Lifestyle

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?
Maudy Ayunda [Instagram/maudyayunda]

Kamu pasti pernah membuang waktu dan energi seharian cuma gara-gara kesal memikirkan komentar miring netizen, cuaca buruk yang merusak rencana, atau kelakuan orang lain yang tidak sesuai harapanmu. Kebiasaan meratapi hal-hal di luar kendali ini membuat pikiran capek sendiri.

Istilah Stoikisme atau Stoicism belakangan tiba-tiba populer dan sering melintas di linimasa, salah satunya karena sering dibahas dalam konten mindfulness oleh Maudy Ayunda.

Namun, filosofi kuno ini sebenarnya bukan sekadar gaya-gayaan atau sekadar tren kutipan estetika di media sosial.

Dikotomi Kendali: Akar Teoritis dari Stoikisme

Secara teoritis, inti ajaran Stoikisme—yang pertama kali digagas oleh Zeno dari Citium pada abad ke-3 SM—berpusat pada prinsip Dikotomi Kendali.

Filosofi ini membagi seluruh hal di dunia menjadi dua kategori: hal yang berada di bawah kendali kita (pikiran, respon, keputusan, dan tindakan pribadi) serta hal yang berada di luar kendali kita (tindakan orang lain, opini publik, kondisi ekonomi, hingga hasil akhir dari suatu usaha).

Stoikisme mengajarkan bahwa penderitaan mental tidak muncul dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari persepsi dan penilaian kita terhadap peristiwa tersebut.

Pandangan Para Ahli Era Modern tentang Stoikisme

Stoikisme mengalami kebangkitan masif di era modern sebagai alat bantu menjaga kesehatan mental. Penulis dan pakar Stoikisme modern asal Amerika Serikat, Ryan Holiday, menjelaskan bahwa Stoikisme bukanlah sikap dingin tanpa emosi (emotionless), melainkan seni melatih ketahanan emosional (emotional resiliency).

Menurutnya, filosofi ini mengajarkan kita untuk mengubah rintangan menjadi peluang dengan cara fokus pada apa yang bisa kita ubah.

Di Indonesia, pemikiran ini dipopulerkan secara teoritis dan praktis oleh Henry Manampiring melalui bukunya Filosofi Teras. Ia menekankan bahwa Stoikisme sangat adaptif untuk meredakan mental overthinking akibat paparan informasi digital.

Henry menjelaskan bahwa dengan penerapan Dikotomi Kendali, seseorang bisa menghemat energi mentalnya agar tidak mudah terganggu oleh hal-hal negatif yang bertebaran di sekitar kita.

Relevansi Stoikisme dengan Kondisi Masyarakat Indonesia Saat Ini

Masyarakat Indonesia saat ini hidup di tengah arus informasi yang sangat kencang dan tekanan sosial yang tinggi. Budaya yang memuat pencapaian di media sosial, paparan berita duka beruntun, hingga drama politik sering kali memicu kecemasan massal.

Di sinilah Stoikisme menjadi sangat relevan. Filosofi ini bertindak sebagai benteng mental agar kita tidak mudah tersulut emosi oleh provokasi di kolom komentar atau stres memikirkan masa depan yang belum pasti.

Stoikisme mengajak kita kembali berpijak pada kenyataan dan fokus pada tindakan nyata yang bisa kita lakukan hari ini.

Cara Praktis Latihan Stoikisme Sehari-hari

Menerapkan Stoikisme tidak membutuhkan ritual yang rumit. Mulailah dengan jeda beberapa detik sebelum kamu merespons situasi yang memancing emosi.

Saat ada hal buruk terjadi, tanyakan pada diri Anda: "Apakah hal ini bisa saya kendalikan secara langsung?" Jika definisinya tidak, belajarlah untuk melepaskannya (let it go) dan alihkan perhatianmu pada tindakan yang bisa kamu kendalikan, seperti menjaga ketenangan pikiran dan memilih respons terbaik.

Menguasai Diri Sendiri Adalah Bentuk Ketenangan Sejati

Memahami Stoikisme yang diangkat oleh sosok inspiratif seperti Maudy Ayunda seharusnya tidak berhenti sebatas tren mengonsumsi konten semata. Filosofi ini adalah panduan hidup praktis agar kamu berhenti menjadi tawanan atas emosi dan keadaan luar.

Jangan biarkan kedamaian hidupmu tergantung pada perilaku orang lain atau algoritma media sosial yang tidak bisa kamu atur.

Pada akhirnya, kebebasan sejati bukanlah saat kamu bisa mengendalikan seluruh dunia di sekitarmu, melainkan saat kamu berhasil memegang kendali penuh atas pikiran dan reaksimu sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda