Kolom

Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Mulai Melihat Kemiskinan secara Sistemik?

Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Mulai Melihat Kemiskinan secara Sistemik?
Ilustrasi Gen Z (pexels/Anastasiya Gepp)

Beberapa malam lalu, seorang teman saya bercerita di sebuah kedai kopi dengan nada bicara yang campur aduk antara lelah dan berserah. Ia adalah seorang pekerja keras yang saban hari mengambil lemburan, bahkan menyambi beberapa pekerjaan lepas (freelance) di akhir pekan.

Namun, setelah tiga tahun memeras keringat di dunia kerja, ia menyadari saldo tabungannya hampir tak menunjukkan pergerakan berarti. "Dulu saya selalu berpikir kalau hidup saya begini-begini saja, artinya saya yang kurang kerja keras," ujarnya sambil mengaduk kopinya.

Namun, belakangan ini, sudut pandangnya berubah total. Ia menyadari bahwa masalah keuangan yang dialaminya bukan semata-mata karena kegagalan pribadi atau kemalasan, melainkan karena ada faktor-faktor struktural dan sistemik yang memang menjepit generasinya.

Sikap dan pergeseran cara pandang teman saya ini sama sekali bukan bentuk sikap meratap atau melarikan diri dari tanggung jawab pribadi. Riset tahunan World Economic Forum (WEF) dalam Global Risks Report menyoroti bahwa krisis biaya hidup (cost-of-living crisis) dan ketimpangan ekonomi merupakan salah satu ancaman jangka pendek terbesar bagi generasi muda secara global.

Selain itu, laporan dari International Labour Organization (ILO) juga mencatat bahwa laju pertumbuhan upah riil di banyak negara kerap tertinggal jauh di belakang tingkat inflasi serta kenaikan harga kebutuhan dasar. Temuan ilmiah dan data global ini sangat sejalan dengan realitas yang disadari oleh teman saya: di tengah struktur ekonomi saat ini, rumus "asal kerja keras pasti kaya" sudah kehilangan kesaktiannya.

Substansi paling riil dari kesadaran baru ini bermula dari fakta ketimpangan antara pendapatan dan harga kebutuhan pokok. Teman saya memperlihatkan kalkulasi sederhana: kenaikan gajinya setiap tahun rata-rata hanya berkisar lima hingga sepuluh persen, sementara kenaikan harga barang pokok, biaya sewa tempat tinggal, hingga harga properti melonjak jauh lebih tinggi.

Bekerja delapan hingga sepuluh jam sehari di depan laptop tidak lagi menjamin seorang anak muda bisa membeli rumah impian atau mencapai kestabilan finansial seperti yang dinikmati generasi orang tua mereka di masa lalu. Kesadaran bahwa sulitnya akses hunian dan minimnya batas upah minimum adalah produk dari kebijakan publik, bukan semata kesalahan individu—membuat cara pandangnya terhadap kegagalan ekonomi berubah secara fundamental.

Selain masalah inflasi dan properti, ada faktor struktur pasar kerja yang kian tidak menentu. Teman saya juga menyoroti bagaimana maraknya skema kerja kontrak, pekerjaan fleksibel (gig economy) tanpa jaminan kesehatan, serta ketimpangan struktur gaji awal (entry-level salary) yang stagnan selama bertahun-tahun. Ketika seorang pekerja muda dituntut memiliki kualifikasi tinggi namun dihargai dengan gaji yang pas-pasan, menyalahkan diri sendiri karena "kurang gigih" menjadi sebuah narasi yang toksik dan tidak masuk akal. Bagi teman saya dan banyak anak muda Gen Z lainnya, narasi hustle culture yang memuja kerja keras tanpa batas kini terasa sekadar retorika kosong yang mengabaikan kenyataan lapangan.

Hal yang paling melegakan dari pergeseran paradigma ini adalah berkurangnya beban rasa bersalah (guilt trip) yang teramat berat pada kesehatan mental. Selama ini, banyak anak muda merasa depresi karena menganggap kegagalan menabung adalah bukti kekurangmampuan diri. Ketika teman saya mulai memahami adanya hambatan sistemik seperti inflasi dan kebijakan ekonomi, ia tidak lagi menghakimi dirinya secara destruktif. Pemahaman ini bukan berarti membuat ia berhenti berusaha atau bermalas-malasan, melainkan membuatnya menjadi lebih realistis, bijak dalam mengelola ekspektasi, dan terdorong untuk lebih kritis melihat kebijakan publik.

Fenomena ini menjelaskan mengapa Generasi Z kini lebih vokal menyuarakan isu-isu sosial, reformasi upah, dan keterjangkauan harga kebutuhan hidup. Kami bukan generasi yang enggan berjuang, kami hanya menuntut kejujuran dalam melihat realitas ekonomi.

Bagi saya dan teman saya, kesadaran bahwa kemiskinan dan stagnasi ekonomi memiliki akar masalah sistemik adalah langkah awal menuju kedewasaan bersikap. Sudut pandang ini mengajak kita untuk tidak mudah menghakimi perjuangan finansial seseorang hanya dari luar. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu mendengarkan jeritan realitas ini: menciptakan lapangan kerja yang layak, menahan laju inflasi bahan pokok, dan menyediakan akses hunian yang terjangkau bagi generasi muda.

Ukuran kesuksesan seorang pekerja tidak boleh hanya dibebankan pada seberapa keras ia membanting tulang, melainkan juga pada seberapa adil sistem ekonomi memberikan ruang baginya untuk tumbuh dan hidup secara layak.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda