Kolom

Kolektor Pengetahuan yang Tak Pernah Belajar: Ironi di Balik Fitur 'Simpan'

Kolektor Pengetahuan yang Tak Pernah Belajar: Ironi di Balik Fitur 'Simpan'
Ilustrasi Orang Membuka Folder Simpan (Chat GPT)

Pagi-pagi sebelum sempat menyeduh teh atau menyapu halaman, banyak dari kita sudah lebih dulu menyapu layar ponsel. Jempol bergerak naik tanpa komando. Dalam hitungan menit, kita bisa menyaksikan kecelakaan, perdebatan politik, gosip selebritas, prediksi kiamat ekonomi, resep bakso aci, tips menanam melon, hingga video kucing yang sedang tidur nyenyak. Semua hadir dalam satu tempat yang sama: beranda media sosial.

Aneh memang. Teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia memperoleh informasi, tetapi semakin mudah informasi didapatkan, semakin sulit pula kita menentukan mana yang benar-benar penting.

Beberapa waktu lalu saya iseng membuka folder "tersimpan" di Instagram. Saya kira isinya hanya beberapa video yang suatu hari akan saya pelajari. Ternyata jumlahnya sudah ratusan.

Ada tutorial menanam cabai. Ada tips menulis novel. Ada rekomendasi buku yang katanya bisa mengubah hidup. Ada video tentang manajemen waktu, public speaking, belajar bahasa Inggris, sampai cara membuat pupuk organik.

Masalahnya satu: hampir semuanya belum pernah saya buka lagi.

Saya mendadak merasa seperti kolektor pengetahuan yang tidak pernah belajar.

Belum sempat merasa bersalah, Instagram kembali menyodorkan informasi baru. Katanya Sarwendah begini. Andre Taulany begitu. Besok muncul kabar selebritas lain. Lusa muncul klarifikasi. Besoknya muncul tanggapan terhadap klarifikasi. Setelah itu muncul podcast berdurasi dua jam yang membahas tanggapan atas tanggapan tersebut.

Entah siapa yang memulai lingkaran itu.

Yang jelas, kita semua ikut berputar di dalamnya.

Dulu orang menunggu koran pagi atau berita malam. Hari ini berita datang tanpa diundang. Ia muncul saat kita sedang bekerja, makan, belajar, bahkan menjelang tidur. Tidak ada jeda. Tidak ada waktu untuk mencerna. Yang ada hanya arus yang terus mengalir dan meminta perhatian.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering berada pada posisi yang membingungkan. Setiap orang bisa menjadi sumber informasi. Setiap akun bisa mengaku paling tahu. Setiap unggahan bisa tampil seolah-olah sebagai fakta. Padahal belum tentu demikian.

Saya teringat pada berbagai tokoh media sosial yang dengan percaya diri menjelaskan banyak hal, mulai dari urusan kesehatan, agama, ekonomi, sampai rahasia dunia. Anehnya, selalu ada saja yang mempercayainya. Barangkali masalahnya bukan semata-mata pada orang yang berbicara. Masalahnya adalah kita hidup di zaman ketika kecepatan sering kali dianggap lebih penting daripada kebenaran.

Yang pertama muncul dianggap paling benar.

Yang paling ramai dibagikan dianggap paling sahih.

Yang paling viral dianggap paling layak dipercaya.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sayangnya, algoritma media sosial tidak bekerja berdasarkan manfaat. Ia bekerja berdasarkan perhatian. Semakin membuat orang marah, penasaran, takut, atau gemas, semakin besar peluang sebuah konten untuk menyebar. Akibatnya, kabar baik sering kalah cepat dibandingkan kabar buruk. Prestasi kalah ramai dibandingkan kontroversi. Solusi kalah menarik dibandingkan pertengkaran.

Lama-kelamaan kita menjadi terbiasa. Perselisihan terasa biasa. Fitnah terasa biasa. Skandal terasa biasa. Bahkan kadang-kadang kita hanya menggeser layar dan melanjutkan hari seolah tidak terjadi apa-apa.

Di situlah bahayanya.

Bukan karena kita kekurangan informasi, melainkan karena kita kelebihan informasi yang tidak sempat dipahami. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin sedikit yang benar-benar kita ingat. Reels yang kita simpan tidak sempat ditonton lagi. Artikel yang kita bookmark tidak sempat dibaca. Podcast yang katanya penting berhenti di menit ketujuh. Gosip yang kemarin terasa mendesak hari ini sudah tergantikan oleh gosip baru.

Kita terus menyimpan.

Terus menonton.

Terus menggulir layar.

Namun jarang berhenti untuk mencerna.

Maka pertanyaan penting hari ini mungkin bukan lagi apakah teknologi telah membuat kita lebih pintar. Pertanyaannya adalah apakah di tengah lautan konten yang tak pernah berhenti mengalir itu kita masih memiliki cukup waktu untuk berpikir, memeriksa, dan meragukan sesuatu sebelum mempercayainya.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan kualitas sebuah masyarakat bukanlah seberapa banyak informasi yang diterimanya, melainkan seberapa bijak ia memilih mana yang layak memenuhi isi kepalanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda