Kolom

Nasihat Mindfulness dari Menara Gading: Bijak, Tapi Kurang Napak Tanah

Nasihat Mindfulness dari Menara Gading: Bijak, Tapi Kurang Napak Tanah
Konten Maudy Ayunda soal mindfulness menuai kritik keras (tangkapan layar YouTube)

Maudy Ayunda menuai kritik setelah mengunggah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Dalam video tersebut, ia membicarakan rasa kewalahan menghadapi begitu banyak kabar buruk dan membagikan refleksi tentang bagaimana tetap peduli tanpa ikut tenggelam secara emosional. Tak hanya itu, ia juga mengajak penonton mengatur konsumsi berita agar tetap bisa menjaga kewarasan.

Konten tersebut kemudian mendapat respons keras dari netizen. Di tengah berbagai kekacauan yang tengah melanda Indonesia seperti karhutla, bencana, hingga kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat, ajakan untuk mengambil jarak dari berita dianggap kurang peka terhadap kondisi sebagian besar rakyat Indonesia.

Bagi orang yang hidupnya tidak ikut terdampak, berita buruk mungkin memang bisa ditutup lalu ditinggalkan sebentar. Tapi bagi orang yang keluarganya terdampak bencana, pekerjaannya terganggu, atau hidupnya ikut berubah karena kebijakan yang bermasalah, mana bisa masalah selesai cuma karena berita di ponsel sudah ditutup?

Mindfulness Bukan Nasihat yang Netral

Menurut saya, masalah dari konten Maudy sebenarnya bukan terletak pada mindfulness-nya. Kita memang perlu tahu kapan harus berhenti scroll berita supaya kepala tidak penuh. Tidak mungkin juga kita membaca semua berita, lalu berharap pikiran tetap adem. Ada kalanya kita memang perlu memberi jeda ke diri sendiri.

Hanya saja, nasihat seperti ini tetap punya konteks. Mindfulness mungkin terdengar menenangkan kalau kita masih punya ruang untuk menarik napas dan mengatur ulang hidup. Tapi kondisi setiap orang kan tidak begitu.

Apalagi kalau yang menyampaikan adalah figur publik. Begitu pemikiran pribadi dibagikan ke banyak orang, responsnya tentu tidak bisa dikontrol.

Berita Bisa Di-Mute, Dampaknya Tidak

Masalahnya, berita buruk bagi sebagian orang bukan berita. Jadi, menyuruh orang mengambil jeda dari berita tidak selalu sesederhana menyuruh mereka menutup aplikasi.

Di sini, jarak punya pengaruh besar. Orang yang hanya melihat kekacauan dari layar tentu punya pilihan untuk berhenti, lalu kembali menjalani hari seolah tidak ada masalah yang terjadi. Namun, bagi orang yang kehidupannya ikut terseret oleh kekacauan tersebut, mengambil jeda tidak otomatis membuat masalah ikut berhenti.

Oleh karena itu, saya rasa yang membuat nasihat tersebut terasa kurang mengena bukan karena orang tidak boleh menjaga kesehatan mental. Silakan berhenti membaca berita kalau memang sudah terlalu penuh. Hanya saja, kita juga perlu sadar bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari sebuah masalah tidak dimiliki semua orang. Ada orang yang sedang membaca berita karena memang tidak punya pilihan untuk tidak peduli.

Dari Menara Gading, Semua Masalah Memang Terlihat Jauh

Ada enaknya memang punya cukup jarak dari kekacauan. Hidup masih bisa dilanjutkan seperti biasa karena masalah yang tadi dilihat di layar tidak benar-benar masuk ke kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, tidak semua orang tinggal di tempat senyaman itu. Ada yang melihat berita karena ingin tahu kondisi keluarganya, daerahnya, pekerjaannya, atau masa depannya. Bagi mereka, berita buruk bukan tontonan yang bisa dihentikan kapan saja.

Mungkin inilah salah satu jarak yang membuat nasihat Maudy terasa kurang sampaike masyarakat. Dari menara gading, saran untuk mengambil jeda terdengar seperti nasihat yang bijak.

Di sinilah pentingnya punya common sense untuk napak tanah. Bukan berarti Maudy harus mengalami semua penderitaan rakyat. Tetapi setidaknya, ada usaha untuk melihat bahwa kehidupan orang lain bukan sekadar bad news yang mengganggu mindfulness-nya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda