Kolom
Sisi Gelap Adulthood: Pergulatan Mental Gen Z Hadapi Ketidakpastian Hidup
Saat masih anak-anak, kita semua mengira menjadi dewasa adalah puncak dari kebebasan. Kita membayangkan bisa membeli apa saja tanpa dilarang, pergi ke mana pun tanpa izin, dan memegang kendali penuh atas hidup sendiri.
Namun, begitu gerbang usia dewasa benar-benar diketuk, realitas yang datang justru jauh dari romantisasi tersebut. Menjadi dewasa bagi Gen Z ternyata datang bersama ketatnya persaingan kerja, mahalnya harga properti, hingga kecemasan menatap masa depan.
Setiap hari, kita dikepung oleh ketidakpastian yang masif. Ditambah lagi, konten di media sosial banyak menyuguhkan kurasi kesuksesan semu orang lain yang memicu quarter-life crisis lebih dini.
Lalu, muncul keluhan kolektif di lini masa: menjadi dewasa terasa sangat melelahkan. Ini bukan sekadar keluhan manja, melainkan cermin kritis dari pergulatan mental generasi yang dipaksa dewasa di tengah dunia yang tidak pasti.
Fatamorgana Sukses Instan dan Tekanan Media Sosial
Salah satu faktor utama yang membuat proses pendewasaan Gen Z terasa dua kali lebih melelahkan adalah distorsi realitas di ruang digital. Media sosial, seperti TikTok dan Instagram, bertindak sebagai panggung flexing yang tidak pernah tutup.
Setiap kali membuka gawai, kita melihat teman sebaya yang sudah membeli mobil, bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji dua digit, atau pamer gaya hidup aesthetic di kafe mahal. Paparan konstan ini menciptakan standar sukses yang tidak realistis di kepala.
Ketika realitas hidup sendiri masih merangkak dari posisi magang dengan gaji pas-pasan, muncul perasaan gagal yang akut. Gen Z kelelahan bukan karena tidak berusaha, melainkan energi mentalnya habis untuk mengejar bayang-bayang kesempurnaan digital yang manipulatif.
Realitas Ekonomi Modern yang Tidak Ramah Pemula
Menjadi dewasa di era sekarang menuntut biaya hidup yang jauh lebih agresif dibandingkan generasi-generasi sebelumnya pada usia yang sama. Ketika UMR jalan di tempat, harga kebutuhan pokok, tarif transportasi, hingga biaya sewa tempat tinggal terus merangkak naik.
Belum lagi impian memiliki rumah pribadi yang makin terasa mustahil akibat inflasi harga properti yang tidak masuk akal. Bagi pekerja muda di entry-level, matematika bulanan yang harus dihadapi terasa semakin mencekik.
Gaji yang baru masuk sering kali langsung habis untuk kebutuhan bertahan hidup sehari-hari, menyisakan angka nol untuk pos tabungan masa depan. Ditambah ancaman otomatisasi teknologi yang siap memangkas posisi pekerjaan junior, masa depan karier pun terasa buram.
Ketidakpastian struktural inilah yang membuat proses adulthood terasa seperti maraton tanpa garis akhir yang menguras fisik dan emosional. Realitas ekonomi era modern semakin terasa tidak ramah bagi pemula.
Menjinakkan Kecemasan: Berdamai dengan Ketidaksempurnaan
Langkah awal untuk bertahan di tengah kerasnya fase pendewasaan adalah menurunkan ekspektasi nominal dan merangkul proses diri. Sukses tidak pernah memiliki lini masa yang seragam. Gen Z perlu membangun jarak psikologis dengan standar palsu di media sosial.
Menjadi dewasa yang bertanggung jawab bukan berarti harus memiliki segalanya di usia 25 tahun. Punya pekerjaan yang bisa menghidupi secara mandiri, mengelola kesehatan mental agar tetap waras, dan mampu menyisihkan tabungan darurat sekecil apa pun sudah menjadi kemenangan besar yang sah.
Mungkin kita hanya perlu mengurangi porsi membandingkan diri dan memperbanyak porsi menyayangi batasan kapasitas diri sendiri. Berdamai dengan segala ketidaksempurnaan diri akan efektif menjinakkan kecemasan dalam diri.
Bertumbuh Tangguh di Tengah Ketidakpastian
Diakui atau tidak, menjadi dewasa memang melelahkan, dan ketidakpastian hidup adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia modern ini. Gen Z tidak perlu merasa bersalah atau menganggap diri lemah hanya karena sesekali ingin menangis atau mengeluh "mengcapek" di media sosial.
Proses pendewasaan itu tentang seni menyeimbangkan antara perjuangan bertahan hidup dan merawat ruang waras dalam kepala. Jadi, berhentilah berlari terlalu cepat demi memuaskan ekspektasi dunia luar.
Jalani hari dengan langkah kecil yang konsisten, rayakan setiap pencapaian kecil, dan ingatlah bahwa menjadi dewasa yang tangguh tidak dibangun dari hidup yang tanpa cela. Kita harus berani terus melangkah maju meski masa depan masih dipenuhi ketidakpastian.