Kolom
Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan
Jujur saja, saya termasuk orang yang terkadang mudah kehilangan minat ketika membaca tulisan dengan banyak kesalahan ejaan. Ada kalanya jari terasa gatal ingin membenahi penulisannya, meskipun saya tahu bahwa tidak semua percakapan di media sosial membutuhkan penyuntingan. Kalau harus memutus hubungan dengan setiap orang yang salah menulis, mungkin saya sudah kehilangan separuh penghuni linimasa.
Namun, saya juga sadar bahwa tidak ada orang yang selalu benar dalam menggunakan bahasa. Saya bisa salah mengetik, keliru menempatkan tanda baca, atau baru menyadari bahwa kata yang selama ini saya gunakan ternyata tidak sesuai dengan kaidah. Karena itu, keresahan tentang bahasa seharusnya tidak menjadi ajang untuk merasa paling pintar, melainkan kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan kita sendiri.
Bagi saya, persoalan bahasa bukan semata-mata tentang siapa yang paling baku atau siapa yang paling gaul. Ada hal yang lebih penting: bagaimana kita memahami bahasa, menggunakannya sesuai kebutuhan, dan bersedia belajar ketika melakukan kesalahan.
Tidak Ada yang Kebal dari Kesalahan
Media sosial merupakan ruang komunikasi yang cair. Orang bisa berbicara dengan santai, menggunakan singkatan, menciptakan istilah baru, atau mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Kita tidak mungkin menuntut setiap komentar ditulis seperti makalah akademik atau setiap percakapan terdengar seperti pidato kenegaraan.
Bentuk bahasa seperti bagusn’t justru menunjukkan bahwa kreativitas berbahasa masih hidup. Ada orang yang mampu mengolah kata menjadi sesuatu yang jenaka, menyampaikan sindiran, atau menciptakan istilah yang terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Kreativitas seperti ini tidak perlu dibungkam hanya karena bentuknya tidak mengikuti bahasa baku.
Namun, kebebasan berekspresi tetap perlu dibedakan dari ketidakpedulian terhadap bahasa. Kita boleh menggunakan ragam informal, tetapi bukan berarti semua bentuk penulisan yang keliru harus dianggap sebagai bagian dari kreativitas.
Misalnya, penggunaan di rumah dan dirumah bukan sekadar persoalan selera. Ada aturan penulisan yang membedakan kata depan dengan imbuhan. Begitu pula ketika seseorang menulis tanpa menjadi tampa, persoalannya bukan tentang apakah kalimat itu terdengar gaul, melainkan apakah kata yang digunakan sudah tepat.
Meski demikian, saya tidak ingin menjadikan aturan bahasa sebagai ukuran tunggal untuk menilai kecerdasan seseorang. Orang yang menguasai ejaan belum tentu mampu menyampaikan gagasan dengan baik. Sebaliknya, orang yang terbiasa menggunakan bahasa gaul belum tentu tidak memahami aturan bahasa Indonesia.
Kita perlu berhenti menyederhanakan persoalan menjadi pertentangan antara orang yang baku dan orang yang gaul. Kemampuan berbahasa justru terlihat ketika seseorang mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi, tujuan, dan lawan bicara.
Mengoreksi Tanpa Merendahkan, Menerima Tanpa Tersinggung
Ada satu hal yang terkadang membuat persoalan ejaan terasa lebih rumit daripada seharusnya: respons kita terhadap koreksi.
Ketika seseorang mengingatkan bahwa di sekolah harus ditulis terpisah, misalnya, koreksi itu kadang dianggap sebagai tindakan sok pintar. Padahal, mengingatkan kesalahan tidak selalu berarti ingin mempermalukan orang lain. Bisa jadi, orang tersebut sekadar ingin membantu agar penulisannya lebih tepat.
Tentu, niat baik tidak otomatis membuat setiap cara penyampaian menjadi benar. Mengoreksi seseorang dengan nada merendahkan, menertawakan kesalahannya di depan umum, atau menjadikannya bahan olok-olok jelas bukan cara yang bijak. Ketelitian berbahasa tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebaliknya, menerima koreksi juga membutuhkan kelapangan hati. Tidak semua masukan harus dianggap sebagai serangan terhadap harga diri. Jika memang ada kesalahan, kita bisa memperbaikinya tanpa perlu sibuk mencari alasan untuk membenarkan diri.
Saya sendiri lebih memilih melihat koreksi sebagai pengingat bahwa pengetahuan kita selalu memiliki ruang untuk berkembang. Hari ini mungkin saya mengetahui sesuatu yang belum dipahami orang lain. Besok, bisa saja justru saya yang perlu diingatkan.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua kesalahan harus dikoreksi pada setiap kesempatan. Ada percakapan yang lebih membutuhkan empati daripada pembenahan ejaan. Ketika seseorang sedang menceritakan masalahnya, misalnya, mempermasalahkan satu kata yang salah ketik tentu bukan respons yang paling dibutuhkan.
Artinya, kecakapan berbahasa bukan hanya tentang mengetahui aturan, melainkan juga memahami konteks komunikasi. Kita perlu tahu kapan koreksi berguna, bagaimana menyampaikannya, dan kapan sebaiknya membiarkan percakapan berjalan tanpa interupsi.
Dengan begitu, kita tidak perlu memilih antara menjadi orang yang peduli terhadap bahasa atau menjadi orang yang menghargai sesama. Keduanya bisa berjalan beriringan.
Bahasa Indonesia dan Tanggung Jawab Penggunanya
Di tengah perkembangan teknologi digital, aktivitas membaca dan menulis semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita menulis pesan, memberikan komentar, mengunggah cerita, membuat utas, hingga menyampaikan pendapat melalui berbagai platform. Tanpa disadari, bahasa menjadi bagian dari rutinitas yang terus kita lakukan.
Karena itu, membangun kesadaran berbahasa tidak harus dimulai melalui langkah besar. Kita bisa membiasakan diri membaca ulang tulisan sebelum mengunggahnya, memeriksa kata yang meragukan, atau mencari tahu bentuk penulisan yang benar melalui sumber tepercaya.
Kebiasaan sederhana tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kita akan semakin terbiasa memperhatikan apa yang ditulis dan bagaimana menyampaikannya.
Kita juga tidak perlu menunggu teguran dosen, revisi editor, atau komentar warganet untuk mulai belajar. Sumber pengetahuan tersedia luas, dan kemauan untuk mencari tahu merupakan bagian penting dari proses tersebut.
Bagi saya, mencintai bahasa Indonesia bukan berarti menolak perkembangan bahasa atau memaksa semua orang berbicara secara formal. Bahasa akan terus berubah mengikuti kebutuhan penuturnya. Istilah baru akan bermunculan, ragam informal akan berkembang, dan cara berkomunikasi akan terus menyesuaikan diri dengan zaman.
Yang perlu dijaga adalah kesadaran bahwa perubahan dan ketelitian bukan dua hal yang saling bertentangan. Kita bisa mengikuti tren bahasa tanpa mengabaikan aturan dasar. Kita bisa bercanda menggunakan kata-kata baru tanpa kehilangan kemampuan menulis secara tepat ketika dibutuhkan.
Pun begitu saya tidak berharap Gen Z berhenti menciptakan istilah baru hanya demi mengejar kesempurnaan ejaan. Saya juga tidak ingin setiap percakapan di media sosial berubah menjadi ruang penghakiman terhadap kesalahan orang lain.
Saya hanya berharap kita tidak terlalu cepat membela kekeliruan sebagai gaya komunikasi, padahal kita sendiri belum berusaha memastikan bentuk yang benar. Bahasa bukan sekadar alat untuk membuat orang lain mengerti, melainkan juga sarana untuk berpikir, menyampaikan gagasan, dan membangun hubungan.
Jadi, mari tetap kreatif tanpa kehilangan ketelitian, tetap santai tanpa berhenti belajar, dan tetap berani mengoreksi tanpa merendahkan. Sebab, kebebasan berbahasa bukan berarti kita bebas mengabaikan pengetahuan, melainkan kesempatan untuk menggunakan bahasa secara lebih sadar.
Bahasa boleh berkembang, tren boleh berganti, dan cara berkomunikasi boleh berubah. Namun, bukankah akan lebih baik jika kemampuan kita memahami dan menggunakan bahasa ikut berkembang bersama zaman?