Kolom
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
"HP kamu iPhone berapa?" Pertanyaan receh yang kadang terasa seperti sesi verifikasi status sosial. Dari tipe HP, orang bisa menebak siapa yang dianggap mapan, siapa yang masih hemat, bahkan siapa yang sedang berusaha terlihat mapan.
Kelas sosial lewat HP sebenarnya bukan cuma soal merek mahal atau murah. Yang lebih menarik adalah bagaimana benda yang awalnya dibuat untuk memudahkan komunikasi berubah menjadi semacam kartu identitas ekonomi yang kita bawa ke mana-mana.
HP Bukan Sekadar Alat Komunikasi
Coba lihat situasi sederhana di kampus atau tempat kerja. Saat beberapa orang mengeluarkan HP di atas meja, kamera, logo, sampai kondisi fisiknya bisa menjadi bahan penilaian diam-diam. HP dengan bodi mulus dan keluaran terbaru sering dianggap lebih berkelas, sedangkan HP lama gampang diberi label ketinggalan zaman.
Padahal, kemampuan seseorang seharusnya tidak bisa dibaca dari benda yang ada di tangannya.
Data Badan Pusat Statistik dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 68,65 persen penduduk Indonesia telah memiliki telepon seluler pada 2024. Artinya, HP sudah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan barang yang hanya dimiliki kelompok tertentu.
Masalahnya muncul ketika kepemilikan yang sudah luas itu bertemu budaya konsumsi. HP akhirnya punya fungsi tambahan yaitu menunjukkan posisi seseorang di antara orang lain.
Di titik ini, pertanyaan HP-mu apa? bisa berubah makna. Bukan lagi soal perangkat yang dipakai, melainkan kamu ada di level mana?
Yang sering luput, ukuran kelas sosial lewat HP juga bisa menipu. Seseorang bisa menggunakan perangkat mahal karena memang mampu membelinya. Bisa juga karena cicilan, hadiah, perangkat bekas, atau sekadar memilih mengalokasikan uangnya untuk HP daripada kebutuhan lain. Sebaliknya, HP sederhana bukan bukti seseorang sedang kesulitan secara ekonomi.
Jadi, HP sebenarnya cuma potongan kecil dari kondisi ekonomi seseorang. Masalahnya, kita sering memperlakukannya seperti seluruh cerita.
Yang Dibeli Kadang Bukan Teknologinya
Perusahaan teknologi memang menjual spesifikasi mulai dari kamera, prosesor, kapasitas penyimpanan, desain, dan fitur kecerdasan buatan. Namun pasar juga menjual sesuatu yang lebih abstrak: rasa naik kelas.
Inilah yang membuat siklus ganti HP terasa normal. Belum tentu HP lama rusak, tetapi ketika model baru muncul, perangkat yang masih berfungsi mendadak terasa kurang keren. Timeline media sosial ikut memperkuat dorongan itu. Kita melihat orang lain menggunakan perangkat terbaru, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan benda yang sedang kita pegang.
Padahal kebutuhan dan kemampuan finansial tiap orang berbeda.
BPS mencatat bahwa pada 2024 persentase rumah tangga yang memiliki atau menguasai telepon seluler mencapai 96,48 persen di Sumatera Utara. Angka ini menunjukkan betapa melekatnya perangkat seluler dalam kehidupan rumah tangga.
Ketika HP sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, batas antara butuh dan ingin terlihat mampu makin tipis. Orang mungkin membutuhkan HP untuk kuliah, bekerja, berjualan, mengakses layanan publik, atau berkomunikasi dengan keluarga. Namun standar sosial membuat kebutuhan tersebut bisa bergeser menjadi perlombaan spesifikasi.
Yang menarik, kelas sosial akhirnya terlihat melalui kemampuan mengganti perangkat. Bukan cuma kemampuan membeli HP mahal, tetapi kemampuan mengeluarkan uang berkali-kali tanpa membuat kebutuhan lain terganggu.
Di sini letak persoalannya. Orang yang memiliki HP mahal belum tentu punya kondisi ekonomi lebih aman. Orang yang mempertahankan HP lama juga belum tentu tertinggal. Bisa jadi ia justru sedang membuat keputusan finansial yang lebih masuk akal.
Bahkan pemerintah pun melihat HP sebagai barang yang punya konsekuensi ekonomi dan perlindungan konsumen. Kemkomdigi menjelaskan bahwa pengendalian IMEI dibuat untuk membantu memastikan perangkat yang digunakan masyarakat merupakan perangkat yang legal sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen.
Artinya, HP bukan barang sepele. Ada rantai perdagangan, aturan, pajak, legalitas, sampai kepentingan konsumen di belakangnya.
Kalau Status Sosial Diukur dari HP, Siapa yang Membayar?
Budaya menjadikan HP sebagai simbol kelas sosial punya efek yang lebih panjang daripada sekadar rasa minder ketika nongkrong bareng teman.
Anak sekolah atau mahasiswa bisa merasa perlu memiliki perangkat tertentu supaya tidak dianggap ketinggalan. Pekerja muda bisa merasa harus mengikuti model terbaru karena lingkungan kerja atau pergaulan. Di media sosial, perangkat yang digunakan bahkan dapat menjadi bagian dari citra personal.
Tekanan seperti ini mungkin tidak terasa besar jika dilihat satu kali. Namun ketika berulang, keputusan konsumsi bisa berubah menjadi kebiasaan: ganti karena rusak, ganti karena fitur, lalu ganti lagi karena model terbaru.
Ada pula tagihan ekologis yang tidak ikut masuk ke dalam kotak HP.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah menyebut sampah elektronik sebagai sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun sehingga membutuhkan penanganan yang tepat. Dalam rilis National E-Waste Day 2021, KLHK juga mencatat timbulan sampah elektronik Indonesia mencapai sekitar 2 juta ton pada 2021.
Angka itu memang mencakup berbagai perangkat elektronik, bukan HP saja. Namun pesannya jelas yaitu semakin cepat perangkat diganti, semakin besar pula persoalan perangkat lama yang harus ditangani.
Karena itu, mungkin ukuran keren perlu digeser. Bukan siapa yang paling cepat membeli HP terbaru, melainkan siapa yang paling tahu kebutuhan perangkatnya sendiri.
Memakai HP tiga atau empat tahun bukan kegagalan mengikuti zaman. Membeli HP mahal juga bukan dosa. Yang perlu dikritisi adalah ketika keputusan konsumsi dibuat karena takut dianggap rendah oleh lingkungan.
Sebab kelas sosial yang terlihat dari layar sebenarnya sering cuma ilusi yang dibayar dengan uang sungguhan.
HP boleh menjadi alat kerja, hiburan, kamera, dompet digital, bahkan bagian dari identitas. Tapi jangan sampai ia berubah menjadi alat ukur harga diri. Kalau suatu hari kita bisa melihat seseorang dari cara berpikir, karya, dan kontribusinya sebelum melihat logo di belakang HP-nya, mungkin saat itu teknologi kembali ke fungsi awalnya: membantu manusia, bukan menentukan siapa yang dianggap lebih tinggi.