Kolom

Salah Kaprah Budaya Nrimo dan Hilangnya Kesadaran atas Hak Hidup Layak

Salah Kaprah Budaya Nrimo dan Hilangnya Kesadaran atas Hak Hidup Layak
Ilustrasi bekerja (magnific)

Pernah mengeluh karena harga kebutuhan pokok naik, tetapi justru diminta bersabar dan bersyukur? Atau merasa penghasilan semakin sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi malah dinasihati untuk lebih giat bekerja?

Situasi semacam ini bukan hal asing bagi banyak orang. Ketika hidup semakin sulit, kita seolah dituntut untuk menerima keadaan dan tetap bersyukur. Tanpa disadari, kita semakin terbiasa mencari cara untuk menerima kesulitan, alih-alih mempertanyakan mengapa kehidupan terasa semakin sulit dijalani.

Kebiasaan ini berkaitan dengan budaya nrimo, yaitu sikap menerima keadaan atau nasib yang dalam konteks tertentu dapat menjadi sumber ketenangan. Namun, penerimaan juga memiliki batas.

Ketika kesulitan ekonomi terus dianggap sebagai bagian wajar dari kehidupan, kita bisa kehilangan kepekaan terhadap kondisi yang seharusnya diperbaiki. Bahkan, keinginan untuk menikmati makanan bergizi, memperoleh tempat tinggal yang layak, atau hidup dengan lebih sejahtera bisa terasa seperti tuntutan yang berlebihan.

Di sinilah budaya nrimo perlu dipertanyakan kembali. Dalam konteks ketimpangan ekonomi, cara pandang ini patut mendapat perhatian. Masyarakat tidak seharusnya terus-menerus menyesuaikan ekspektasi dengan keadaan yang semakin sulit.

Nrimo atau Dipaksa Menerima Keadaan?

Budaya nrimo sering dipuji sebagai tanda kedewasaan. Orang yang bisa menerima keadaan dianggap bijaksana, sementara mereka yang banyak mengeluh dinilai kurang bersyukur.

Masalahnya, kita jarang membicarakan batas antara menerima kenyataan dan membiarkan keadaan yang tidak adil terus berlangsung. Akibatnya, sikap yang awalnya membantu seseorang menghadapi hidup justru bisa membuatnya enggan mempertanyakan keadaan.

Dalam diskursus di media sosial, nasihat seperti “yang penting masih bisa makan”, “di luar sana masih banyak yang lebih susah”, atau “jalani saja, semua sudah ada jalannya” sering muncul ketika orang membicarakan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.

Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar menenangkan, tetapi bisa mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya. Alih-alih membahas mengapa hidup semakin berat, percakapan justru berakhir dengan ajakan untuk menerima keadaan.

Padahal, membandingkan penderitaan tidak akan menyelesaikan masalah. Fakta bahwa orang lain hidup lebih susah bukan alasan untuk mengabaikan kesulitan yang sedang dialami seseorang. Begitu pula, masih bisa makan hari ini bukan berarti kondisi ekonominya baik-baik saja. Standar hidup yang layak tidak seharusnya ditentukan dari seberapa parah seseorang harus menderita sebelum keluhannya dianggap pantas.

Ketika Masalah Ekonomi Malah Dibebankan kepada Individu

Coba perhatikan bagaimana orang membicarakan kesulitan ekonomi. Ketika harga kebutuhan naik, masyarakat diminta berhemat. Ketika penghasilan tidak cukup, mereka disuruh mencari pekerjaan tambahan. Ketika sulit membeli makanan bergizi, mereka diminta lebih pintar mengatur uang.

Diskursus semacam ini berisiko mengaburkan persoalan yang lebih besar. Ketika kesulitan ekonomi terus dijelaskan sebagai akibat kurangnya usaha, kurangnya rasa syukur, atau buruknya pengelolaan uang, pembicaraan tentang upah, kesempatan kerja, harga kebutuhan, dan tanggung jawab pemerintah justru tersisih.

Lebih ironis lagi, orang yang sedang kesulitan bisa merasa bersalah karena mengeluh. Mereka takut dianggap malas, manja, atau tidak tahu bersyukur hanya karena menginginkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, tidak semua kemiskinan lahir dari kemalasan, sebagaimana tidak semua keberhasilan semata-mata hasil kerja keras.

Hidup Layak Itu Hak, Bukan Hadiah

Kita perlu berhati-hati ketika mulai menganggap hidup sederhana dan penuh kesulitan sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Bersyukur tentu tidak salah. Namun, jangan sampai rasa syukur membuat kita menurunkan standar hidup sampai hal-hal mendasar pun terasa seperti kemewahan.

Makan bergizi, tinggal di tempat yang aman, mendapat layanan kesehatan, dan memiliki penghasilan yang cukup bukanlah permintaan yang berlebihan. Itu kebutuhan dasar. Sayangnya, ketika banyak orang kesulitan mendapatkannya, kita justru terbiasa memuji mereka yang mampu bertahan dalam keterbatasan.

Padahal, mampu bertahan bukan berarti hidupnya sudah layak. Ia memang bertahan, tetapi apakah itu berarti ia sudah sejahtera? Kita tidak seharusnya terus memuji orang karena kuat menanggung kesulitan, sementara kesulitan yang sama dibiarkan terus terjadi.

Menginginkan kehidupan yang lebih baik juga bukan tanda tidak tahu bersyukur. Kita bisa menghargai apa yang dimiliki sambil tetap menuntut keadaan yang lebih layak. Nrimo boleh menjadi pegangan dalam menghadapi hidup, tetapi jangan sampai dijadikan alasan untuk berhenti bersuara.

Tujuan hidup bukan sekadar bertahan sampai besok. Kita juga berhak hidup dengan layak tanpa harus merasa bersalah karena menginginkan lebih dari sekadar cukup untuk bertahan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda