Lifestyle

Fenomena Gen Z Jompo: Ketika Hidup Terlalu Padat untuk Istirahat

Fenomena Gen Z Jompo: Ketika Hidup Terlalu Padat untuk Istirahat
Seorang pemuda tertidur kelelahan di atas laptop di mejanya dengan minuman panas di dekatnya. (Pexels/Vitaly Gariev)

Bangun tidur, membuka mata, melihat jam, lalu menarik selimut lagi. Tidak karena malas. Tubuh rasanya seperti habis mengikuti rapat tiga hari tiga malam tanpa henti.

Begitulah kira-kira kehidupan Gen Z yang belakangan sering disebut "jompo". Umurnya masih dua puluhan, tetapi badan sudah punya keluhan seperti bapak-bapak yang baru selesai mengecat rumah. Pinggang pegal, kepala berat, mata lelah. Baru juga Senin pagi, rasanya sudah Jumat sore.

Istilah Gen Z jompo memang lebih dekat dengan candaan internet daripada istilah kesehatan. Sebenarnya, ada persoalan yang lebih serius di baliknya. Kelelahan anak muda tidak selalu lahir dari kebiasaan rebahan sambil menonton TikTok sampai subuh. 

Ada anak muda yang tidur larut karena pekerjaan belum selesai, ada yang bangun pagi untuk bekerja, pulang sore, lalu mencari penghasilan tambahan pada malam hari, besoknya diulang lagi. Begitu terus sampai tubuh lupa kapan terakhir kali benar-benar mendapat libur.

Masalahnya semakin rumit bagi mereka yang hidup dengan pendapatan pas-pasan. Bayangkan seorang anak pertama yang bekerja di Yogyakarta dengan penghasilan sekitar upah minimum. Ia membayar kos, makan, transportasi, membantu orang tua, mengirim uang untuk adik, lalu masih dituntut menabung untuk masa depan. 

Kalau ternyata gaji tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan harian, pekerjaan sampingan apapun akhirnya terpaksa dicari, freelance model apapun dikerjakan, bahkan dengan menjadi pengemudi ojek daring pun tidak masalah. Tubuh boleh muda, tetapi tagihan tetap tidak mengenal batas usia.

Data BPS menunjukkan kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan pekerja khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta masih menjadi persoalan yang perlu dibaca bersama. Publikasi Indikator Tingkat Hidup Pekerja/Karyawan DIY Agustus 2024 dan 2025 memuat indikator upah, pekerjaan, pasar tenaga kerja, hingga upah minimum sebagai gambaran kondisi pekerja di daerah.

Di tingkat provinsi, BPS mencatat persentase penduduk miskin DIY pada September 2025 masih mencapai 10,08 persen. Angka kemiskinan memang turun dibandingkan periode sebelumnya. Kenyataan itu tidak otomatis berarti setiap pekerja muda sudah memiliki ruang finansial yang lapang.

Ada persoalan lain yang sering luput ketika kita mengejek Gen Z karena gampang loyo: tubuh manusia memang membutuhkan waktu untuk bergerak dan beristirahat. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik. Alasan paling banyak bukan karena tidak tahu olahraga itu penting. Sebanyak 48,7 persen responden mengatakan mereka tidak memiliki waktu.

Menariknya, Kementerian Kesehatan juga secara khusus mengingatkan Gen Z mengenai pentingnya aktivitas fisik dan tidur. Orang dewasa membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap hari. Masalahnya, nasihat "tidur yang cukup" terdengar lucu bagi orang yang baru bisa pulang kerja pukul sembilan malam lalu masih harus menyelesaikan pekerjaan sampingan.

Di sinilah istilah Gen Z jompo menjadi lebih menarik. Kita memang perlu melihat kebiasaan pribadi. Terlalu lama menatap layar, jarang bergerak, tidur berantakan, konsumsi kafein berlebihan tentu punya konsekuensi. Tubuh tetap memiliki batas.

Namun, menyuruh anak muda tidur lebih awal tanpa bertanya mengapa ia tidur larut juga terlalu mudah. Bisa jadi ia bukan sedang menikmati kehidupan malam. Bisa jadi ia sedang mengejar tambahan penghasilan.

Pada faktanya, ada Gen Z yang punya pekerjaan utama pada siang hari dan pekerjaan sampingan pada malam hari, ada yang masih kuliah sambil bekerja, ada yang menjadi tulang punggung keluarga pada usia ketika orang lain masih sibuk menentukan mau nongkrong di mana, ada pula yang setiap akhir bulan hanya bisa menghitung berapa uang yang tersisa untuk bertahan sampai gajian berikutnya.

Maka jangan buru-buru menyebut mereka malas, barangkali mereka memang kelelahan, barangkali juga tubuh mereka sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan kalimat motivasi seperti, "Anak muda harus lebih produktif."

Sebab hidup bukan mesin fotokopi. Tidak bisa terus dipakai, dipanaskan, lalu berharap hasilnya tetap bagus. Anak muda juga membutuhkan waktu untuk membaca buku, bertemu teman, berjalan tanpa tujuan, menikmati kopi, jatuh cinta, bengong di kamar, atau sekadar tidak melakukan apa-apa. Waktu senggang bukan kemewahan. Ia bagian dari kehidupan yang sehat.

Kalau seluruh waktu habis untuk bekerja demi membayar kehidupan, kapan seseorang sempat menjalani hidupnya sendiri? Mungkin itulah wajah lain dari Gen Z jompo. Bukan semata-mata generasi yang terlalu malas bergerak. Bisa jadi ini generasi yang terlalu cepat diminta kuat.

Tubuhnya masih muda, tetapi tanggung jawabnya sudah tua. Dan kalau setiap hari terasa seperti usaha menyambung hidup sampai besok, jangan heran kalau bangun pagi saja sudah badan sudah remuk dimakan pegal.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda