Normalisasi Sungai Batang Kuranji, Aksi Cepat Bina Marga di Sumatra

Bimo Aria Fundrika | Muslifa Aseani
Normalisasi Sungai Batang Kuranji, Aksi Cepat Bina Marga di Sumatra
Perbaikan infrastruktur kembali membaik pascabencana Sumatra (Suara.com)

Saya belajar dari masa-masa pemulihan Gempa Lombok 2018 dulu. Benar, sudah terlalu jauh jika dibandingkan bencana di Pulau Sumatra. Namun, bukankah sejarah adalah cermin terbaik, berkaca pada jejak yang tertinggal.

Salah satu yang lekat di ingatan saya adalah kisah yang dibagikan kawan-kawan SMA—yang saat gempa terjadi telah menjadi ASN di lintas lembaga, termasuk mereka yang bertugas di dinas-dinas pemerintah. Saat itu, lintas dinas berbagi tugas. Total 11 desa terdampak di salah satu kabupaten, ditangani langsung oleh satu dinas, memastikan wilayah tersebut segera pulih dari dampak bencana..

Pada bencana banjir Pulau Sumatra, meski hanya melihat dari sosial media dan diskusi di grup-grup chat online, kembali saya terkesan. Penanganan pemerintah, masih selalu hadir.

Sedikit flashback, hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Pulau Sumatra pada penghujung tahun lalu ternyata bukanlah sekadar fenomena cuaca biasa. Dalam hitungan jam, sungai-sungai besar meluap, menyapu permukiman, dan menenggelamkan ribuan hektare sawah yang siap panen.

Segera Pulih dengan Bangun Infrastruktur

Dokumentasi normalisasi Sungai Batang Kuranji, di kota Padang, Sumatera Barat. Kredit foto, web PU.
Dokumentasi normalisasi Sungai Batang Kuranji, di kota Padang, Sumatera Barat. Kredit foto, web PU.

Namun, setelah bencana itu berlalu, pemandangan pilu tersebut mulai berganti. Bukan lagi rintihan kehilangan yang terdengar, melainkan deru mesin traktor dan tawa anak-anak di sekolah yang baru saja direnovasi.

Keberhasilan pemulihan pasca banjir di Sumatra menjadi potret nyata bagaimana kolaborasi, teknologi, dan empati mampu mengubah puing kehancuran menjadi fondasi harapan baru—dengan peran teknis infrastruktur yang dijalankan secara konsisten Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Direktorat Jenderal Bina Marga.

Kunci dari keberhasilan pemulihan ini terletak pada pergeseran paradigma penanganan bencana: dari yang semula bersifat reaktif menjadi lebih proaktif. Sesaat setelah banjir surut, koordinasi antar-lembaga tidak lagi terhambat oleh sekat birokrasi yang kaku.

Kecepatan ini krusial. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, dana stimulan untuk perbaikan rumah kategori rusak berat mulai dicairkan. Proses ini tidak hanya melibatkan pemberian bantuan tunai, tetapi juga pendampingan teknis agar rumah yang dibangun kembali memiliki standar tahan bencana.

Langkah Proaktif Cegah Bencana Berulang

Dokumentasi normalisasi Sungai Batang Kuranji, di kota Padang, Sumatera Barat. Kredit foto, web PU.
Dokumentasi normalisasi Sungai Batang Kuranji, di kota Padang, Sumatera Barat. Kredit foto, web PU.

Pemulihan di Sumatra tidak sekadar mengembalikan kondisi seperti semula (build back better). Kementerian Pekerjaan Umum (PUPR), melalui unit teknisnya termasuk Direktorat Jenderal Bina Marga, mengambil langkah strategis dengan membangun infrastruktur yang lebih tangguh.

Jembatan-jembatan yang putus—nadi utama ekonomi Sumatra—disambung kembali dengan konstruksi yang lebih tinggi dari muka air banjir historis. Hal ini memastikan bahwa jika bencana serupa terulang, konektivitas lintas provinsi di Sumatra tidak lagi lumpuh total seperti masa lalu.

Salah satu rujukan dokumentasi yang disertakan di tulisan ini, normalisasi Sungai Batang Kuranji, khususnya di kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, di kota Padang.

Pekerjaan ini dilakukan secepatnya, untuk meminimalkan resiko banjir susulan yang sempat terjadi pada 2 Januari lalu. Lebih jauh lagi, tentu juga menghindari resiko bencana banjir bandang beruang.

Rujukan data lainnya (web Kementerian PU - pu.go.id), salah satunya adalah pembangunan kembali 45 jembatan permanen. Tentu dengan target mempercepat pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat. Sehingga secara umum,

Kisah pemulihan banjir di Sumatra adalah testimoni tentang kekuatan kolektif. Ketika birokrasi bekerja dengan hati, teknologi dimanfaatkan untuk kemanusiaan, dan masyarakat dilibatkan sebagai subjek pembangunan, maka bangkit dari bencana bukanlah hal mustahil—meski tidak selalu secepat negara maju yang kerap kita lihat di media sosial.

Namun semoga tercatat ulang sebagai sejarah baik. Betapapun carut-marut kisah penanganan bencana, selalu ada sisi-sisi terang yang layak dikenang: pertolongan, bantuan, program lintas sektor, dan kerja nyata berbagai pihak, termasuk Direktorat Jenderal Bina Marga, agar warga Pulau Andalas dapat kembali menapaki kehidupan mereka yang semula. Bisa jadi, salah satunya seperti saya dan kawan-kawan ASN di pembuka tulisan ini. Semoga. Amin.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak