Kolom
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
"Eh, kopi yang ini lagi viral banget. Udah coba belum?"
Kalimat sederhana itu bisa berakhir dengan satu pesanan es kopi susu, extra syrup, atau topping manis yang sebenarnya tidak sedang kita butuhkan. FOMO ngopi perlahan membuat kopi bergeser dari sekadar minuman menjadi tiket untuk ikut tren, nongkrong, bahkan merasa tetap nyambung dengan circle.
Ketika Ngopi Bukan Lagi Soal Kopi
Dulu, ngopi mungkin identik dengan pahit, aroma biji kopi, atau obrolan panjang di warung. Sekarang, segelas kopi juga punya fungsi sosial. Ada foto meja, logo kedai, gelas yang estetik, sampai unggahan coffee run sebelum kelas atau kerja. Masalahnya muncul ketika pengalaman ngopi lebih sering dicari lewat rasa manis daripada kopinya sendiri.
Banyak minuman kopi kekinian memang dibuat dengan susu, sirup, gula, krimer, atau topping. Rasanya jadi lebih mudah diterima lidah yang belum terbiasa dengan kopi pahit. Sekali cocok, pesan menu yang sama lagi terasa seperti keputusan otomatis.
Di titik ini, FOMO punya peran. Kita bukan cuma takut ketinggalan tempat nongkrong atau menu viral. Kita juga bisa ikut membentuk kebiasaan konsumsi karena lingkungan digital terus memperlihatkan apa yang sedang diminum orang lain.
Penelitian terhadap 46 mahasiswa di Singapura yang diterbitkan dalam Public Health Nutrition menemukan bahwa konten makanan di media sosial banyak berisi promosi restoran, harga, tampilan makanan, dan narasi tren. Aktivitas sosial anak muda kemudian kerap ikut berputar di sekitar makanan yang dipasarkan tersebut.
Jadi, ketika timeline dipenuhi konten kopi, keputusan membeli bisa terasa seperti pilihan pribadi, padahal ada lingkungan sosial dan pemasaran yang ikut mendorongnya.
Gula Ikut Viral Bersama Kopinya
Yang kita lupa dari obrolan soal budaya ngopi adalah isi gelasnya. WHO merekomendasikan konsumsi free sugars kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Untuk manfaat tambahan, WHO menyarankan agar jumlah tersebut ditekan hingga kurang dari 5 persen. Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman, termasuk oleh konsumen sendiri.
Artinya, gula dari kopi susu, sirup, saus, dan berbagai tambahan manis tetap perlu dihitung sebagai bagian dari konsumsi gula harian. Persoalannya, ketika kopi manis diminum rutin, gula tersebut gampang terasa tidak signifikan karena bentuknya cuma segelas minuman.
Padahal, segelas kopi sering datang bersama makanan lain. Belum sarapan, pesan kopi. Siang ngantuk, beli kopi. Sore diajak teman, ngopi lagi. Kalau semua pilihannya cenderung manis, asupan gula bisa terkumpul tanpa terasa.
Yang menarik, masalahnya juga berkaitan dengan cara media sosial bekerja. Sebuah studi eksperimental pada 63 anak muda usia 18–24 tahun menemukan bahwa paparan konten makanan tidak sehat di Instagram meningkatkan rasa lapar dan keinginan terhadap makanan tertentu dibandingkan paparan konten kontrol.
Penelitian lain pada 95 orang dewasa muda di Singapura juga menemukan bahwa mereka yang mengikuti akun merek makanan dan minuman di media sosial terpapar lebih banyak pesan pemasaran yang memicu craving.
Jadi, persoalannya bukan sesederhana anak muda kurang bisa menahan diri. Ada ekosistem digital yang membuat makanan dan minuman terus muncul sebagai sesuatu yang menarik untuk dibeli.
Kopi kemudian menjadi produk yang cocok banget dengan ekosistem tersebut sehingga mudah difoto, gampang dibagikan, punya banyak varian, dan bisa dijadikan simbol gaya hidup.
Bukan Berhenti Ngopi, Tapi Berhenti Ikut-Ikutan
Mengurangi ketergantungan pada gula tidak berarti semua orang harus mendadak minum kopi hitam tanpa gula. Bagi banyak orang, ngopi adalah cara bersosialisasi, mencari jeda, atau sekadar menikmati waktu setelah hari yang melelahkan.
Yang perlu dipertanyakan justru kebiasaan otomatisnya jika “Aku memang ingin minum kopi ini, atau aku cuma nggak mau ketinggalan?” Pertanyaan kecil tersebut bisa mengubah cara kita mengambil keputusan.
Mulai dari meminta tingkat gula lebih rendah, mengurangi sirup dan topping, memilih ukuran yang lebih kecil, atau tidak menjadikan minuman manis sebagai teman wajib setiap kali nongkrong. Lidah juga bisa dibiasakan secara bertahap tidak harus ekstrem.
Literasi digital juga punya tempat penting di sini. Ketika melihat minuman viral di TikTok atau Instagram, kita bisa membedakan antara rekomendasi teman, pengalaman pribadi, dan konten yang memang bagian dari strategi pemasaran.
Sebab, kalau setiap tren langsung diterjemahkan menjadi transaksi, FOMO akhirnya bukan cuma menguras saldo. Ia bisa ikut membentuk pola makan yang terus terbawa ke kehidupan sehari-hari.
WHO sendiri menempatkan pengurangan konsumsi gula sebagai bagian penting dari pencegahan karies dan pola makan yang lebih sehat. Konsumsi gula bebas yang tinggi berkaitan dengan risiko kerusakan gigi dan kenaikan berat badan yang tidak sehat.
Mungkin sudah waktunya budaya ngopi Gen Z punya definisi baru. Nongkrong tetap boleh. Coba menu viral juga sah-sah saja. Upload story pun bukan dosa.
Namun, segelas kopi tidak harus selalu menjadi bukti bahwa kita mengikuti tren.
Kadang, pilihan yang paling keren justru ketika kita bisa bilang, Aku beli karena memang mau, bukan karena takut ketinggalan.