Kolom
Gen Z Wajib Tahu: Kapan Tren 'Bed Rotting' Jadi Bentuk Self-Care, Kapan Jadi Tanda Depresi?
Bayangkan kasurmu mendadak berubah fungsi menjadi pulau terpencil yang menyelamatkanmu dari gelombang riuh dunia luar. Di sana, kamu menghabiskan seharian penuh dengan berguling, mendekap selimut, dan memandangi layar HP tanpa niat sedikit pun untuk menggerakkan badan, sampai akhirnya suara gedoran pintu dan omelan nyaring memecah keheningan: "Kamu itu anak muda kok malasnya kebangetan, seharian cuma tidur-tiduran!"
Bagi generasi orang tua, pemandangan anak yang "membusuk" di kasur seharian adalah dosa besar. Di mata mereka, produktivitas diukur dari gerak fisik: menyapu halaman, berolahraga, atau minimal keluar rumah mencari udara segar. Namun, bagi Gen Z, ritual mendekam di atas kasur ini punya nama keren dan filosofi tersendiri: Bed Rotting.
Bed rotting adalah tren di mana seseorang sengaja menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh, di atas tempat tidur tanpa beban target apa pun, biasanya ditemani gawai, camilan, dan maraton film. Di era yang menuntut kita untuk selalu gesit dan serba instan, kasur berubah fungsi: bukan lagi sekadar tempat tidur, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kelelahan mental (burnout).
Namun, apakah fenomena ini murni metode self-care yang valid, atau sekadar pembenaran atas kemalasan?
Dinamika psikologis di balik fenomena ini dikupas secara objektif dalam studi terbitan 2026 bertajuk "Bed Rotting: Gen Z Self-Care or a Depression Warning Sign?". Penelitian tersebut menguraikan bahwa bed rotting beroperasi di garis tipis antara pemulihan energi mandiri (self-care) dan sinyal bahaya klinis. Di satu sisi, tindakan ini berfungsi sebagai mekanisme koping untuk menurunkan kelelahan sensorik (sensory overload) akibat stimulasi dunia digital. Namun di sisi lain, studi ini memberi peringatan tegas: jika dilakukan secara kompulsif dan berlarut-larut, kebiasaan mengisolasi diri di atas kasur justru berisiko menjadi indikator awal dari depresi (depression warning sign) dan gangguan regulasi emosi.
Untuk memahami isu ini secara jernih, kita perlu membedah jurang pola pikir (mindset gap) antara Gen Z dan orang tua.
Bagi generasi terdahulu, hidup dibangun di atas etos kerja keras dan nilai fungsional. Waktu luang yang tidak dipakai untuk sesuatu yang berwujud dianggap membuang-buang kesempatan. Maka tak heran jika orang tua melihat bed rotting sebagai simbol kemalasan akut, keputusasaan, atau dekadensi moral anak muda zaman sekarang.
Sebaliknya, Gen Z tumbuh dalam lanskap dunia yang sangat berbeda. Mereka diterpa arus informasi tanpa henti, tuntutan hustle culture, serta ketidakpastian ekonomi yang memicu kecemasan tinggi. Bagi Gen Z, bed rotting adalah tombol pause sukarela. Ini adalah bentuk kompensasi atas energi emosional yang terkuras habis. Di atas kasur, mereka tidak perlu mengoreksi respons, tidak perlu memasang topeng sosial, dan bebas dari ekspektasi siapa pun.
Di sinilah letak objektivasnya: kedua pandangan tersebut sama-sama memiliki kebenaran.
Niat Gen Z untuk mengistirahatkan pikiran adalah hal yang valid dan bijak. Namun, mengobati kelelahan mental akibat scrolling media sosial dengan cara scrolling media sosial di atas kasur seharian sebenarnya ibarat memadamkan api dengan bensin. Otak tidak benar-benar istirahat; ia tetap disuapi dopamin instan dan stimulasi visual tanpa jeda.
Bed rotting sebagai rehat sejenak (guilt-free rest) di akhir pekan yang padat tentu sangat wajar. Tetapi, ketika kasur dijadikan pelarian utama setiap kali menghadapi masalah atau kelelahan hidup, di situlah rehat berubah menjadi perangkap kelesuan yang merusak.
Jadi, saat kamu sedang "membusuk" manis di atas kasur akhir pekan ini, cobalah jujur pada diri sendiri: apakah kamu sedang benar-benar memulihkan energi, atau sekadar lari dari kenyataan yang menunggu di luar kamar?