4 Arketipe Pendidikan ala Ivan Illich yang Wajib Banget Dilakukan Sekolah

Hernawan | Mohammad Maulana Iqbal
4 Arketipe Pendidikan ala Ivan Illich yang Wajib Banget Dilakukan Sekolah
Ilustrasi sekolah (Pexels/Yan Krukau)

Seperti kata Foucault, setiap penguasa selalu memproduksi pengetahuannya masing-masing. Begitupun dengan kurikulum pendidikan di Indonesia yang selalu silih berganti di setiap tampuk kekuasaan berganti. Ketika menteri pendidikannya ganti, kurikulumnya juga ikut ganti, dengan dalih penyempurnaan pendidikan, perbaikan pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan dan dalih-dalih lainnya.

Seperti sekarang kurikulum merdeka belajar yang merupakan produk dari Nadiem Anwar Makarim. Sebelumnya ada kurikulum 2013 sebagai hasil kekuasaan pak Muhammad Nuh berlanju ke pak Anies Baswedan. Ke belakang lagi ada kurikulum KTSP 2006, kurikulum 2004 dan masih banyak kurikulum lainnya.

Namun, dari sekian banyak kurikulum yang ada, ternyata nggak ada satu pun yang menerapkan ide-ide dari Ivan Illich. Ia adalah filsuf asal Austria yang membombardir model pendidikan di Barat pada abad 20-an. Melalui bukunya “deschooling society”, ia menggagas sebuah arketipe pendidikan yang seharusnya diterapkan dalam sekolah.

Illich sangat risih bahwa sekolah selama ini hanya sekadar institusi “penjual” ijazah. Lembaga ini hanya menawarkan selembar kertas kelulusan, tanpa menawarkan peningkatan keterampilan. Siswa hanya terbelenggu, tak bebas mengembangkan keterampilannya. Oleh karena itu, melalui tulisannya, Illich memberikan beberapa tawaran model pendidikan yang menurutnya sangat bermanfaat diterapkan di sekolah.

1. Tersedianya Pendidikan Praktik

Selama ini kita tahu bahwa sekolah yang menerapkan magang itu hanyalah Sekolah Menengah Kejuruan, alias SMK. Pertanyaannya mengapa hanya SMK? Kenapa SMA dan MA atau lainnya nggak ada magang? Padahal, di perguruan tinggi yang magang itu bukan hanya anak jurusan teknik, melainkan semua jurusan juga ada magang.

Menurut Illich setiap sekolah itu seharusnya ada pendidikan praktik. Dan, pendidikan praktik yang dimaksud Illich ini bukan sekadar magang tukang suruh fotocopy, melainkan benar-benar mencari ilmu dalam hal praktik. Sehingga ilmunya dapat diterapkan secara pragmatis, sekaligus menimba pengetahuan dalam kerja praktik.

Oleh karenanya, pendidikan praktik nggak hanya terpaku dalam instansi atau perkantoran saja, melainkan terjun ke masyarakat langsung juga merupakan pendidikan praktik. Mulai dari pergi ke ladang persawahan, ikut program pemberdayaan masyarakat, dan lain sebagainya yang memang benar-benar menambah skill seorang siswa secara langsung.

2. Tersedianya Wadah Pertukaran Keterampilan

Lagi-lagi Illich menekankan tentang keterampilan. Selama ini siswa hanya belajar dari guru, mentok pada mentor magang, itupun hanya anak SMK. Padahal, bagi Illich, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang itu, melainkan pendidikan dapat berlangsung dimanapun dan kapanpun.

Oleh karenanya, sekolah harusnya memberikan wadah kepada siswa untuk belajar kepada siapapun yang ia inginkan. Bukan hanya pada mereka yang berstatus hierarkis seperti guru, melainkan sekolah juga harus memberikan kepada siswa untuk bertukar keterampilan kepada teman, masyarakat, atau siapapun yang diinginkan siswa, bahkan satpam sekolah atau tukang bersih-bersih sekolah.

Melalui proses berlangsungnya pertukaran keterampilan ini, seorang siswa akan memiliki kekayaan keterampilan yang dimiliki dalam dirinya. Peserta didik tidak akan hanya terampil pada satu bidang saja, melainkan berbagai bidang mampu dikuasai. Pasalnya, ia bebas memilih siapapun untuk belajar dan bertukar keterampilan.

3. Tersedianya Teman Sebaya yang Baik

Selama ini sekolah hanya fokus pada persoalan pendidikan antara guru dan siswa. Sekolah nggak begitu memperhatikan pendidikan yang berlangsung antar siswa. Padahal, dapat dikatakan bahwa mayoritas interaksi seorang siswa dalam satu hari itu bukan antara siswa dan guru. Melainkan kebanyakan interaksi siswa itu berlangsung antara sesama siswa.

Nah, ini yang seharusnya dijamin oleh sekolah bahwa institusi itu menjamin tersedianya teman yang baik antar siswa. Bukan hanya menangani ketika ada kenakalan, melainkan juga jauh lebih dari itu terjaminnya siswa yang baik.

Kenapa harus begitu? Ya karena dengan mencari teman sebaya yang baik ini akan membantu sesama siswa untuk saling dukung, saling bantu bahkan saling respons dalam proses belajar. Sehingga melalui itu terciptalah suatu jaringan komunikatif pendidikan yang memungkinkan siswa untuk berbagi kegiatan belajar yang diikuti.

4. Tersedianya Kebebasan Memilik Pendidik yang Profesional

Selama ini pendidikan kita kurang bebas memilih guru yang diinginkan. Sekolah paling maju sekalipun dengan sistem SKS, nggak bisa memilih guru yang sesuai harapannya. Paling mentok siswa hanya bisa milih mata pelajaran yang diinginkannya sebagaimana di model pendidikan kampus.

Padahal, proses pendidikan bukan hanya persoalan materi atau mata pelajarannya. Melainkan juga kenyamanan siswa, kecocokan siswa dengan gurunya. Seorang siswa barangkali bisa saja senang dengan pelajaran tertentu namun tidak dengan gurunya.

Nah, bagi Illich seharusnya sekolah memberikan kebebasan siswa untuk memilih kepada siapa akan belajar. Sehingga mereka bisa belajar dengan maksimal.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak