Bencana tidak selalu datang dengan suara gemuruh atau kepanikan massal. Di Padang, saya justru merasakannya lewat keheningan ketika keran air di rumah berhenti mengalir. Tidak ada pengumuman resmi pagi itu, hanya ember kosong dan pesan berantai di grup warga yang saling bertanya, “Gimana, apakah air di rumah kalian juga mati?”
Belakangan ini kami tahu, hujan lebat dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera memicu dampak banjir bandang. Bahkan akses jalan terganggu, distribusi makanan dan segalanya jadi tersendat, apalagi fasilitas penunjang ikut terdampak. Istilah akses terputus yang sering terdengar di berita, tiba-tiba menjadi pengalaman dan makanan sehari-hari.
Sebagai orang Padang, saya tahu betul bahwa bencana kali ini bukan hanya merusak akses jalanan tapi juga kebutuhan dasar kita seperti sumber air. Padahal semestinya air menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, dapur, hingga kesehatan. Apalagi di masa pascabencana. Begitu air bersih terputus, yang terdampak bukan hanya tubuh, tapi juga ketenangan dan kenyamanan hidup.
Karena itu, keterlibatan para pegawai Kementerian PU di sekitar Kelurahan Melati, Gunung Sariak III, Kecamatan Kuranji terasa sangat membantu terutama bagi masyarakat yang membutuhkan.
Menteri PU menyebut ini sebagai wujud nyata pengabdian pegawai PU kepada ibu pertiwi. Karena pengabdian di sini bukan tentang seragam atau jabatan, melainkan tentang empati dan kepeduliaan kita antar sesama manusia. Terlebih melihat ke lokasi yang tidak sangat layak, semua barang bahkan anggota keluarga mereka hilang tapi di balik itu semua mereka tetap sabar menjalaninya.
Saat Akses Terputus dan Segala Aktivitas Warga Ikut Tertahan
Ketika warga mulai merasakan jalanan yang biasanya lancar, sekarang menjadi terganggu karena beberapa ruas tertutup lumpur dan material longsor. Kita sebagai masyarakat Padang yang mendapatkan pasokan bahan baku makanan dari berbagai daerah pun ikut merasakannya. Semula semua stok bahan baku bisa dengan mudah dicari di pasar raya. Namun karena akses jalan terputus, alhasil semua kebutuhan pokok sampai melambung naik harganya. Bahkan sekilo cabe nyaris dibandrol dengan harga Rp 180.000. Fantastis!
Tak hanya itu, para penjual yang berjualan sarapan memilih menutup warungnya. Karena tidak semua bahan yang dijualnya tersedia bahkan harus menunggu beberapa hari lagi untuk semua persediaan bahan datang.
Selain para UMKM, anak-anak sekolah pun ikut terdampak. Sekolah akhirnya memilih untuk diliburkan sementara, bukan hanya karena cuaca, tetapi karena akses menuju sekolah belum sepenuhnya aman. Jalan licin, transportasi belum normal, dan pemerintah menghimbau agar anak-anak belajar di rumah saja demi keselamatan.
Saat Akses Terbuka, Aktivitas Kembali Pulih
Perubahan mulai terasa ketika kabar pembukaan akses jalan terdengar. Semua alat berat bekerja maksimal untuk membersihkan material longsor, petugas berjibaku memastikan jalan kembali bisa dilalui, dan arus kendaraan perlahan muncul kembali. Inilah yang menjadi harapan sekaligus fokus dari Ditjen Bina Marga Kementerian PU untuk tetap maksimal dalam pengupayaan terhadap pemulihan akses masuk ke setiap wilayah yang terdampak bencana tanpa terkecuali.
Kerja cepat di sektor jalan menjadi titik balik pemulihan aktivitas warga. Sehingga hal ini terasa langsung oleh masyarakat. Apalagi percepatan penanganan dampak bencana di kali ini terutama di Sumatra Barat melalui langkah tanggap darurat lintas sektor, seperti Bina Marga yang terbukti bisa membantu semua kesulitan yang sempat terjadi.
Sampai sekarang, distribusi bahan pokok pun berangsur lancar. Alhamdulillah, berkat Bina Marga dan partisipasi dari berbagai pihak juga. Walau semua memang belum sepenuhnya pulih tetapi perlahan semua aktivitas kembali normal dan berjalan baik seperti sedia kalanya.
Pasca Pemulihan Bencana di Sumbar
Pasca proses pemulihan, masyarakat di Sumatra Barat merasakan hidup kembali. Gimana tidak, kebahagiaan kami saat itu aktivitas kembali berjalan normal. Cuaca yang semula sendu kini kembali cerah dan itu menjadi keinginan kami semua. Kami tahu Padang cerah dengan cuacanya yang panas, tidak lagi dengan hujan deras seperti kemarin.
Kini sebagai warga Padang, saya semakin menyadari bahwa akses jalan dan sumber air menjadi sumber dari segala-galanya. Kami senang karena banyak pihak yang ikut bergerak dan turun menyalurkan bantuan serta memberikan kepada yang terdampak. Karena itu para warga yang terkena dampaknya merasakan kehidupannya lebih baik. Keinginan kami hanya satu, semua bisa pulih lagi setelah bencana datang.
Kini, meski bekas bencana masih terlihat, tapi kehidupan bergerak kembali. Bukan hanya air yang kembali mengalir, jalan juga kembali bisa dilalui, dan aktivitas mulai kembali normal seperti sedia kala. Bagi kami yang merasakannya langsung, terbukanya jalan bukan hanya sekadar kabar baik saja melainkan bahwa ada harapan yang masih tersimpan di sana untuk masa depan negeri ini.
Karena kami tahu Padang yang selama ini kami keluhkan panas, ternyata kami rindu panas itu kembali. Kami hanya ingin Padang kembali pulih seperti biasanya. Inilah catatan yang tak seberapa dari saya sebagai warga Padang yang rindu ibu pertiwi kami pulih kembali, semoga lekas membaik.