Kolom
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun
Langit Kalimantan dan Sumatra mendadak berubah warna menjadi kuning pekat. Di balik kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masuk dalam fase membahayakan, tragedi kemanusiaan kembali merenggut nyawa warga sipil. Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, kasus kematian seorang pengemudi ojek online (ojol) dan seorang guru di tengah kepungan asap seharusnya menjadi lonceng peringatan keras bagi kita semua. Pertanyaannya: sampai kapan negara dan pemangku kebijakan terus menutup mata terhadap keselamatan mereka yang terpaksa mencari nafkah di bawah langit beracun?
Ironi Kebijakan Darurat: Melindungi yang di Ruangan, Melupakan yang di Jalanan
Selama ini, respons darurat pemerintah tatkala karhutla mengamuk terasa sangat klise: imbauan memakai masker dan meliburkan kegiatan sekolah. Kebijakan ini memang krusial untuk anak-anak serta pekerja kantoran yang memiliki privilese untuk menikmati fasilitas work from home.
Namun, pernahkah kita merenungkan nasib jutaan pekerja informal luar ruangan (outdoor workers)? Mulai dari pengemudi ojol, kurir paket, pedagang keliling, hingga buruh harian lepas, mereka sama sekali tidak punya pilihan untuk tinggal di rumah. Bagi mereka, berdiam diri di rumah berarti dapur tidak ngebul dan perut keluarga harus menahan lapar. Jalanan kota yang diselimuti polusi pekat pada akhirnya berubah fungsi menjadi "kamar gas" berjalan. Mengapa standar darurat bencana asap di negeri ini seolah berhenti di balik pintu gedung ber-AC dan mengabaikan para pejuang aspal tersebut?
Menagih Tanggung Jawab Nyata Aplikator dan Pemberi Kerja Sektor Informal
Sudah saatnya kita mengubah paradigma penanganan bencana dari sekadar imbauan moral menjadi instrumen perlindungan ketenagakerjaan yang mengikat. Di era ekonomi digital saat ini, perusahaan penyedia platform aplikasi (aplikator) meraup keuntungan besar dari keringat para pengemudi di jalanan.
Sudah sepatutnya ada regulasi ketenagakerjaan darurat yang tegas. Ketika indeks kualitas udara (ISPU) masuk kategori berbahaya, aplikator maupun pemberi kerja sektor informal wajib hukumnya mendistribusikan alat pelindung pernapasan standar tinggi—seperti masker N95—secara gratis kepada mitra mereka. Tidak hanya itu, perlu ada terobosan berupa skema dana kompensasi force majeure polusi udara. Jika sekolah bisa diliburkan demi keselamatan anak didik, mengapa pekerja lapangan yang mempertaruhkan nyawa di udara beracun tidak mendapatkan jaring pengaman ekonomi yang serupa?
Refleksi: Jangan Tunggu Korban Berikutnya
Bencana karhutla bukan sekadar siklus tahunan urusan lingkungan dan kabut lintas batas semata, melainkan ujian nyata atas keadilan sosial dan kemanusiaan kita. Nyawa seorang pengemudi ojol atau guru yang gugur di tengah kabut asap adalah cerminan betapa rapuhnya perlindungan bagi kelas pekerja bawah.
Sudah saatnya suara di jalanan didengar oleh para pembuat kebijakan di kursi empuk. Jika keselamatan pekerja informal terus diabaikan dalam situasi darurat ekologis, maka bencana ini bukan lagi sekadar amukan alam, melainkan bentuk pembiaran yang terstruktur.
Bagaimana menurut Anda? Apakah sudah saatnya perusahaan aplikasi dan pemberi kerja dijatuhi sanksi tegas jika lalai melindungi kesehatan pekerjanya di tengah kepungan bencana asap?