Bagaimana rasanya kehilangan sahabat baik? Terlebih bukan karena jarak ataupun jalan hidup individual, melainkan kematian.
Sesak dan kosong—hampa. Itulah yang dirasakan oleh Nakamura Chidori selepas menerima kabar kematian sahabatnya, Hashimoto Chihiro.
Pertama kali terbit pada tahun 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama, Alicia Lidwina menyajikan sebuah novel tentang eratnya tali persahabatan bertajuk 3 (Tiga).
Novel perdananya ini dapat membuat pembaca merasa seperti menikmati literatur terjemahan dari bahasa Jepang. Bukan hanya latar cerita dan nama tokohnya saja, melainkan alur yang dibawa serta riset mendukung juga.
Pada kata pengantar, Alicia Lidwina menyampaikan terima kasihnya kepada orang-orang yang membantu dalam riset terkait kultur, fakta, dan budaya Jepang.
Sinopsis Novel 3 (Tiga): Angka Sakral untuk Tiga Sahabat Baik
Diceritakan melalui sudut pandang Nakamura, selepas 7 tahun berpisah, dia kembali dengan fakta bahwa sahabatnya, Hashimoto, mati dengan dugaan bunuh diri.
Nakamura dituntun oleh inspektur kepolisian, berhubung nomornya dalam ponsel Hashimoto tertera sebagai emergency contact. Di tempat kejadian perkara, dia menyaksikan pesan kematian di atas gedung, yakni sebuah goresan lipstick bertuliskan angka 3 sebanyak tiga kali.
Inspektur kepolisian juga berkata bahwa dia sudah mencoba menghubungi Sakamoto, satu-satunya laki-laki dalam persahabatan mereka yang juga tertera sebagai emergency contact, tetapi sulit terkoneksi.
Barulah pada upacara pemakaman Hashimoto, Nakamura bertemu lagi dengan Sakamoto, lalu menangis sejadi-jadinya.
Sebuah ironi, persahabatan ketiganya meregang karena kurangnya komunikasi. Tujuh tahun lalu, Nakamura mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi, dia angkat kaki dari apartemen yang mereka bertiga sewa dan tinggali bersama tanpa satu kata pun.
Dia juga sengaja menyewa tempat tinggal lain yang jauh dari Hashimoto dan Sakamoto sekaligus mengganti nomor teleponnya.
Akan tetapi, keputusan itu beralasan. Dari sinilah memori-memori terkait masa lalu mulai terungkap. Dari pertemanan pertama dengan Hashimoto, pertukaran gantungan kunci dengan Hashimoto, terpendamnya rasa kagum terhadap Sakamoto, sampai impian ketiganya untuk membangun panti asuhan (lebih tepatnya, impian Hashimoto).
Hal-Hal Menarik dalam Novel 3 (Tiga)

Seperti sudah disinggung sebelumnya, membaca novel 3 (Tiga) membuat kita merasa seperti membaca literatur Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Nama tokoh, latar cerita, catatan kaki, bahkan "rasa" ketika membacanya juga. Kalau kamu sudah terbiasa terpapar sastra Jepang, membaca novel perdana Alicia Lidwina ini seolah mengenang pengalaman serupa.
Meskipun bab pertama dibuka dengan sangat kuat mengenai upacara pemakaman Hashimoto, cerita berangsur tenang karena dibawakan dengan alur maju-mundur, antara masa kini dan masa lalu (flashback).
Bagi sebagian pembaca, alur maju-mundur mungkin terasa membingungkan, apalagi jika tiap peristiwa dituliskan dengan tidak jelas (misalnya, latar tempat dan tahun kejadian).
Nah, di pojok kanan tiap awal bab, Alicia Lidwina menyisipkan lokasi serta latar tahun supaya pembaca tidak mengira-ngira dan bingung. Cobalah iseng-iseng mencocokkan tahun tertera dengan usia tokoh utama. Hal kecil ini menunjukkan ketelitian penulis yang patut diacungi jempol.
Tiga Tema Besar pada Novel 3 (Tiga)
Dari misteri kematian Hashimoto yang memunculkan banyak pertanyaan, sebenarnya buku ini tampak apa adanya: dituliskan lewat sudut pandang sahabat yang berduka dan kehilangan.
Tiap orang grieving dengan cara mereka sendiri dan Nakamura berduka dengan penyesalan. Hari-hari setelah pemakaman Hashimoto rasanya seperti neraka. Berkali-kali dia bertanya, "Apa yang salah sampai Hashimoto memilih untuk mengakhiri hidupnya?"
Berkali-kali pula Sakamoto meyakinkan bahwa kematian Hashimoto bukanlah kesalahan Nakamura. Namun, bagaimana bisa?
Ingatan Nakamura terus mereka ulang kejadian di masa lalu dan penyesalan itu akan kembali menyeruak masuk, sampai akhirnya jadi halusinasi. Dia mendapati bayangan Hashimoto mengikutinya. Mereka bertukar kata, bahkan bayangan Hashimoto seakan menuntun Nakamura pada alasannya mengakhiri hidup.
Ketika pertanyaan demi pertanyaan mulai terjawab itulah pembaca akan menyadari bahwa novel 3 (Tiga) bukan sekadar misteri dan teka-teki yang ditinggalkan, melainkan eratnya tali persahabatan sekaligus memaknai kematian dan kebebasan.
Kita akan menjadi saksi tiga sahabat yang melebihi pepatah blood is thicker than water, bahkan ketika mereka sama sekali tidak sedarah. Mulai dari bagaimana mereka selalu mendukung satu sama lain, selalu ada dan saling mengkhawatirkan, berbagi impian dan rangkulan, serta kegiatan domestik lainnya yang terasa intim secara spiritual.
Nakamura, Hashimoto, dan Sakamoto adalah potret pertemanan yang lolos tahap uji kecocokan. Meskipun demikian, ada beberapa okasi di mana mereka dideskripsikan "ketergantungan" terhadap satu sama lain. Mungkin, inilah yang disebut teman sejati itu? Kamu tidak akan menginginkan orang lain lagi, cukup mereka yang sudah ada saja.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana tokoh Hashimoto merepresentasikan kematian dan kebebasan. Bagi Nakamura, Hashimoto adalah enigma. Dia tidak mudah menuruti orang lain meskipun itu adalah gurunya sendiri; dia akan bercerita jika ingin, selebihnya memilih menutup mulut rapat-rapat. Ini juga yang menjadi fondasi ketidaktahuan Nakamura dan Sakamoto terkait alasan Hashimoto mengakhiri hidup, sampai akhirnya Nakamura mengingat sesuatu.
""Burung," jawab Hashimoto saat itu. "Kau tidak tahu? Mereka adalah makhluk yang paling dekat dengan langit."" (halaman 309)
Bukan sekadar 3 janji, bukan juga 3 sahabat yang mengejar mimpi, melainkan 3 ekor burung yang terbang bebas di langit.
Sekilas trivia, setelah benar-benar memahami tokoh Hashimoto lewat ingatan Nakamura, melihat sampul novel 3 (Tiga) tidak lagi terasa sama.
Secara keseluruhan, novel perdana Alicia Lidwina sangat berkesan dan cocok jadi pilihan pertama sebelum membaca karya-karyanya yang lain. Namun, karena topik yang dibawakan cukup berat, pastikan keadaan mentalmu sedang baik-baik saja supaya tidak terlalu mellow, berhubung dari awal sampai akhir novel 3 (Tiga) ini menguliti duka dan penyesalan.