Kolom
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
Ada kalanya saya membaca sebuah komentar di media sosial, lalu berhenti bukan karena isinya begitu menarik, melainkan karena satu kata membuat saya mempertanyakan kemampuan membaca sendiri. Saya membaca ulang kalimatnya, mencoba memahami konteksnya, kemudian baru menyadari bahwa ada satu huruf yang hilang, bertambah, atau tertukar.
Awalnya saya mengira hanya salah ketik biasa. Namun, ketika kekeliruan serupa muncul berulang kali, perhatian saya justru beralih dari isi tulisan ke bentuk katanya. Sayang sekali, bukan? Gagasan yang sebenarnya menarik malah harus berbagi panggung dengan huruf yang tidak berada di tempat semestinya.
Saya tidak sedang menganggap setiap orang wajib mengetik dengan sempurna. Salah ketik merupakan hal manusiawi. Akan tetapi, ada beberapa kekeliruan yang begitu menggelitik karena satu huruf saja bisa membuat makna kalimat berubah cukup jauh.
Huruf Hilang, Arti Kata Ikut Berubah
Mari mulai dari pasangan kata yang terlihat sederhana: parah dan para. Keduanya hanya berbeda satu huruf, tetapi maknanya tidak sama. Parah digunakan untuk menggambarkan keadaan yang buruk atau serius, sedangkan para lazim digunakan untuk menyatakan jamak pada orang.
Bayangkan ketika seseorang menulis, “Aduh, zaman sekarang emang medsos para banget sih.”
Saya spontan ingin bertanya, permisi, ini maksudnya bagaimana, Kak? Apakah media sosialnya sedang mengalami kekurangan huruf, atau ada makna baru yang belum sempat saya pelajari?
Contoh lain adalah gaji dan gajih. Kata gaji merujuk pada upah atau pembayaran atas pekerjaan. Sementara itu, gajih memiliki arti lemak. Jadi, ketika seseorang menulis tentang penghasilan, tetapi menggunakan kata gajih, pembaca bisa saja bertanya-tanya apakah pembicaraan ini sedang membahas upah bulanan atau urusan makanan.
Saya pernah menjumpai kalimat yang kurang lebih berbunyi, “Zaman sekarang, kerja berat juga gajih tetap mungil.” Maksud penulisnya mungkin sangat jelas bagi dirinya sendiri. Namun, sebagai pembaca, saya telanjur membayangkan pembahasan yang berbelok ke arah lain.
Lalu ada pasangan makanya dan makannya. Kata pertama dapat digunakan untuk menghubungkan alasan dengan akibat atau menegaskan suatu kesimpulan. Kata kedua berkaitan dengan aktivitas makan atau sesuatu yang dimakan.
Kalimat “Makannya, kalau mau kritik harus lebih hati-hati” tentu membuat saya berhenti sejenak. Apanya yang dimakan? Kritiknya, orang yang mengkritik, atau argumennya sekalian?
Memang, konteks sering kali membantu kita menebak maksud penulis. Namun, pembaca seharusnya tidak perlu mengerahkan tenaga ekstra hanya untuk memastikan kata yang sebenarnya ingin disampaikan.
Antara Salah Ketik dan Kebiasaan yang Dibiarkan
Selain huruf yang hilang, ada pula huruf yang ditambahkan tanpa alasan yang jelas. Contohnya adalah gaji yang berubah menjadi gajih. Kesalahan semacam ini mungkin tampak sepele, tetapi menjadi menarik ketika terjadi berulang kali dalam tulisan yang sama.
Saya juga kerap menemukan kata tanpa yang ditulis menjadi tampa. Pernah suatu kali saya membaca sebuah utas panjang yang sebenarnya menarik. Namun, penulisnya konsisten menggunakan bentuk tampa. Saya sampai sempat meragukan diri sendiri: apakah ada perkembangan kosakata terbaru yang belum saya ketahui?
Setelah dibaca berulang kali, ternyata yang dimaksud memang tanpa. Saya pun kembali melanjutkan bacaan dengan sedikit rasa gemas.
Kesalahan lain yang tidak kalah membingungkan adalah menantikannya yang ditulis menantikanya. Bentuk yang tepat menggunakan dua huruf n pada bagian akhir. Hilangnya satu huruf mungkin tidak langsung menghambat pemahaman, tetapi tetap membuat penulisannya tidak sesuai dengan bentuk yang dimaksud.
Kalau satu huruf saja bisa dihilangkan demi efisiensi mengetik, saya jadi ingin bertanya: kapan sistem penghematan huruf ini diterapkan secara nasional?
Ada pula pasangan muda dan mudah. Yang satu berkaitan dengan usia, sedangkan yang lain berarti tidak sukar dilakukan. Ketika seseorang menulis, “Semua pekerjaan lebih muda jika dikerjakan bersama,” saya justru membayangkan apakah bekerja bersama memang bisa membuat usia seseorang berkurang.
Sebaliknya, kalimat “Namanya anak mudah, ya keras kepala” membuat saya bertanya-tanya apakah yang sedang dibicarakan adalah anak yang masih belia atau seseorang yang mudah melakukan sesuatu.
Belum lagi kata enggak yang ditulis engak atau salah yang kehilangan huruf h menjadi sala. Bentuk yang dimaksud memang masih bisa ditebak, tetapi bukan berarti semua perubahan huruf otomatis dapat dianggap sebagai variasi bahasa yang disengaja.
Di sinilah kita perlu membedakan salah ketik yang tidak sengaja dengan bentuk bahasa yang memang sengaja diciptakan. Bahasa gaul boleh memiliki ciri khas. Namun, ketika huruf hilang atau bertukar tanpa pertimbangan, lalu setiap kekeliruan dibela sebagai gaya komunikasi, bukankah kita justru sedang mempersulit diri sendiri?
Jangan Sampai Pembaca Sibuk Menebak Maksud Tulisan
Saya mengerti bahwa mengetik di media sosial berbeda dengan menulis artikel atau karya ilmiah. Orang bisa saja terburu-buru membalas pesan, menulis sambil bepergian, atau terlalu bersemangat menyampaikan pendapat hingga lupa memeriksa kembali kalimatnya.
Saya pun tidak luput dari kesalahan. Bisa jadi, ketika sedang menulis kritik tentang ketidakcermatan orang lain, saya sendiri malah melakukan salah ketik. Ironis, tentu saja. Karena itu, keresahan ini bukan klaim bahwa saya lebih pintar atau lebih benar dalam menggunakan bahasa.
Namun, ada perbedaan antara melakukan kesalahan sesekali dan membiarkan kekeliruan yang sama terus berulang. Yang pertama merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang kedua layak menjadi bahan evaluasi, terutama jika kita sebenarnya bisa memperbaikinya dengan sedikit ketelitian.
Kita tidak harus langsung mengoreksi semua orang yang salah menulis. Tidak setiap percakapan membutuhkan koreksi, apalagi jika konteksnya hanya obrolan santai antarteman. Cara memberikan masukan juga perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi ajang merendahkan orang lain.
Meski begitu, membiasakan diri membaca ulang tulisan merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Jika ragu terhadap sebuah kata, kita dapat memeriksanya melalui kamus atau sumber kebahasaan terpercaya. Tidak perlu malu mencari tahu, sebab belajar bukan tanda ketidakmampuan.
Saya justru merasa sayang ketika sebuah tulisan memiliki gagasan yang kuat, tetapi pembaca dibuat terdistraksi oleh kesalahan penulisan yang berulang. Padahal, perhatian pembaca seharusnya tertuju pada gagasan yang ingin disampaikan, bukan sibuk menebak apakah para sebenarnya parah atau tampa sebenarnya tanpa.
Hemat saya, satu huruf memang tidak selalu mengubah dunia. Namun, dalam sebuah kalimat, satu huruf bisa mengubah makna, menggeser konteks, bahkan membuat pembaca salah menangkap maksud penulis.
Idealnya sebelum membela setiap kekeliruan sebagai gaya komunikasi, tidak ada salahnya memeriksa kembali tulisan kita. Bukan demi menjadi manusia yang sempurna dalam berbahasa, melainkan agar gagasan yang ingin disampaikan tidak kalah menonjol dibandingkan huruf yang salah tempat.