Ngabuburit dengan Balap Liar: Tradisi Semu yang Merenggut Nyawa

M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Ngabuburit dengan Balap Liar: Tradisi Semu yang Merenggut Nyawa
Ilustrasi balap liar. [Dok.Antara]

Fenomena balapan liar saat ngabuburit di bulan Ramadan seolah menjadi ritual yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap tahun, pola yang sama berulang: jalanan menjelang berbuka berubah menjadi arena adu kecepatan, aparat melakukan penertiban, kecelakaan terjadi, lalu publik kembali lupa hingga Ramadan berikutnya tiba.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana menghentikan, melainkan mengapa praktik usang ini tetap lestari di tengah modernitas dan meningkatnya kesadaran keselamatan.

Tradisi Semu dan Pencarian Identitas

Bagi sebagian remaja, ngabuburit tidak lagi dimaknai sebagai aktivitas menunggu berbuka dengan kegiatan positif, melainkan sebagai momentum eksistensi. Jalanan menjadi panggung, motor menjadi simbol keberanian, dan sorak penonton menjadi validasi sosial. Dalam konteks ini, balapan liar menjelma sebagai "tradisi semu" yang dibungkus dalam romantisme kebebasan.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Hal tersebut berkelindan dengan minimnya ruang ekspresi bagi anak muda, terutama di wilayah urban pinggiran. Ketika ruang publik yang aman dan terjangkau terbatas, jalan raya menjadi alternatif yang paling mudah diakses. Sayangnya, pilihan ini berbiaya sosial tinggi.

Lebih jauh lagi, ada aspek psikologis yang kerap luput dari perhatian. Masa remaja adalah fase pencarian identitas. Tanpa pendampingan yang memadai, pencarian ini dapat mengambil bentuk yang destruktif. Balapan liar menjadi cara instan untuk "diakui", meskipun berisiko bagi diri sendiri dan orang lain.

Penertiban yang Reaktif dan Siklus Tanpa Akhir

Setiap Ramadan, respons yang muncul cenderung seragam: razia, pembubaran, dan penyitaan kendaraan. Pendekatan ini penting, tetapi sering kali bersifat reaktif dan temporer. Aparat bergerak ketika fenomena sudah mencuat, bukan mencegah sejak awal.

Akibatnya, yang terjadi adalah siklus tanpa akhir. Balapan liar dibubarkan di satu titik, lalu berpindah ke lokasi lain. Ketika Ramadan usai, intensitas pengawasan menurun dan praktik ini tetap hidup dalam "mode tidur" hingga kembali meledak pada tahun berikutnya. Permasalahan lain adalah kurangnya koordinasi lintas sektor. Penanganan balapan liar sering dibebankan semata pada aparat penegak hukum.

Padahal, akar persoalan ini juga menyentuh ranah pendidikan, keluarga, hingga kebijakan tata kota. Tanpa pendekatan yang komprehensif, penertiban hanya menyentuh permukaan. Hal itu tidak menyasar motivasi, tidak mengubah perilaku, dan tidak menawarkan alternatif.

Membongkar Praktik Usang dengan Pendekatan Baru

Untuk benar-benar menyelesaikan persoalan ini, diperlukan perubahan cara pandang. Balapan liar tidak bisa hanya dilihat sebagai pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai gejala sosial.

Pertama, perlu penyediaan ruang alternatif yang aman dan legal bagi anak muda untuk menyalurkan minat otomotif. Sirkuit komunitas atau event balap resmi berskala lokal dapat menjadi solusi. Di beberapa daerah, pendekatan ini terbukti mampu mengalihkan energi destruktif menjadi prestasi.

Kedua, edukasi harus diperkuat, bukan hanya soal aturan lalu lintas, melainkan juga kesadaran risiko dan empati sosial. Kampanye keselamatan perlu dikemas dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda, tidak menggurui, tetapi mengajak.

Ketiga, peran keluarga dan komunitas tidak bisa diabaikan. Pengawasan orang tua, keterlibatan tokoh masyarakat, hingga inisiatif komunitas lokal dapat menjadi benteng pertama pencegahan. Intervensi yang berbasis komunitas cenderung lebih efektif karena menyentuh langsung lingkungan pelaku.

Keempat, penegakan hukum tetap diperlukan, tetapi harus diiringi konsistensi dan inovasi. Teknologi seperti pemantauan berbasis kamera atau patroli digital dapat membantu mengantisipasi titik-titik rawan. Lebih dari itu, sanksi juga perlu dirancang agar memberikan efek jera sekaligus edukatif.

Pada akhirnya, membongkar praktik usang ini membutuhkan keberanian untuk keluar dari pola lama. Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi dan pengendalian diri, bukan justru ajang mempertaruhkan nyawa. Selama kita masih memandang balapan liar sebagai sekadar "kenakalan remaja musiman", selama itu pula fenomena ini akan terus berulang. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif bahwa setiap detik di jalan adalah soal keselamatan bersama, bukan arena eksistensi diri.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak