesan. Istilah ini banyak dibahas dalam kajian psikologi kerja karena berkaitan dengan meningkatnya stres kronis, kelelahan emosional, hingga penurunan kesejahteraan psikologis.

Media sosial ikut memperkuat budaya tersebut. Linimasa dipenuhi kisah pengusaha muda, pekerja dengan berbagai proyek, hingga unggahan tentang bekerja sejak subuh hingga larut malam. Yang jarang terlihat adalah cerita tentang kecemasan, gangguan tidur, konflik keluarga, atau kelelahan yang mereka alami.

Akibatnya, banyak orang membandingkan dirinya dengan standar yang tidak utuh. Mereka merasa tertinggal hanya karena tidak seproduktif orang lain, padahal setiap individu memiliki kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi yang berbeda.

Burnout Bukan Sekadar Lelah

Salah satu dampak paling nyata dari tekanan kerja adalah burnout. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.

Burnout bukan hanya rasa lelah setelah bekerja. Kondisi ini ditandai oleh tiga komponen utama, yaitu kelelahan emosional yang berkepanjangan, munculnya sikap sinis atau menjauh dari pekerjaan, serta menurunnya efektivitas dan rasa percaya diri terhadap kemampuan sendiri.

Ironisnya, banyak orang baru menyadari dirinya mengalami burnout ketika gejalanya sudah cukup berat. Mereka menganggap sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, atau sulit berkonsentrasi sebagai hal yang wajar karena pekerjaan memang menuntut pengorbanan.

Padahal, jika kondisi tersebut terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan secara psikologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dapat meningkatkan risiko gangguan tidur, penyakit kardiovaskular, gangguan pencernaan, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh. Artinya, kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan erat.

Mengapa Kita Sulit Berhenti?

Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk diakui. Dalam teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, penghargaan (esteem needs) merupakan salah satu kebutuhan penting sebelum seseorang mencapai aktualisasi diri.

Masalah muncul ketika penghargaan diri hanya bergantung pada pencapaian karier. Jabatan, bonus, atau promosi menjadi satu-satunya sumber rasa berharga. Ketika target tidak tercapai, seseorang mudah merasa gagal, meskipun kehidupan pribadinya sebenarnya berjalan baik.

Fenomena ini juga dijelaskan dalam teori Self-Determination yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan. Menurut teori ini, kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh terpenuhinya tiga kebutuhan dasar manusia, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain.

Jika seseorang terus bekerja dalam lingkungan yang membuatnya kehilangan kendali atas hidup, merasa tidak dihargai, atau terisolasi secara sosial, motivasi intrinsiknya akan menurun. Akibatnya, pekerjaan tidak lagi memberikan kepuasan, melainkan menjadi sumber tekanan.

Apakah Berhenti Bekerja Menjadi Solusinya?

Beberapa tahun terakhir muncul tren quiet quitting, career break, hingga slow living. Banyak orang memilih mengurangi intensitas kerja demi menjaga keseimbangan hidup.

Namun, keputusan meninggalkan pekerjaan tidak selalu menjadi solusi terbaik. Bagi sebagian orang, pekerjaan justru memberikan makna, rasa percaya diri, stabilitas ekonomi, hingga kesempatan untuk berkembang.

Yang menjadi persoalan bukanlah pekerjaan itu sendiri, melainkan lingkungan kerja yang tidak sehat, beban yang tidak realistis, kepemimpinan yang buruk, atau budaya organisasi yang mengabaikan kesejahteraan karyawan.

Karena itu, solusi yang lebih relevan bukan sekadar keluar dari pekerjaan, tetapi menciptakan sistem kerja yang lebih manusiawi. Perusahaan memiliki tanggung jawab menyediakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental melalui beban kerja yang proporsional, komunikasi yang sehat, fleksibilitas ketika memungkinkan, serta akses terhadap dukungan psikologis.

Kesehatan Mental Bukan Musuh Ambisi

Ada anggapan bahwa menjaga kesehatan mental berarti mengurangi ambisi. Pandangan ini sebenarnya kurang tepat.

Justru berbagai penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa individu dengan kesejahteraan psikologis yang baik cenderung memiliki kreativitas lebih tinggi, kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik, hubungan kerja yang lebih sehat, serta produktivitas yang lebih konsisten.

Sebaliknya, bekerja secara terus-menerus tanpa pemulihan hanya menghasilkan produktivitas semu. Seseorang mungkin tampak sibuk, tetapi kualitas pekerjaannya menurun karena energi mental yang terkuras.

Dengan kata lain, menjaga kesehatan mental bukan berarti bekerja lebih sedikit, melainkan bekerja dengan lebih berkelanjutan.

Menemukan Titik Seimbang yang Realistis

Konsep work-life balance sering dipahami sebagai pembagian waktu yang sama rata antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Padahal, keseimbangan tidak selalu berarti lima puluh banding lima puluh.

Ada masa ketika pekerjaan memang membutuhkan perhatian lebih, misalnya saat menyelesaikan proyek besar. Ada pula masa ketika keluarga, kesehatan, atau pemulihan diri harus menjadi prioritas.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menyesuaikan prioritas tanpa kehilangan kendali atas kehidupan. Fleksibilitas inilah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Keseimbangan juga berbeda bagi setiap individu. Ada orang yang menikmati ritme kerja cepat dan tetap merasa bahagia, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih banyak untuk beristirahat atau bersama keluarga. Tidak ada satu rumus yang berlaku untuk semua.

Mengubah Cara Pandang tentang Kesuksesan

Mungkin selama ini kita terlalu sering memandang kesuksesan dari apa yang tampak di luar: jabatan, pendapatan, penghargaan, atau pencapaian profesional. Padahal, keberhasilan juga dapat diukur dari kemampuan seseorang menjalani hidup tanpa kehilangan kesehatan, hubungan sosial, dan ketenangan batin

Karier yang cemerlang tetapi dibangun di atas kecemasan yang terus-menerus bukanlah kemenangan yang utuh. Sebaliknya, menjaga kesehatan mental bukan berarti menyerah terhadap mimpi. Justru pikiran yang sehat memberi ruang bagi seseorang untuk terus belajar, beradaptasi, dan bertahan menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, pertanyaan "karier atau kesehatan mental?" mungkin memang keliru sejak awal. Keduanya bukan dua kutub yang harus saling mengalahkan, melainkan dua aspek kehidupan yang saling menopang.

Karier memberi kesempatan untuk berkembang dan berkarya. Kesehatan mental memberi kemampuan untuk menikmati prosesnya. Tanpa karier, seseorang mungkin kehilangan arah dalam berkarya. Namun tanpa kesehatan mental, bahkan pencapaian tertinggi pun bisa terasa hampa. Maka, tantangan terbesar bukan memilih salah satunya, melainkan membangun kehidupan yang memungkinkan keduanya tumbuh secara bersamaan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda