Kolom
Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?
Di tengah keriuhan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, ada satu dinamika menarik yang luput dari sorotan media nasional. Ketika mata publik tertuju pada pengiriman material dari Pulau Jawa atau lintasan Selat Makassar, para pelaku usaha dan Pemerintah Negara Bagian Sarawak, Malaysia, justru bergerak senyap namun presisi. Pertemuan bisnis yang intens antara pengusaha Sarawak dan Indonesia belakangan ini bukan sekadar seremoni diplomasi dagang biasa. Ada pesan implisit yang amat jelas: Sarawak sedang bersiap menjadi “sabuk logistik” utama bagi Nusantara.
Mengapa isu ini krusial dibahas sekarang? Sebab selama ini kita terjebak pada narasi tunggal bahwa IKN hanya dihidupi oleh Pulau Jawa dan Indonesia bagian timur. Padahal, jika kita membuka peta Pulau Borneo secara pragmatis, Sarawak adalah tetangga darat paling siap secara infrastruktur. Mengabaikan potensi integrasi ekonomi ini sama saja dengan membiarkan biaya pembangunan IKN membengkak akibat ketergantungan pada rantai pasok maritim yang berjarak jauh.
Bukan Sekadar Impor, Ini Soal Efisiensi Geografis
Sebagian kalangan mungkin merasa skeptis dan bertanya: Apakah kita akan bergantung pada negara tetangga untuk membangun ibu kota sendiri? Pertanyaan ini wajar, tetapi terlalu sempit jika kita tidak melihatnya dari sudut pandang geopolitik ekonomi modern.
Sarawak memiliki keunggulan komparatif yang belum sepenuhnya dimiliki kawasan perbatasan Kalimantan: pasokan energi hidroelektrik yang melimpah, jaringan jalan darat Trans-Borneo yang relatif matang, serta pelabuhan industri yang terkoneksi langsung ke pasar global. Bagi pelaku usaha Indonesia—khususnya di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, hingga Sulawesi Tengah—bekerja sama dengan Sarawak bukanlah bentuk "kekalahan saing", melainkan pemanfaatan efisiensi konektivitas. Mengirim bahan baku atau material tertentu lewat jalur darat lintas batas (seperti PLBN Entikong atau Badau) kerap jauh lebih cepat dan murah ketimbang menunggu antrean logistik kapal antar-pulau.
Namun, kolaborasi ini harus dikawal dengan kacamata netral. Risiko ketergantungan sepihak tetap ada jika Indonesia hanya memosisikan diri sebagai pasar konsumen barang jadi atau pemasok bahan mentah tanpa nilai tambah.
Solusi: Mendorong Borneo Logistics Corridor
Agar kerja sama ini saling menguntungkan (win-win solution), pemerintah Indonesia dan Sarawak tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif privat antarpengusaha. Diperlukan intervensi regulasi yang adaptif dan solutif.
Pertama, kedua pihak perlu meresmikan kerangka Borneo Logistics Corridor. Kerangka ini berfungsi mengharmonisasi standar pabean, memangkas birokrasi perizinan angkutan barang darat lintas batas, serta menerapkan digitalisasi sistem Single Window untuk menekan waktu inap (dwelling time) barang di perbatasan.
Kedua, cegah ketimpangan dengan membangun Kawasan Industri Bersama di Wilayah Perbatasan. Daripada saling menuding siapa yang merugi, potensi investasi Sarawak dapat ditarik ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) perbatasan Indonesia. Dengan begitu, pemrosesan awal dilakukan di wilayah Indonesia menggunakan tenaga kerja lokal, sementara Sarawak menyumbang teknologi dan akses rantai pasok globalnya.
Ujian Pragmatisme Ekonomi Kawasan
Pembangunan IKN bukan cuma soal memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Sepaku. Lebih dari itu, IKN adalah ujian apakah Indonesia mampu memimpin integrasi ekonomi di Pulau Borneo secara bijak dan inklusif.
Menjadikan Sarawak sebagai mitra strategis dan sabuk logistik bukanlah bentuk kompromi atas kedaulatan, melainkan langkah cerdas memanfaatkan keunggulan geografis demi percepatan pembangunan kawasan perbatasan yang selama ini tertinggal.
Pada akhirnya, sebuah pertanyaan reflektif layak kita renungkan bersama: Apakah kita akan terus memandang perbatasan antarnegara sebagai benteng pemisah yang kaku, atau saatnya kita mengubahnya menjadi jembatan kemakmuran bersama di tanah Borneo?