Kolom

Sisi Gelap Host Live Streaming: Dapat Cuan Gede tapi Dieksploitasi?

Sisi Gelap Host Live Streaming: Dapat Cuan Gede tapi Dieksploitasi?
Ilustrasi host live selling. (Unsplash)

Fenomena berbelanja sambil menonton siaran langsung atau live streaming kini telah menjadi bagian dari gaya hidup digital masyarakat Indonesia. Setiap kali membuka aplikasi e-commerce atau media sosial, kita akan dengan mudah menemukan para pemandu acara atau host live yang sangat energik. Mereka menyapa penonton dengan ramah, berteriak mempromosikan diskon, hingga melakukan berbagai aksi kreatif demi menarik perhatian pembeli.

Melihat popularitas mereka yang tampak selalu ceria, banyak orang mengira profesi sebagai host live adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan dan bergelimang cuan. Narasi tentang penghasilan besar yang didapatkan hanya dengan berbicara di depan kamera ponsel terus bergulir di media sosial. Sayangnya, gemerlap dunia digital ini sering kali menutup realita kelam yang tersembunyi di balik layar kaca gawai kita.

Di balik senyum lebar dan suara lantang yang mereka tunjukkan selama berjam-jam, ada tekanan kerja yang luar biasa berat. Profesi yang semula dianggap sebagai peluang emas baru bagi anak muda ini perlahan bertransformasi menjadi ladang eksploitasi gaya baru. Ketidakseimbangan relasi kuasa antara pemilik modal, agensi, dan para pekerja host live menjadi akar dari ketidakadilan yang jarang disuarakan.

Jam Kerja Tak Manusiawi demi Target Algoritma

Salah satu bentuk eksploitasi paling parah yang dihadapi oleh para host live adalah durasi kerja yang sering kali melanggar batas kewajaran. Demi mengejar algoritma platform yang mengutamakan akun dengan durasi siaran tanpa putus, mereka dipaksa bertahan di depan kamera. Tidak jarang seorang host harus berbicara, berdiri, dan menjaga energinya tetap penuh selama empat hingga enam jam berturut-turut dalam satu sesi.

Kondisi ini diperparah dengan pembagian jam kerja atau shift yang berantakan karena toko harus mengejar jam-jam sibuk penonton, seperti tengah malam atau subuh. Tekanan fisik yang terus-menerus ini tentu mengancam kesehatan para pekerja secara jangka panjang. Banyak dari mereka yang mengalami radang tenggorokan akut, kelelahan kronis, hingga gangguan kecemasan akibat target penjualan yang dipatok sangat tinggi.

Celakanya, pengorbanan fisik yang luar biasa tersebut sering kali tidak sebanding dengan kompensasi finansial yang mereka terima. Sebagian besar host live tidak diikat dengan kontrak kerja sektor formal yang melindungi hak-hak dasar mereka sebagai buruh. Mereka kerap dianggap sebagai pekerja lepas atau mitra, yang berarti perusahaan bisa dengan mudah memotong upah atau memberhentikan mereka kapan saja tanpa pesangon.

Jebakan Sistem Target dan Potongan Agensi

Banyak anak muda tertarik menjadi host live karena tergiur dengan sistem komisi penjualan yang dijanjikan di awal perekrutan. Logikanya, semakin banyak barang yang berhasil terjual selama siaran, maka semakin besar pula pundi-pundi uang yang dibawa pulang. Namun, dalam praktiknya, sistem komisi ini justru menjadi alat yang paling efektif untuk memeras tenaga para pekerja secara halus.

Sebagian besar dari mereka bekerja di bawah naungan agensi atau Multi-Channel Network (MCN) yang menerapkan potongan komisi sangat besar. Hak-hak mereka dikurangi lewat berbagai aturan sepihak, seperti denda jika terlambat memulai siaran atau potongan upah jika tidak mencapai target penjualan tertentu. Akibatnya, alih-alih mendapatkan untung besar, para pekerja ini justru sering kali mengantongi pendapatan di bawah upah minimum.

Tekanan psikologis di ruang siaran juga tidak kalah kejam karena mereka harus menghadapi komentar negatif atau pelecehan secara langsung dari penonton. Dalam kondisi tersebut, agensi sering kali menutup mata dan meminta host untuk tetap bersikap profesional demi menjaga performa toko. Pekerja dipaksa menelan sendiri trauma psikologis demi menyelamatkan angka penjualan produk yang mereka tawarkan.

Jangan Biarkan Ekonomi Digital Menindas Pekerja

Namun, pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat ini tentu akan menjadi catatan hitam jika terus dibarengi dengan penindasan pekerja di level bawah. Menurut saya pribadi, Kementerian Ketenagakerjaan harus mulai berani turun tangan untuk menyusun regulasi khusus yang melindungi profesi baru di dunia digital ini. Sangat tidak adil jika perusahaan raksasa meraup keuntungan miliaran rupiah dari tren live selling, sementara para host yang menjadi ujung tombaknya justru dibayar murah dan diperas tenaganya tanpa jaminan kesehatan.

Pihak agensi dan pemilik toko juga harus mulai merombak standar jam kerja serta memberikan kontrak yang transparan mengenai pembagian komisi secara adil. Sudah saatnya publik tidak hanya fokus pada angka penjualan yang fantastis, melainkan juga mulai peduli pada kesejahteraan manusia di balik layar. Melalui pengawasan yang ketat dan kesadaran bersama untuk memanusiakan pekerja, industri kreatif ini diharapkan bisa berkembang menjadi ekosistem yang sehat, adil, dan tidak mengorbankan masa depan fisik maupun mental generasi muda.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda