Kolom
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
Yogyakarta kembali menjadi ruang pertemuan berbagai suara kritis sepanjang Oktober 2026. Pada Jumat (20/10/2026), mahasiswa dari sejumlah kampus turun ke jalan untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Delapan hari kemudian, demonstrasi kembali berlangsung dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda di kawasan Malioboro yang berjalan hingga malam hari.
Aksi pada Jumat (20/10/2026) di depan Gedung DPRD DIY tersebut melibatkan aliansi mahasiswa dari berbagai kelompok, termasuk UII, HMI DIY, Forum BEM DIY, dan BEM Nusantara DIY, untuk menyampaikan aspirasi terkait kebijakan publik serta tata kelola pemerintahan.
Sementara itu, pada aksi Sabtu (28/10/2026) di Titik Nol Kilometer, situasi yang semula kondusif mengalami eskalasi hingga dini hari berikutnya. Terkait kondisi tersebut, LBH Yogyakarta mencatat puluhan pengaduan mengenai peserta aksi yang sempat diamankan dan sudah mendapatkan penanganan setelahnya.
Rangkaian demonstrasi tersebut memperlihatkan besarnya energi politik masyarakat ketika sebuah momentum hadir. Jalanan dipenuhi massa, tuntutan disampaikan melalui orasi, dan perhatian publik sepenuhnya tertuju pada persoalan yang sedang diperjuangkan.
Akan tetapi, yang menjadi ironi adalah setelah aksi selesai, kehidupan sehari-hari biasanya langsung kembali berjalan normal, mahasiswa kembali kuliah, pekerja kembali bekerja, dan masyarakat kembali ke rutinitas masing-masing seperti tidak terjadi apa-apa.
Sepertinya dari peristiwa yang belakangan ini terjadi, penting kiranya mencermati gerakan yang cenderung bersifat musiman tersebut. Gerakan sosial memang sewajarnya memiliki periode pasang surut karena tidak mungkin masyarakat terus-menerus berada di jalanan setiap hari.
Tantangan baru muncul ketika tidak ada organisasi yang menjaga kesinambungan perjuangan di antara momentum-momentum tersebut, sehingga energi politik masyarakat akhirnya hanya terkumpul saat ada peristiwa pemicu itu saja.
Dalam artikel Organizing and Democracy: Understanding the Possibilities for Transformative Collective Action (2024), Hahrie Han, dkk membedakan tindakan kolektif menjadi dua bentuk, yaitu mobilizing (mobilisasi) dan organizing (pengorganisasian).
Mobilisasi fokus pada upaya menghimpun massa dan menyuarakan tuntutan di ruang publik, sementara pengorganisasian bertujuan membentuk individu yang tergabung dalam kelompok menjadi aktor kolektif yang mampu mempengaruhi keputusan politik secara nyata.
Perbedaan ini penting kiranya untuk melihat arah gerakan sosial saat ini. Jika aksi demonstrasi mampu mengumpulkan ribuan orang dalam satu hari, pengorganisasian membutuhkan proses yang lebih panjang. Proses tersebut berjalan melalui pembangunan hubungan antar pemangku kepentingan, penguatan kepemimpinan, pembagian pengetahuan, serta pembentukan struktur kolektif yang solid.
Bayangkan seorang buruh yang mengikuti demonstrasi untuk menuntut upah layak. Pasca aksi selesai, ia biasanya akan kembali bekerja dengan menghadapi persoalan yang sama saban harinya. Situasinya akan berbeda jika ia tergabung dalam serikat pekerja, karena ada ruang untuk mendiskusikan masalah, mempelajari hak-haknya, menyusun tuntutan, membangun solidaritas, hingga melakukan perundingan bersama.
Hal serupa juga berlaku bagi petani, pedagang kecil, pekerja informal, masyarakat yang menghadapi penggusuran, hingga pekerja kreatif. Mereka semua membutuhkan wadah untuk menghubungkan persoalan individu menjadi kepentingan bersama. Proses pengorganisasian ini dapat dimulai melalui langkah-langkah sederhana, seperti diskusi rutin, pendidikan politik, pemetaan masalah, pendataan kebutuhan, serta pembentukan kepemimpinan kolektif.
Melalui langkah tersebut, masyarakat tidak sekadar menjadi objek orkestrasi pada aksi demonstrasi saja. Mereka juga memiliki kemampuan mandiri untuk memahami akar persoalan, menyusun tuntutan yang tepat, serta menentukan arah perjuangannya sendiri.
Bagaimanapun, demonstrasi tetaplah penting karena mampu membuka tabir persoalan, membangun tekanan publik, dan memperlihatkan ketidakpuasan masyarakat secara nyata, tapi perjuangan tidak boleh berhenti begitu saja saat massa membubarkan diri.
Setelah riuh di jalanan mereda dan perhatian media beralih, dibutuhkan kehadiran organisasi yang konsisten menjaga keberlanjutan gerakan. Sebab, gerakan rakyat sejati membutuhkan kerja nyata sehari-hari, bukan sekadar keramaian yang datang dan pergi mengikuti musim.