facebook

Filosofis Deontologis dalam Menyikapi Tradisi Lokal

nuril ayni
Filosofis Deontologis dalam Menyikapi Tradisi Lokal
immanuel kant (dok. istimewa)

Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari keterikatannya dengan budaya dan tradisi. Budaya menjadi salah satu dari identitas dari golongan masyarakat yang mendiami suatu wilayah. Budaya yang berkelanjutan pada akhirnya akan menciptakan hukum adat yang bersifat wajib.

Kewajiban terhadap hukum adat adalah mengenai etika dan bukan kewajiban yang bersifat formal. Tradisi di Jawa sebagian besar masih dalam pikiran masyarakatnya. Sehingga seperti tradisi selamatan sumber air dan juga selamatan malam jumat masih banyak dilakukan ditengah-tengah masyarakat. Dalam filosofi aliran deotologis, suatu tindakan manusia berdasarkan baik dan buruknya tindakan.

Sehingga apapun yang membawa bagi diri sendiri maka hal tersebut berubah menjadi kewajiban untuk dilakukan. Manusia baik ketika telah melakukan kewajiban menggunakan apapun yang telah dimiliki seperti: harta, tahta, kesehatan, dan lain-lain. Ilmu itu sendiri memberikan kontribusi dalam penyelesaian hidup manusia.

Pertanyaan-pertanyaan tak terselesaikan akan menemukan jawaban yang bijak pada akhirnya dengan berpikir menggukanakan ilmu pengetahuan. Dari sini akal pikiran manusia digunakan dalam mencari kebenaran dan titik temu diantara permasalahan.

Aliran filosofi deontologis menekankan tindakan manusia yang didasarkan pada kewajiban. Dalam dengan kearifan lokal, filosofi aliran deontologis memberikan pengertian mengenai suatu kewajiban yang berhubungan dengan etika. Filsafat memiliki seputar dunia yang membahas etika yang harus dimiliki oleh masyarakat.

Begitupula dengan moral yang bersifat abstrak dan pembantuan baik tindakan manusia buruknya. Sebagaimana dikutip oleh Heryanti dalam jurnal yang berjudul: “Kajian Filsafat Tanggungjawab Negara Terhadap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Hukum Adat” menyebutkan tentang pandangan seorang tokoh bernama Talcott Parsons mengenai fungsi suatu hukum. Dalam kutipannya ia menyatakan bahwa sistem hukum adalah untuk memuat, memuat dan memelihara sosial masyarakat.

Filsafat Deontologis menempatkan suatu tindakan akan tindakan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban. Ketika manusia melakukan semua kewajibannya dapat dikatakan bahwa ia telah melakukan. Aliran Deontologis tidak terpanah dengan ketetapan adanya perbuatan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa deontologis melaksanakan suatu tindakan sebelum kesalahan dari perbuatan yang akan dilakukan. Manusia memiliki daya berupa harta, kesehatan jasmani rohani, kekuasaan, tidak akan dikatakan sebagai isyarat selama anugrah yang dimiliki tidak dilakukan untuk memenuhi kewajibanya sebagai manusia.

Konsepsi hukum sebagai penjaga keharmonisan dalam kepntingan-kepentingan hidup masyarakat yang sejalan dengan kearifan lokal masyarakat adat. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang pada umumnya dilaksanakan oleh sebagian besar anggota masyarakat. Salah satunya yaitu dalam tradisi selamatan sumber air. Masyarakat percaya bahwa setiap tahun harus dilaksanakan dengan memperhatikan keselamatan sumber air bersama.

Selamatan ini dilaksanakan dengan membuat tumpeng yang kemudian dibawa ke hulu sumber udara di desa tempat tinggalnya. Sebagai simbol balas budi terhadap penuggu sumber air, maka masyarakat juga melepaskan ayam jantan didekat sumber air.

Tradisi ini akhirnya menjadi sebuah kewajiban etika dan moral. Suseno mengatakan bahwa masyarakat tradisional tidak takut akan peraturan dari tradisi, namun mereka akan merasa terbebani dengan tidak melakukan hal tersebut. Dengan sendirinya, tradisi yang terjadi dalam masyarakat Jawa menimbulkan hukum adat yang bersifat wajib secara etika.

Etika-etika tersebutlah kemudian tertanam rapi dalam pikiran masyarakat dan diwariskan secara turun temurun. Tindakan pemenuhan kewajiban dan etika tersebut harus dilakukan maka akan mengganggu keharmonisan dalam kepentingan masyarakat.

Contoh lain dari hubungan antara hukum adat dengan filosofi aliran deontologis pada tradisi di Jawa yaitu pembuatan saji setiap malam jumat legi. Mungkin tradisi ini masih terlalu asing ditelinga masyarakat umum. Namun, pada kenyataanya tradisi ini telah berlangsung sejak lama.

Seperti kajian yang benar-benar Moch.Shofiyuddin dkk dalam jurnalnya yang berjudul “Fenomenologi Ritual Malam Jumat Legi Warga Nahdlatul Ulama Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto”. Kajian tersebut meneliti mengenai tradisi masyarakat Kemlagi pada hari jumat legi. Tradisi yang dilakukan dengan berkumpul disuatu tempat yang ramah keramat seperti punden, makam, dan juga pohon-pohon besar.

 Pada tempat tersebut mereka akan memberikan sesaji berupa makanan, minuman dan juga uang. Dengan memberikan sesaji seperti uang, makanan dan juga minuman maka gaya dari persembahan tersebut akan tersampaikan kepada keluarga yang telah meninggal. Sebenarnya tradisi saji malam juga dilakukan dibanyak tempat di pulau jawa.

Hal tersebut telah tertanam menjadi suatu tradisi yang wajib dalam segi moral sesama masyarakat. Dengan mengikuti acara ritual maka bertujuan agar tidak menimbulkan malu. Selain itu juga untuk Menghindari cemooh dengan menjadi bahan gunjingan dari orang-orang dilingkungan sekitar yang tentunya akan berpengaruh terhadap keseimbangan keharmonisan dalam bermasyarakat. Sebuah tradisi menyadarkan bahwa mereka merupakan anggota dari golongan dari suku masyarakat yang memiliki hukum adat.

Dengan begitu, Filsafat Deontologis menyatakan perbuatan apapun yang dilakukan berdasarkan kewajiban, baik kewajiban etika dan moral seperti contoh tradisi di atas maka manusia tersebut telah menunjukkan indikasi baik. Dengan menggunakan anugrah yang dimilki manusia baik berupa kekayaan, kesehatan, jabatan dan lainnya maka manusia tersebut berhasil mengoptimalkan kebaikkannya.

Etika deotologis menilai tingkat moralitas manusia berdasarkan perintah dan ketaatannya terhadap hukum. Karena pada hakikatnya hukum akan memberikan tanggungjawab terhadap manusia untuk memenuhi kewajibannya. Tindakan baik buruknya dari filosofi deontologi ketika tindakan tersebut memang baik bagi dirinya sendiri sehingga menjadi kewajiban yang harus dilakukan. Agak,

Ketika salah satu anggota masyarakat menyepelekan tradisi, dan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti bencana alam dan lain sebagainya. Maka, pelanggaran yang dilakukan juga berdampak negatif bagi diri sendiri. Dalam hal ini diketahui bahwa apapun yang membawa dampak buruk bagi diri sendiri harus dihindari dan apabila berdampak baik terhadap diri sendiri maka hal tersebut wajib dilakukan.

Daftar Rujukan:

  • Heryanti, 2017, Kajian Filsafat Tanggung Jawab Negara Terhadap  Nilai-Nilai Kearifan
  •  Lokal Masyarakat Hukum Adat, Jurnal Vol 1, Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo
  • Kurniawan, Citra, Filsafat Ilmu Dalam Lingkup Agama Dan Kebudayan, Peran Ilmu Dalam
  • Pengembangan Agama, Peran Agama Dalam Pengembangan Ilmu, Jurnal Sekolah Tinggi Teknik Malang
  • Mohammad Maiwan.2012. Jurnal Teleologi Sejarah Dalam Perspekstif Sekuler
  • Nur Mualim. 2008. Skripsi Filsafat Sejarah Menurut Ali Syariati. Yogyakarta. Universitas
  • Islam Negeri Sunan Kalijaga
  • Shofiyuddin, Moch, 2016 Fenomenologi Ritual Malam Jumat Legi Warga Nahdlatul Ulama
  • Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jurnal Paradigma. Vol 04 No 03 Program Studi S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
  • Zulkarnain, Tradisi Slametan Jumat Legi Upaya Mempertahankan Solidaritas Sosial
  • Masyarakat Desa, Jurnal Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fip, Universitas Negeri Malang

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak