Lifestyle
Seni Tidak Melakukan Apa-Apa: Membedah Konsep Niksen Lewat Neurosains
Duduk diam selama lima menit sekarang terasa seperti tindakan kriminal bagi sebagian anak muda. Tangan belum menyentuh gawai, tetapi pikiran sudah menyusun daftar dosa: belum membaca buku, belum berolahraga, belum belajar bahasa asing. Bahkan melamun pun barangkali perlu dibuatkan tracker agar bisa dimasukkan ke portofolio pengembangan diri.
Di tengah gempuran budaya kerja gesit tanpa rem, orang Belanda datang membawa konsep penawar bernama “niksen”. Konsep yang dipopulerkan oleh Olga Mecking ini menawarkan gagasan sederhana yaitu melakukan sesuatu tanpa tujuan apa pun! Tidak ada target setinggi langit, tidak ada pencapaian mentereng, dan pastinya bebas dari sertifikat keaktifan.
Dulu di tanah kelahirannya, niksen ini dicap negatif karena dianggap saudara kembar dari kemalasan akut. Tapi seiring populernya urusan mental health, konsep ini dibaca ulang sebagai ajang istirahat yang suci. Kuncinya adalah membuang jauh-jauh segala tuntutan hidup, bukan malah menciptakan proyek baru bertajuk "Panduan Cara Beristirahat Paling Optimal Sedunia".
Tapi ingat, niksen ini beda kasta dengan doomscrolling alias rebahan sambil jempol gemetar menggulir media sosial berjam-jam. Kalau doomscrolling itu otaknya masih dipaksa kerja rodi menerima informasi, sedangkan niksen justru memberi ruang bagi otak untuk mogok kerja sementara. Cukup duduk manis di dekat jendela, melototi awan yang berarak santai, atau membiarkan pikiran terbang ke mana saja. Itulah kemewahan istirahat yang paling hakiki tanpa perlu modal sepeser pun.
Biar tidak tertukar, niksen ini beda kasta dengan meditasi mindfulness ala Maudy Ayunda. Kalau meditasi itu ibarat menyetir mobil yang harus fokus mengamati napas, niksen ini jauh lebih santai dan ugal-ugalan. Pikiran Anda boleh keluyuran ke mana saja sesuka hati, asalkan jangan dipaksa melahirkan ide brilian setingkat pemenang Nobel sebelum waktu istirahat selesai.
Dunia neurosains punya penjelasan padat soal ini lewat istilah Default Mode Network (DMN)—sebuah jaringan di otak yang mendadak sibuk saat kita sedang melamun santai. Vinod Menon dalam jurnal Neuron (2023) membocorkan bahwa DMN ini bertugas merajut ingatan masa lalu, bahasa, dan pengalaman pribadi menjadi sebuah cerita fiksi di dalam kepala.
Jadi, saat kita tampak bengong seperti ayam jago kena jengger, otak kita sebenarnya tidak sedang mati suri atau mogok kerja. Malahan, riset Fox dkk dalam NeuroImage (2015) membuktikan bahwa saat pikiran kita piknik kemana-mana (mind-wandering), ada jaringan otak lain yang ikut lembur berjamaah. Dari kacamata psikologi klinis, mengambil jeda itu gunanya untuk mengerem ambisi kerja kita yang suka kelewat batas.
Namun, kita tidak perlu melabeli niksen ini dengan istilah medis yang berat-berat seperti terapi komparatif. Anggap saja ini sebuah eksperimen mandiri berskala liliput. Tujuannya melatih diri kita agar kuat mental menghadapi waktu kosong, tanpa perlu buru-buru kabur mencari pelarian ke tumpukan tugas kantor atau layar ponsel.
Cobalah lima menit setiap hari. Letakkan gawai, duduk dengan nyaman, lalu biarkan perhatian bergerak tanpa target. Jika pikiran memikirkan tagihan, pekerjaan, atau masa depan, biarkan saja. Tidak semua pikiran harus diselesaikan seperti soal ujian.
Istirahat merupakan bagian dari cara manusia mempertahankan tenaga, perhatian, dan kewarasan. Dalam dunia yang meminta setiap menit menghasilkan sesuatu, keberanian untuk tidak melakukan apa-apa dapat menjadi kemewahan sederhana. Lima menit tanpa prestasi mungkin tidak mengubah dunia, tetapi setidaknya dapat mencegah kita memperlakukan diri sendiri seperti mesin fotokopi yang kehabisan tinta.