Sewa iPhone Saat Lebaran: Gengsi Atau Benar-Benar Mengutamakan Fungsi?

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Sewa iPhone Saat Lebaran: Gengsi Atau Benar-Benar Mengutamakan Fungsi?
Ilustrasi wanita selfie menggunakan iPhone saat Lebaran (Freepik/freepik)

Menjelang Lebaran, hiruk-pikuk persiapan hari raya bukan lagi soal baju baru atau kue kering semata. Di media sosial, kini muncul tren unik yang memicu perdebatan hangat, yaitu jasa sewa iPhone. Fenomena ini mencuat setelah sebuah thread dari @wisnuajikurniawan yang melempar pertanyaan retoris, "Serius buat apa sih sewa iPhone?"

Pertanyaan sederhana ini membuka kotak pandora masyarakat Indonesia mengenai gaya hidup, ekonomi digital, dan tekanan sosial di masa mudik. Istilah “gengsi” kemudian muncul di tengah riuhnya upaya memoles citra diri agar terlihat sukses di depan keluarga.

Di tengah momen kumpul keluarga, iPhone sewaan sering kali menjadi jalan pintas bagi mereka yang ingin diakui status sosialnya tanpa harus membeli baru dengan harga puluhan juta. Fenomena ini menunjukkan bahwa mudik bukan hanya soal silaturahmi, tapi juga adu gaya yang ternyata mulai disiasati lewat jasa rental harian.

Perbincangan sewa iphone di media sosial. (Dok. Tangkap Layar)
Perbincangan sewa iphone di media sosial. (Dok. Tangkap Layar)

Sebenarnya, jika dilihat dari hal positif, menyewa iPhone merupakan langkah praktis demi fungsi (utility). Bagi mereka yang mengutamakan dokumentasi, iPhone juga bisa digunakan sebagai alat kerja, terutama kameranya yang jernih mampu menangkap momen bersama keluarga di tengah hari raya.

Seperti yang diungkapkan oleh @nurpiihanifiant, sewa iPhone sering kali ditujukan untuk kebutuhan positif: "Biasanya buat keperluan kerja, dokumentasi, event, atau live report yang seharian pakai kamera & sosmed terutama IG sama TikTok."

Senada dengan hal tersebut, @tuan_kautsarazad menilai langkah ini mirip dengan menyewa kamera profesional.

"Iya, mungkin pengin videonya bagus nanti pas momen Lebaran ya, soalnya kan emang stabil dia soal video... Hampir mirip kayak sewa camera sih," tulisnya.

Dalam konteks ini, menyewa iPhone seharga 300–500 ribu rupiah per hari menjadi lebih logis secara finansial daripada memaksakan diri membeli baru seharga 20 juta rupiah. Namun, garis antara kebutuhan fungsional dan pemuasan gengsi sangatlah tipis. Lebaran di Indonesia sering kali menjadi panggung pembuktian diri saat mudik atau reuni. Di sinilah sisi gelap dari tren ini muncul.

@lovelykstyle.thrift berkomentar pedas bahwa fenomena ini sering kali hanya untuk gaya-gayaan dan ajang pamer. Argumen mengenai eksklusivitas pun turut membuat suasana menjadi panas.

Akun @kenyulian menyoroti bahwa banyak orang terjebak dalam persepsi harga diri melalui perangkat. Ia menyebutkan bahwa istilah exclusive ecosystem milik Apple sering disalahartikan sebagai "exclusive in terms of pride for selected people." Padahal secara teknis, keunggulan iPhone terletak pada sistemnya yang tertutup dan aman, bukan pada status sosial yang melekat padanya.

Pada akhirnya, fenomena sewa iPhone menjelang Lebaran adalah cermin dari pergeseran nilai di masyarakat kita. Apakah ini salah satu cara yang cerdas? Jika tujuannya adalah menyimpan memori dengan kualitas kamera yang bagus tanpa menguras tabungan, itu baik. Namun, jika motivasinya hanya agar terlihat mapan di depan sepupu atau teman lama, maka sewa iPhone hanyalah beban finansial untuk validasi semu yang akan hilang seiring berakhirnya masa sewa.

Jadi, sebelum kamu menghubungi jasa rental iPhone, tanyakan motivasi pada dirimu sendiri!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak